Sesaat lagi...
Tinggal beberapa jam kedepan
Sang surya akan tenggelam di ujung malam
Meninggalkan berjuta – juta pesan
Kenang, kenanglah kami...
Selama kebersamaan ini
Kiranya akan menyimpan sejuta kenangan
Baik pahit maupun manisnya keadaan
Ingatkan engkau...
Saat kita tertawa lebar
Saat bersama bercengkrama
Menggapai mimpi dan meraih cita – cita
Saat ini
Jangan engkau tinggalkan pesan derita
Walaupun mungkin akan berlinang air mata
Selamat jalan kawan
Semoga cepat sampai tujuan
Habis ini kau jangan diam terpaku menatap bayangan
Dari sinilah Kau awali langkahmu untuk berjalan
Di akhir kebersamaan ini
Aku tak berharap banyak padamu
Aku hanya ingin di kenang
Kami tak mau engkau membalas jasa
Tapi juga tak ingin kau tercatat anak durhaka
Kenang, kenanglah Kami...
Mataram, Januari 2008
Translate
KATA PENERANG HIDUP
Inilah persinggahan untuk menuju keabadian
Mencapai surga melewati rimba belantara
Dan menuju neraka melintasi harum bunga – bunga
Setiap bait, ayat dan surat itu sebuah sabda
Penuntun hidup umat manusia
Bukan sebuah syair tak berguna
Ataupun ungkapan – ungkapan tak bermakna
Itu sebagai penuntun jalan
Bagi seluruh umat
Sebagai penerang saat gelap menerjang
Saat melewati lembar demi lembar kehidupan
Sejak pertama kali di wahyukan kepada Muhammad kekasih Allah
Dari awal kata BACALAH
Hingga ke setiap generasi anak manusia
Akan kekal hingga akhir dunia
Tak akan berubah walau sepatah kata
Kaena itulah sebuah sabda, perintah dan petunjuk dari Allah kepada umatnya
Sebuah kitab suci penyejuk hati
Bacalah, pahamilah dan amalkanlah
Baik saat kau tidur dan terjaga
Karena itulah pegangan untuk meraih Surga.
Mataram, Septermber 2008
Mencapai surga melewati rimba belantara
Dan menuju neraka melintasi harum bunga – bunga
Setiap bait, ayat dan surat itu sebuah sabda
Penuntun hidup umat manusia
Bukan sebuah syair tak berguna
Ataupun ungkapan – ungkapan tak bermakna
Itu sebagai penuntun jalan
Bagi seluruh umat
Sebagai penerang saat gelap menerjang
Saat melewati lembar demi lembar kehidupan
Sejak pertama kali di wahyukan kepada Muhammad kekasih Allah
Dari awal kata BACALAH
Hingga ke setiap generasi anak manusia
Akan kekal hingga akhir dunia
Tak akan berubah walau sepatah kata
Kaena itulah sebuah sabda, perintah dan petunjuk dari Allah kepada umatnya
Sebuah kitab suci penyejuk hati
Bacalah, pahamilah dan amalkanlah
Baik saat kau tidur dan terjaga
Karena itulah pegangan untuk meraih Surga.
Mataram, Septermber 2008
STRATEGI DALAM PARODI
Korupsi harus di basmi
Seperti memanggang ubi dalam jerami
Jangan dibiarkan terus bersemi
Dalam wajah bumi pertiwi
Kemiskinan harus dilawan
Seperti semangat makan durian
Yang beda haluan mari menjadi kawan
Bersama menyongsong masa depan
Teroris, pengacau harus di sikat
Seperti segarnya minum jus alvokat
Kita buat pertiwi kuat
Biar sulit dihancurkan dari udara laut dan darat
Pengangguran harus di musnahkan
Seperti lezatnya memanggang ikan
Biar Rakyat terlepas dari beban
Hingga gelandangan bisa jadi juragan
Narkoba jangan di coba
Kita harus punya aba-aba
Agar Bangsa sehat bersih tidak ternoda
Seperti tuntutan seorang hamba
Sekian bagan pesar dan kesan
Sebuah kiasan seniman jalanan
Mataram, Oktober 2008
Seperti memanggang ubi dalam jerami
Jangan dibiarkan terus bersemi
Dalam wajah bumi pertiwi
Kemiskinan harus dilawan
Seperti semangat makan durian
Yang beda haluan mari menjadi kawan
Bersama menyongsong masa depan
Teroris, pengacau harus di sikat
Seperti segarnya minum jus alvokat
Kita buat pertiwi kuat
Biar sulit dihancurkan dari udara laut dan darat
Pengangguran harus di musnahkan
Seperti lezatnya memanggang ikan
Biar Rakyat terlepas dari beban
Hingga gelandangan bisa jadi juragan
Narkoba jangan di coba
Kita harus punya aba-aba
Agar Bangsa sehat bersih tidak ternoda
Seperti tuntutan seorang hamba
Sekian bagan pesar dan kesan
Sebuah kiasan seniman jalanan
Mataram, Oktober 2008
DUKA
Kemana lagi Ku harus berpijak
Disini Aku tenggelam
Kesana Aku Mengerang
Kemanapun Ku pasti karam
Tempatku bermain dan menari
Tempatku berteduh dan tumbuh
Tempatku mengais rizki dan menanak nasi
Dan tempatku belajar dan berhayal
Kini Ku lihat rupa kelam
Tampilan muka suram
Saat kesana kemari dia meluber
Muncul tampa ada yang bisa menghalangi
Ternyata lumpur telah merubah segalanya
Telah menghancurkan rumahku dan mata pencaharianku
Apa yang salah dengan tempat ini?
Yang Ku tau hanya Tuhan yang tau.
Mataram, 2008
Disini Aku tenggelam
Kesana Aku Mengerang
Kemanapun Ku pasti karam
Tempatku bermain dan menari
Tempatku berteduh dan tumbuh
Tempatku mengais rizki dan menanak nasi
Dan tempatku belajar dan berhayal
Kini Ku lihat rupa kelam
Tampilan muka suram
Saat kesana kemari dia meluber
Muncul tampa ada yang bisa menghalangi
Ternyata lumpur telah merubah segalanya
Telah menghancurkan rumahku dan mata pencaharianku
Apa yang salah dengan tempat ini?
Yang Ku tau hanya Tuhan yang tau.
Mataram, 2008
KENDALI MODERNISASI
Dulu dipinggiran desa ini
Jauh ke belakang kendali modernisasi
Ada jarak lengang hinggap terngiang
Berdebu hanya saat kaki – kaki kuda melintas
Atau saat truk pengangkut gabah hasil sawah
Kini seolah tak ada jarak
Tiap detik kian berisik
Tak sabaran, ringan mulut dan tangan
Hingga jurus – jurus warisan nenek moyang di tunjukkan
Bulu – bulu mata naik Frontal
Gaduh, penat, keringat berderai
Kulit usang mukapun garang
Mataram, 2 Oktober 2008
Jauh ke belakang kendali modernisasi
Ada jarak lengang hinggap terngiang
Berdebu hanya saat kaki – kaki kuda melintas
Atau saat truk pengangkut gabah hasil sawah
Kini seolah tak ada jarak
Tiap detik kian berisik
Tak sabaran, ringan mulut dan tangan
Hingga jurus – jurus warisan nenek moyang di tunjukkan
Bulu – bulu mata naik Frontal
Gaduh, penat, keringat berderai
Kulit usang mukapun garang
Mataram, 2 Oktober 2008
MENCOBA BERSUARA
Bapak...
Ini Ku katakan dan ku ceritakan
Tentang jerit hati, Ku takut mati
Ku lihat dengan mata telanjang
Dipedalaman rimba sana
Sebagian mulus terbakar dan tumbang
Paku – paku bumi hilang
Penahan air saat hujan di babat liar
Bapak...
Tolonglah Aku, lakukan sesuatu
Aku tidak siap tenggelam
Ataupun tertimbun reruntuhan
Aku gerah dengan keadaan
Saat langit menangis aku tenggelam
Dan saat ia tertawa
Aku menjerit kelaparan
Mataram, 2 Oktober 2008
Ini Ku katakan dan ku ceritakan
Tentang jerit hati, Ku takut mati
Ku lihat dengan mata telanjang
Dipedalaman rimba sana
Sebagian mulus terbakar dan tumbang
Paku – paku bumi hilang
Penahan air saat hujan di babat liar
Bapak...
Tolonglah Aku, lakukan sesuatu
Aku tidak siap tenggelam
Ataupun tertimbun reruntuhan
Aku gerah dengan keadaan
Saat langit menangis aku tenggelam
Dan saat ia tertawa
Aku menjerit kelaparan
Mataram, 2 Oktober 2008
POTRET WAKTU
Dari hari ke hari
Dengan kidung belalang di daun padi
Celoteh bising siang mengering
Milik siapa pasir putih itu?
Pengikat janji petang berganti
Angin tak mau lagi searah dengan kata hati
Biar bersiul habis, hingga liur terkikis
Kau tak iba, tak segan dan tak rasa
Liurku sudah pekat rasa cuka
Kau ceritakan padaku ini luar biasa
Sebuah level baru yang membelalakkan mata
Saat perut telah keriuk perih
Menanti sesuap nasi yang gurih
Ingin Ku telanjangi satu persatu
Para Ibu yagn berhias diserambi itu
Kan kucopot kalung, cincin dan gelang
Yang menempel pada leher, jari dan lengan
Di dekat sumur tua tepi benua
Aku mengusap air mata
Ku lihat potret kejam
Saat mereka mengencangkan ikat pinggang
Jangan biarkan dan telanjarkan jasadku
Dari ragam warna dan harum bunga
Instingku mengatakan Ia, ini dia
Pilihan hati yagn ingin segera tercipta
Mataram, 2006
Dengan kidung belalang di daun padi
Celoteh bising siang mengering
Milik siapa pasir putih itu?
Pengikat janji petang berganti
Angin tak mau lagi searah dengan kata hati
Biar bersiul habis, hingga liur terkikis
Kau tak iba, tak segan dan tak rasa
Liurku sudah pekat rasa cuka
Kau ceritakan padaku ini luar biasa
Sebuah level baru yang membelalakkan mata
Saat perut telah keriuk perih
Menanti sesuap nasi yang gurih
Ingin Ku telanjangi satu persatu
Para Ibu yagn berhias diserambi itu
Kan kucopot kalung, cincin dan gelang
Yang menempel pada leher, jari dan lengan
Di dekat sumur tua tepi benua
Aku mengusap air mata
Ku lihat potret kejam
Saat mereka mengencangkan ikat pinggang
Jangan biarkan dan telanjarkan jasadku
Dari ragam warna dan harum bunga
Instingku mengatakan Ia, ini dia
Pilihan hati yagn ingin segera tercipta
Mataram, 2006
BAYANG - BAYANG
Kuredupkan lampu alam yang kian menyengat tulang
Dari sudut langit ketujuh
Asappun telah sirna terperangkap sunyi
Angin hanya melambai, menyeret selendang bidadari
Bayangan dalam kehidupan semakin gelap
Tuhan membuat cahaya itu indah
Tapi mengapa makhluk suka dengan kegelapan?
Semua jalan dilalui
Merangkak, bermain dengan bunga dan duri
Menghiasi alur cerita hidup ini
Ketika saatnya tiba
Dan menanyakan bagian terdalam dari hati manusia
Bintangpun berteriak maling padaku
Yang berusaha mengambil cincin permata, yamg menempel pada jari kaki dewa
Ku telusuri garis pinggir jalan
Berharap banyak dari apa yang kulakukan
Masih tercatat baik dalam buku harian Tuhan
Mataram, 1 Oktober 2004
Dari sudut langit ketujuh
Asappun telah sirna terperangkap sunyi
Angin hanya melambai, menyeret selendang bidadari
Bayangan dalam kehidupan semakin gelap
Tuhan membuat cahaya itu indah
Tapi mengapa makhluk suka dengan kegelapan?
Semua jalan dilalui
Merangkak, bermain dengan bunga dan duri
Menghiasi alur cerita hidup ini
Ketika saatnya tiba
Dan menanyakan bagian terdalam dari hati manusia
Bintangpun berteriak maling padaku
Yang berusaha mengambil cincin permata, yamg menempel pada jari kaki dewa
Ku telusuri garis pinggir jalan
Berharap banyak dari apa yang kulakukan
Masih tercatat baik dalam buku harian Tuhan
Mataram, 1 Oktober 2004
SUNGAIKU HIDUPKU
Sungaiku...
Tempat membakar mimpi-mimpi semu
Setiap bangkai hanya berlalu
Dari isak tangisku
Mengalir kemna-mana
Membelok keselatan atau ke utara
Bahkan ke yang tak pernah ada
Dari akarnya yang jauh disana
Air mengalir jernih, kadang keruh dan bau
Dari masa kemasa
Memberi nafas membunuh mangsa
Sungaiku...
Sepatah dari urat bumi yang telah lelah
Yang setiap saat muntah ketengah
Bila lelah, aliran pekat tersumbat
Tulang, tusuk dan sampah
Saat musim hujan tiba, dan semua asnyik berludah
Membang sampah, memotong arah
Tawa bocah terpatah ditengah
Teriakku mengusir gelisah
Yang terdekat dari garis pinggirnya
Selalu terjaga, kantuk penat kian melesat
Jantungpun berdetak hebat
Sewaktu-waktu mengajak untuk beranjak
Sungaiku tercinta, tinggal cerita...
Mataram, April 2005
Tempat membakar mimpi-mimpi semu
Setiap bangkai hanya berlalu
Dari isak tangisku
Mengalir kemna-mana
Membelok keselatan atau ke utara
Bahkan ke yang tak pernah ada
Dari akarnya yang jauh disana
Air mengalir jernih, kadang keruh dan bau
Dari masa kemasa
Memberi nafas membunuh mangsa
Sungaiku...
Sepatah dari urat bumi yang telah lelah
Yang setiap saat muntah ketengah
Bila lelah, aliran pekat tersumbat
Tulang, tusuk dan sampah
Saat musim hujan tiba, dan semua asnyik berludah
Membang sampah, memotong arah
Tawa bocah terpatah ditengah
Teriakku mengusir gelisah
Yang terdekat dari garis pinggirnya
Selalu terjaga, kantuk penat kian melesat
Jantungpun berdetak hebat
Sewaktu-waktu mengajak untuk beranjak
Sungaiku tercinta, tinggal cerita...
Mataram, April 2005
PULANGLAH PADA_NYA
Hanya sedikit rasa, sedikit asa
Yang terdengar
Untuk mengagungkan
Nya yagn mencipta
Pemberi kehidupan dari segala ruang dan sudut pandang
Kini...
Sebagian telah terlupakan
Bahkan telah jauh dari_Nya
Demi sebuah harga diri
Tak ada terjaga dan datang padanya
Mereka semakin jauh saja
Tampa sadar, itu semua ujian
Bila dirasa dan dicerna
Anugerah berlimpah melebihi kapasitas otak
Tapi otak tinggal otak
Tubuh tinggal tulang yang hanya akan menjadi arang
Saat kelak murkanya datang
Pulanglah pada_Nya
Mataram, 14 April 2005
Yang terdengar
Untuk mengagungkan
Nya yagn mencipta
Pemberi kehidupan dari segala ruang dan sudut pandang
Kini...
Sebagian telah terlupakan
Bahkan telah jauh dari_Nya
Demi sebuah harga diri
Tak ada terjaga dan datang padanya
Mereka semakin jauh saja
Tampa sadar, itu semua ujian
Bila dirasa dan dicerna
Anugerah berlimpah melebihi kapasitas otak
Tapi otak tinggal otak
Tubuh tinggal tulang yang hanya akan menjadi arang
Saat kelak murkanya datang
Pulanglah pada_Nya
Mataram, 14 April 2005
PERGI
Kadung dirundung balutan warna
Dalam geliat bahasa jiwa
Daun jendela terbuka setengah
Ini tak bisa Ku bungkam
Semuanya ingin Ku teriakkan
Ku katakan dengan ini Ku Mengerti
Untuk menguak seluruh isi bumi
Gemercik apik api mencekik
Bola-bola air berdesir
Desahan angin menampar mukaku
Mencubit daun telingaku
BatinKu menggebu dan Aku makin menggerutu
Semua akan bertambah tua
Juga dunia
Biar sudah Ku pergi
Dengan gari merah di telapak kaki
Yang akan berbekas pada kulit bumi
Mataram, 14 April 2005
Dalam geliat bahasa jiwa
Daun jendela terbuka setengah
Ini tak bisa Ku bungkam
Semuanya ingin Ku teriakkan
Ku katakan dengan ini Ku Mengerti
Untuk menguak seluruh isi bumi
Gemercik apik api mencekik
Bola-bola air berdesir
Desahan angin menampar mukaku
Mencubit daun telingaku
BatinKu menggebu dan Aku makin menggerutu
Semua akan bertambah tua
Juga dunia
Biar sudah Ku pergi
Dengan gari merah di telapak kaki
Yang akan berbekas pada kulit bumi
Mataram, 14 April 2005
DATANG
Hari ini tak lagi saat
Bukan sebelas tahun yang lalu
Yang jadi paruh pertama
Penyembur api ini
Dalam lingkaranmu Ku coba andil bagian
Untuk mendramatisasi waktu
Adakah tempat untuk berteduh
Berlindung dari kemunculanku
Aku datang
Tercipta dari bayang-bayang lalu
Dan tak mau tau, biar tak enak
Dan bukan untuk sejenak
Seperti embun di pagi
Yagn sejenak bersemi
Sebelum sirna, terhisap fajar pagi
Ku ingin menjadi baru
Dan menggema sepanjang waktu
Seiring dengan tumbuhnya masa
Hingga akhir nafas dunia
Mataram, 14 April 2005
Bukan sebelas tahun yang lalu
Yang jadi paruh pertama
Penyembur api ini
Dalam lingkaranmu Ku coba andil bagian
Untuk mendramatisasi waktu
Adakah tempat untuk berteduh
Berlindung dari kemunculanku
Aku datang
Tercipta dari bayang-bayang lalu
Dan tak mau tau, biar tak enak
Dan bukan untuk sejenak
Seperti embun di pagi
Yagn sejenak bersemi
Sebelum sirna, terhisap fajar pagi
Ku ingin menjadi baru
Dan menggema sepanjang waktu
Seiring dengan tumbuhnya masa
Hingga akhir nafas dunia
Mataram, 14 April 2005
WAKIL RAKYAT
Mereka...wakil kita
Penampung inspirasi dan suara hati
Keluhan dan rintihan di bela sangat
Saat semua mendesak mereka
Mengangkat dan memperjuangkan nasib rakyat
Mereka bersuara...kasihan rakyat
Tapi kini
Merekalah yang layak dikasihani
Mereka yang mau saling meludahi
Dimeja perundingan masih ribut
Seluruh Rakyat dibikin berkerut, tidak ada rasa malu
Saat otot saling beradu
Masalah bukannya selesai malah terbengkalai
Tak ada sinar wibawa
Kasihan mereka yagn krisis hati
Para wakil kita yang tak murni lulus seleksi
Mataram, 16 Maret 2005
Penampung inspirasi dan suara hati
Keluhan dan rintihan di bela sangat
Saat semua mendesak mereka
Mengangkat dan memperjuangkan nasib rakyat
Mereka bersuara...kasihan rakyat
Tapi kini
Merekalah yang layak dikasihani
Mereka yang mau saling meludahi
Dimeja perundingan masih ribut
Seluruh Rakyat dibikin berkerut, tidak ada rasa malu
Saat otot saling beradu
Masalah bukannya selesai malah terbengkalai
Tak ada sinar wibawa
Kasihan mereka yagn krisis hati
Para wakil kita yang tak murni lulus seleksi
Mataram, 16 Maret 2005
KU INGIN KAU TAU
Ku ingin selalu terinspirasi
Oleh setiap bisikan angin
Yang selalu menerpa daun telingaku
Biar Aku tidak resah
Saat berada disampingmu
Hingga apa yang kita ingini terwujud
Bersama kita duduk sedatar dengan tanah
Dan berdiri sejajar dengan langit
Saat itulah Ku katakan padamu
Aku tercipta disini untuk selalu mengasihi
Karena hanya itu yang bisa Ku beri
Kasih dan sayang dalam damai jiwa
Yang megalir perlahan dalam darah cinta
Mataram, Maret 2005
Oleh setiap bisikan angin
Yang selalu menerpa daun telingaku
Biar Aku tidak resah
Saat berada disampingmu
Hingga apa yang kita ingini terwujud
Bersama kita duduk sedatar dengan tanah
Dan berdiri sejajar dengan langit
Saat itulah Ku katakan padamu
Aku tercipta disini untuk selalu mengasihi
Karena hanya itu yang bisa Ku beri
Kasih dan sayang dalam damai jiwa
Yang megalir perlahan dalam darah cinta
Mataram, Maret 2005
BILA KAU DI DEKATKU
Bila Ku kenang awal pertemuan kita
Semenjak pertama kali jiwaku telah mengenal sosok asingmu
Dan hingga kini
Telah jauh sudah kita melangkah
Menghiasi hari-hari yang terus berganti
Tampa lelah untuk melangkah
Bila kau selalu didekatku
Aku merasa
Ada rasa yang lebih dari sekedar rasa cinta
Rasa haru, sedih dan rasa percaya saat kita tertawa lebar
Seakan semu itu hanya tercipta
Pada dan hanya kita
Tak ada tempat untuk mereka
Hany seberkas cahaya yang terpancar
Menerangi setiap waktu yang terus-menerus tiada henti
Dan hingga kini, kita sampai pada ujung sebuah mimpi
Mataram, Maret 2005
Semenjak pertama kali jiwaku telah mengenal sosok asingmu
Dan hingga kini
Telah jauh sudah kita melangkah
Menghiasi hari-hari yang terus berganti
Tampa lelah untuk melangkah
Bila kau selalu didekatku
Aku merasa
Ada rasa yang lebih dari sekedar rasa cinta
Rasa haru, sedih dan rasa percaya saat kita tertawa lebar
Seakan semu itu hanya tercipta
Pada dan hanya kita
Tak ada tempat untuk mereka
Hany seberkas cahaya yang terpancar
Menerangi setiap waktu yang terus-menerus tiada henti
Dan hingga kini, kita sampai pada ujung sebuah mimpi
Mataram, Maret 2005
BUMI TAK BERPENGHUNI
Cinta segala cinta
Kasih seluruh kasih
Persahabatan telah musnah
Rasa cinta berubah murka
Gunung dan debu bergolak
Semua yang jinak berubah galak
Sampah rupanya telah lelah
Gelombang lautpun kian mendesah
Mangsapun berguguran
Sejenak Ku melihat tangan Tuhan
Akan menampar wajahku
Dari mana kan timbul embun pagi
Bila hijau bumiku telah pergi
Oleh orang yagn membuat mereka mati
Mungkinkan kelak bumi ini berubah fingsi
Menjadi pulau besar tak berpenghuni
Hanya tumpukan sampah yang membumbung tinggi
Mataram, Februari 2005
Kasih seluruh kasih
Persahabatan telah musnah
Rasa cinta berubah murka
Gunung dan debu bergolak
Semua yang jinak berubah galak
Sampah rupanya telah lelah
Gelombang lautpun kian mendesah
Mangsapun berguguran
Sejenak Ku melihat tangan Tuhan
Akan menampar wajahku
Dari mana kan timbul embun pagi
Bila hijau bumiku telah pergi
Oleh orang yagn membuat mereka mati
Mungkinkan kelak bumi ini berubah fingsi
Menjadi pulau besar tak berpenghuni
Hanya tumpukan sampah yang membumbung tinggi
Mataram, Februari 2005
BIRU LANGIT PAGI
I
Usai malam, pagipun datang
Sang surya terjaga seperti sediakala
Tak ada yang asing dengan hari ini
Semua berlalu menurut pada janji
Detik itupun datang
Bumi berguncang
Langitpun terpejam
Suara gemuruh siam menerkam
II
Awanpun bermuka garang
Terhimpit dalam sudut mati
Kabut biru bertambah lesu
Hitam pekat datang menyerbu
Air laut tersentak kaget
Bagaikan sebuah komando perang dari atasan
Sekejap seluruh ruang semrawut
Semua tergopoh-gopoh
Bahpun datang menerjang
Menghempaskan semua penghalang
Seiring dengan itu roh-rohpun melayang
III
Nafsu mati dan terhenti
Ini semuah murka
Dari sang penguasa segala rasa
Tak ada yang tersisa
Hanya meninggalkan pesan derita
Ini kukabarkan berita duka
Dari ujung barat pulau Indonesia
Mataram, 26 Desember 2004
Usai malam, pagipun datang
Sang surya terjaga seperti sediakala
Tak ada yang asing dengan hari ini
Semua berlalu menurut pada janji
Detik itupun datang
Bumi berguncang
Langitpun terpejam
Suara gemuruh siam menerkam
II
Awanpun bermuka garang
Terhimpit dalam sudut mati
Kabut biru bertambah lesu
Hitam pekat datang menyerbu
Air laut tersentak kaget
Bagaikan sebuah komando perang dari atasan
Sekejap seluruh ruang semrawut
Semua tergopoh-gopoh
Bahpun datang menerjang
Menghempaskan semua penghalang
Seiring dengan itu roh-rohpun melayang
III
Nafsu mati dan terhenti
Ini semuah murka
Dari sang penguasa segala rasa
Tak ada yang tersisa
Hanya meninggalkan pesan derita
Ini kukabarkan berita duka
Dari ujung barat pulau Indonesia
Mataram, 26 Desember 2004
MENTARI
Kurajut waktu yang kian melang-lang jauh
Serentak dengan kicauan sang surya
Yang bertengger mengitari dunia
Saat dia hilang lenyap di ujung sana
Seakan siang terpatah
Tapi kemudian terjaga kembali
Ketika senyumnya terlihat dari balik kabut pagi
Mataram, 10 Desember 2004
Serentak dengan kicauan sang surya
Yang bertengger mengitari dunia
Saat dia hilang lenyap di ujung sana
Seakan siang terpatah
Tapi kemudian terjaga kembali
Ketika senyumnya terlihat dari balik kabut pagi
Mataram, 10 Desember 2004
SEBUAH GORESAN
Sebab Ku tercipta disini
Oleh selembut kasih dipadang sunyi
Saat nenek moyangku lari kedasar bumi
Tampa meninggalkan sebuah mimpi
Entah untuk siapa goresan ini
Tinta-tinta ini menetes menuruti kata hati
Batin ini akan menunggu kabut tebal
Yang suatu saat melebur berderai
Ini sebuah karya mati yang terkunci
Rasa penat sungguh sangat
Jeruji ini tak sebesar jari jemari
Andai begitu kupatahkan dan berlari
Aku mungkin bisa menjilat
Hingga nanti usiaku jauh melesat
Meninggalkan angka, mengakhiri abad
Mataram, 28 September 2004
Oleh selembut kasih dipadang sunyi
Saat nenek moyangku lari kedasar bumi
Tampa meninggalkan sebuah mimpi
Entah untuk siapa goresan ini
Tinta-tinta ini menetes menuruti kata hati
Batin ini akan menunggu kabut tebal
Yang suatu saat melebur berderai
Ini sebuah karya mati yang terkunci
Rasa penat sungguh sangat
Jeruji ini tak sebesar jari jemari
Andai begitu kupatahkan dan berlari
Aku mungkin bisa menjilat
Hingga nanti usiaku jauh melesat
Meninggalkan angka, mengakhiri abad
Mataram, 28 September 2004
KASIH ALAM
Dialah yang terkasih kasihan
Erangan dikelam sunyi tidak terjawab
Denting hati hanya berlalu bisu
Menurut pada tingkah waktu yang semau-mau
Bila kau lari beringas
Seluruh nafas kau buang naas
Kedalam jurang, menggema jerit sesal
Yang tak memberi kasih padamu Alam
Semuanya akan lengang
Bila esok kasihmu padam
Jutaan akan musnah tak ada pegangan
Mataram,4 September 2004
Erangan dikelam sunyi tidak terjawab
Denting hati hanya berlalu bisu
Menurut pada tingkah waktu yang semau-mau
Bila kau lari beringas
Seluruh nafas kau buang naas
Kedalam jurang, menggema jerit sesal
Yang tak memberi kasih padamu Alam
Semuanya akan lengang
Bila esok kasihmu padam
Jutaan akan musnah tak ada pegangan
Mataram,4 September 2004
SEJUTA MIMPI
Lewat goresan ini
Ku tumpahkan seluruh isi bumi
Saat sejuta mimpi dan rinduku pada Ilahi
Yang tak kunjung Ku temui
Kesana jejak kakiku melangkah
Angin datang mengadu padaku
Kuharap kabar tentang harapku
Hanya berkeluh kesah dipangkuanku
Kusebar mimpiku
Dari delapan penjuru mata angin
Berharap satu dari semu itu
Tersangkut rerimbunan pohon yang tau
Mataram, 15 Agustus 2004
Ku tumpahkan seluruh isi bumi
Saat sejuta mimpi dan rinduku pada Ilahi
Yang tak kunjung Ku temui
Kesana jejak kakiku melangkah
Angin datang mengadu padaku
Kuharap kabar tentang harapku
Hanya berkeluh kesah dipangkuanku
Kusebar mimpiku
Dari delapan penjuru mata angin
Berharap satu dari semu itu
Tersangkut rerimbunan pohon yang tau
Mataram, 15 Agustus 2004
TEKA TEKI
Surga tak jauh jika kau dekati
Neraka takkan dekat bila kau jauhi
Hidup adalah teka teki
Mendatar dan menurun adalah tantangan Ilahi
Hamba terlahir tidak bodoh dan tuli
Hanya mereka saja yang mempersusah diri
Berbuat yang tidak di Ridhoi
Dan akhirnya akan menyesal dikemudian hari
Yang telah jauh
Pulanglah padanya
Ini sat kau belum terlambat
Sebelum nantinya engkau tersesat
Mataram, 15 Juli 2004
Neraka takkan dekat bila kau jauhi
Hidup adalah teka teki
Mendatar dan menurun adalah tantangan Ilahi
Hamba terlahir tidak bodoh dan tuli
Hanya mereka saja yang mempersusah diri
Berbuat yang tidak di Ridhoi
Dan akhirnya akan menyesal dikemudian hari
Yang telah jauh
Pulanglah padanya
Ini sat kau belum terlambat
Sebelum nantinya engkau tersesat
Mataram, 15 Juli 2004
JANJI HATI
Yang datang dan yang menghilang
Kini masih terjerat oleh waktu
Kata ini kan hidup di usia senja
Saat yang telah basah punah tertelan mangsa
Suatu masa akan datang, ketika perut telah keriuk
Satu penjuru angin baru kan tercipta
Saat daging ini telah...
Bingkai-bingkai kan pecah
Yang kan mendengarkan kelak, dengarlah
Ini kumulai dari huruf A
Atas namaku dan
Atas peruntunganku
Mataram, 24 April 2004
Kini masih terjerat oleh waktu
Kata ini kan hidup di usia senja
Saat yang telah basah punah tertelan mangsa
Suatu masa akan datang, ketika perut telah keriuk
Satu penjuru angin baru kan tercipta
Saat daging ini telah...
Bingkai-bingkai kan pecah
Yang kan mendengarkan kelak, dengarlah
Ini kumulai dari huruf A
Atas namaku dan
Atas peruntunganku
Mataram, 24 April 2004
PASRAH
Wahai angin datanglah
Bawa aku terbang enyah
Lemparkan tubuhku yang hina ini
Dijalannya yang sungguh suci
Wahai ombak dan badai
Mendekatlah kemari
Jangan hanya bergerombol ditengah saja
Hempaskan ragaku di karang sana
Wahai matahari
Jangan hanya menggantung disitu
Sengatlah aku dengan cahaya panasmu
Biar menggelepar, terkapar
Mungkin setelah itu
Tidak ada yang tau
Tentang kabar dan deritaku
Mataram, 9 Agustus 2004
Bawa aku terbang enyah
Lemparkan tubuhku yang hina ini
Dijalannya yang sungguh suci
Wahai ombak dan badai
Mendekatlah kemari
Jangan hanya bergerombol ditengah saja
Hempaskan ragaku di karang sana
Wahai matahari
Jangan hanya menggantung disitu
Sengatlah aku dengan cahaya panasmu
Biar menggelepar, terkapar
Mungkin setelah itu
Tidak ada yang tau
Tentang kabar dan deritaku
Mataram, 9 Agustus 2004
PENGAKUAN
Kuusung resahku keseberang sana
Kesemua tempat hembusan nafas
Tak ada yang mau mendengar
Tak ada yang peduli dan mau mengerti
Kemana aku harus berlari
Sementara disana....
hanya ada sang bidadari
Yang sedang asyik duduk dikursi besi
Dikelilingi punggawa yang sedang merusak peti mati
Jika semua makhluk tidak mau mengakui
Keberadaanku yang asing dibumi ini
Biarlah kuakui diriku sendiri
Dalam duniaku, jiwaku,
dan dalam keasinganku
Mataram, 8 Agustus 2004
Kesemua tempat hembusan nafas
Tak ada yang mau mendengar
Tak ada yang peduli dan mau mengerti
Kemana aku harus berlari
Sementara disana....
hanya ada sang bidadari
Yang sedang asyik duduk dikursi besi
Dikelilingi punggawa yang sedang merusak peti mati
Jika semua makhluk tidak mau mengakui
Keberadaanku yang asing dibumi ini
Biarlah kuakui diriku sendiri
Dalam duniaku, jiwaku,
dan dalam keasinganku
Mataram, 8 Agustus 2004
BURUNG - BURUNG JALAK
Telah jelas tersirat
Semua terlukis habis
Siapapun tak bisa menutup mata
Kejayaan lalu semua terkikis
Kini Negeriku telah bau amis
Seluruh titipan untuk bekal mendatang
Kado untuknya yang masih menggumpal
Hilang dan sirna dengan perlahan
Ketika tiba saatnya nanti
Saat mereka baru melihat bumi
Meratap dan berharap
Dan harus siap menaggung beban
Kini aku dalam masaku
Satu dari jutaan turunan
Sedang merintih dan menangis
Karena harus jadi pengemis
Kemana larinya isi perutku
Tak bisa kuraba, kulihat dan kuhisap
Semuanya terbang
Terbawa angin entah kemana
Segalanya telah dipatuk burung jalak
Jalak – jalak liar
Dan hanya menyisakan kulit luar
Sebelum aku sempat mencicipinya
Mataram, 1 April 2004
Semua terlukis habis
Siapapun tak bisa menutup mata
Kejayaan lalu semua terkikis
Kini Negeriku telah bau amis
Seluruh titipan untuk bekal mendatang
Kado untuknya yang masih menggumpal
Hilang dan sirna dengan perlahan
Ketika tiba saatnya nanti
Saat mereka baru melihat bumi
Meratap dan berharap
Dan harus siap menaggung beban
Kini aku dalam masaku
Satu dari jutaan turunan
Sedang merintih dan menangis
Karena harus jadi pengemis
Kemana larinya isi perutku
Tak bisa kuraba, kulihat dan kuhisap
Semuanya terbang
Terbawa angin entah kemana
Segalanya telah dipatuk burung jalak
Jalak – jalak liar
Dan hanya menyisakan kulit luar
Sebelum aku sempat mencicipinya
Mataram, 1 April 2004
INDAHNYA PAGI
Selamat datang mentari
Apa kabarmu dipagi ini
Bagaimana mimpimu semalam
Masihkah kau mau bersahabat denganku?
Udara segar seakan menambah umur
Kau kencangkan ototku yang telah kendur
Teruslah begitu
Agar aku tidak jemu
Katakan pada mereka yang masih berkumbur
Orang – orang yang masih mendengkur
Sungguh itu semua
Adalah orang – orang yang merugi
Karena tidak bisa unjuk gigi
Merasakan wanginya tubuhmu yang masih suci
Mataram, Februari 2004
Apa kabarmu dipagi ini
Bagaimana mimpimu semalam
Masihkah kau mau bersahabat denganku?
Udara segar seakan menambah umur
Kau kencangkan ototku yang telah kendur
Teruslah begitu
Agar aku tidak jemu
Katakan pada mereka yang masih berkumbur
Orang – orang yang masih mendengkur
Sungguh itu semua
Adalah orang – orang yang merugi
Karena tidak bisa unjuk gigi
Merasakan wanginya tubuhmu yang masih suci
Mataram, Februari 2004
GENDERANG REFORMASI
Mari bung, bergabung disini
Bersama kami yang rindu akan kebebasan
Biar kita isi semua bidik dan balai
Yang telah lama terbengkalai
Rebut kembali hijaunya bumi pertiwi
Biar semua merasakan, semua mencicipi
Apa yang telah mereka perbuat dan sikat
Selama berabad – abad yang telah lewat
Kucilkan mereka yang hanya berkata dalam ilusi
Tunjukkan bahwa kita perlu bukti
Cukup sudah kita tertekan
Dari mengambangnya keadaan
Mari tunjukkan nyali
Giliran kita memegang kendali
Waktunya hidup dalam kebebasan
Jangan takut ! Karena kita bukan pengecut
Semua boleh angkat bicara
Petani, pegawai, pejabat, nelayan semua
Bahan baku kita sama...kawan
Mataram, .......1998
Bersama kami yang rindu akan kebebasan
Biar kita isi semua bidik dan balai
Yang telah lama terbengkalai
Rebut kembali hijaunya bumi pertiwi
Biar semua merasakan, semua mencicipi
Apa yang telah mereka perbuat dan sikat
Selama berabad – abad yang telah lewat
Kucilkan mereka yang hanya berkata dalam ilusi
Tunjukkan bahwa kita perlu bukti
Cukup sudah kita tertekan
Dari mengambangnya keadaan
Mari tunjukkan nyali
Giliran kita memegang kendali
Waktunya hidup dalam kebebasan
Jangan takut ! Karena kita bukan pengecut
Semua boleh angkat bicara
Petani, pegawai, pejabat, nelayan semua
Bahan baku kita sama...kawan
Mataram, .......1998
SEBUAH PERSINGGAHAN
Kami yang kini terdampar dinegeri orang
Meninggalkan kampung halaman
Terpisah dari buah hati
Demi mendapatkan sesuap nasi
Tiga tahun dari usia kami
Telah terbuang dinegeri jiran
Siang dan malam membanting tulang
Bermandikan keringat dan airmata
Apa kabarmu Negeriku disana
Masihkan kau seperti dulu
Kami rindu senyummu
Dengarlah kami yang kian penat
Sebagian menggelepar
Saat ujung cambuk mengepal meremukkan tulang
Kami tidak salah
Hanya nasib yang membuat kami marah
Kini kami disini
Terlempar oleh nasib
Berharap banyak dari sepeser ringgit
Untuk merubah hidup yang telah pahit
Kopang, April 1999
Meninggalkan kampung halaman
Terpisah dari buah hati
Demi mendapatkan sesuap nasi
Tiga tahun dari usia kami
Telah terbuang dinegeri jiran
Siang dan malam membanting tulang
Bermandikan keringat dan airmata
Apa kabarmu Negeriku disana
Masihkan kau seperti dulu
Kami rindu senyummu
Dengarlah kami yang kian penat
Sebagian menggelepar
Saat ujung cambuk mengepal meremukkan tulang
Kami tidak salah
Hanya nasib yang membuat kami marah
Kini kami disini
Terlempar oleh nasib
Berharap banyak dari sepeser ringgit
Untuk merubah hidup yang telah pahit
Kopang, April 1999
SASTRAWAN SEJATI
SASTRAWAN SEJATI
02-07-2004 09.00 WIB
Muchtar Lubis
Kenapa mereka kejam
Semasa hidupmu Negerimu hilang
Sang sastrawan sejati, kritis dan ulet
Kini semua akan mengenang dan merindukan
Era tujuh puluhan yang telah silam
Terngiang suaramu yang lantang
Tajam tak terhalang
Mengagetkan Negeri ini
Semua merasa terusik
Mereka anggap kau berisik
Saat kau telanjangi Negeri ini
Dari kebobrokan yang mengusik hati
Kaulah sosok keras sejati
Yang terbui dinegeri sendiri
Bapaku sayang, bapaku malang
Momenmu sungguh tak berarti
Saat semua senang tenggelam
Dalam pesta demokrasi yang kelam
Tersenyumlah dalam tidur panjangmu
Segala warisan hingga akhir hayatmu
Takkan musnah termakan waktu
Mataram, 14 Juli 2004
02-07-2004 09.00 WIB
Muchtar Lubis
Kenapa mereka kejam
Semasa hidupmu Negerimu hilang
Sang sastrawan sejati, kritis dan ulet
Kini semua akan mengenang dan merindukan
Era tujuh puluhan yang telah silam
Terngiang suaramu yang lantang
Tajam tak terhalang
Mengagetkan Negeri ini
Semua merasa terusik
Mereka anggap kau berisik
Saat kau telanjangi Negeri ini
Dari kebobrokan yang mengusik hati
Kaulah sosok keras sejati
Yang terbui dinegeri sendiri
Bapaku sayang, bapaku malang
Momenmu sungguh tak berarti
Saat semua senang tenggelam
Dalam pesta demokrasi yang kelam
Tersenyumlah dalam tidur panjangmu
Segala warisan hingga akhir hayatmu
Takkan musnah termakan waktu
Mataram, 14 Juli 2004
CERITA ANAK NEGERI
Aku dengar jeritan dukamu Negeriku
Tiap pagi,siang,sore tersiar kabarmu
Sebuah kabar duka
Sedang melanda Negeriku tercinta
Satu lagi kisah pilumu
Saat mereka datang menyerbu
Jentik-jentiknya berkeliaran
Menghiasi seluruh kawasan
Disetiap ruangan telah penuh
Lorong-lorong sudah sesak terkapar
Mereka butuh sambutan tangan
Darimu yang punya uang
Bibit-bibit Negeri yang baru tumbuh
Calon penerus bangsa
Sang buah hati pewujud cita-cita
Hilang musnah
Saat ini ribuan nyawa meregang melayang
Balita-balita menjerit
Bukan mau netek
Namun jeritan menyambut ajal
Kapankah kabar tenang kan menghiasi pendengaran
Mataram, Februari 2004
Tiap pagi,siang,sore tersiar kabarmu
Sebuah kabar duka
Sedang melanda Negeriku tercinta
Satu lagi kisah pilumu
Saat mereka datang menyerbu
Jentik-jentiknya berkeliaran
Menghiasi seluruh kawasan
Disetiap ruangan telah penuh
Lorong-lorong sudah sesak terkapar
Mereka butuh sambutan tangan
Darimu yang punya uang
Bibit-bibit Negeri yang baru tumbuh
Calon penerus bangsa
Sang buah hati pewujud cita-cita
Hilang musnah
Saat ini ribuan nyawa meregang melayang
Balita-balita menjerit
Bukan mau netek
Namun jeritan menyambut ajal
Kapankah kabar tenang kan menghiasi pendengaran
Mataram, Februari 2004
DIMANAKAH KAU BERADA
Wahai alam saksikan gerakku
Ku ingin lari dengan kencang
Hingga nafasku ngos-ngosan
Biar nyawaku sedikit berkurang
Aku ingin terurai
Menjalar kesuatu tempat yang asing
Dimana tempat itu
Hanya terlihat lambaian tangan Tuhan
Dan biarkan aku jadi benda terlarang
Yang dicari oleh banyak orang
Dan akan selalu dikenang
Sampai kutemukan candamu yang hilang
Pintunya telah terbuka lebar
Kuncinya telah ku buang ketengah hutan
Agar orang-orang datang bertandang
Memberi kabar tentang dirimu yang hilang
Mataram, Desember 2003
Ku ingin lari dengan kencang
Hingga nafasku ngos-ngosan
Biar nyawaku sedikit berkurang
Aku ingin terurai
Menjalar kesuatu tempat yang asing
Dimana tempat itu
Hanya terlihat lambaian tangan Tuhan
Dan biarkan aku jadi benda terlarang
Yang dicari oleh banyak orang
Dan akan selalu dikenang
Sampai kutemukan candamu yang hilang
Pintunya telah terbuka lebar
Kuncinya telah ku buang ketengah hutan
Agar orang-orang datang bertandang
Memberi kabar tentang dirimu yang hilang
Mataram, Desember 2003
SANG BIDADARI
Sejak pertama kali hujan turun
Sebelum datang waktu musimnya
Aku telah mencintaimu
Sejah matahari baru bisa merangkak
Hingga bulu-bulu hilang terbang
Aku tetap mencintaimu
Saat aku telah lelah
Aku ingin muntah
Biar tidak salah tingkah
Saat aku telah mencintaimu
Kaulah anugerah tuhan
Yang turun dari kayangan
Rupamu yang menawan
Menebarkan senyum pada isi alam
Tidakkah kau merasa
Bahwa aku telah mencintaimu
Mataram, Februari 2004
Sebelum datang waktu musimnya
Aku telah mencintaimu
Sejah matahari baru bisa merangkak
Hingga bulu-bulu hilang terbang
Aku tetap mencintaimu
Saat aku telah lelah
Aku ingin muntah
Biar tidak salah tingkah
Saat aku telah mencintaimu
Kaulah anugerah tuhan
Yang turun dari kayangan
Rupamu yang menawan
Menebarkan senyum pada isi alam
Tidakkah kau merasa
Bahwa aku telah mencintaimu
Mataram, Februari 2004
SEBUAH HARAPAN
Dengan tubuh gontai
Melangkah lelah
Menyusuri padang ilalang yang gersang
Mengikuti jalannya roda kehidupan
Berbekal segumpal harapan
Untuk mencari ridhonya
dalam kepasrahan
Adakah kedamaian dibelahan dunia sana ?
Senja sore timbul tenggelam dibalik awan
Wajah sayu tersiram debu jalanan
Bagaikan turut berduka
Pada seorang anak manusia
Pudar sudah
Segala impian dan harapan
Semua cita dan cinta
Dalam adilnya sang maha pencipta
Kopang, Agustus 2000
Melangkah lelah
Menyusuri padang ilalang yang gersang
Mengikuti jalannya roda kehidupan
Berbekal segumpal harapan
Untuk mencari ridhonya
dalam kepasrahan
Adakah kedamaian dibelahan dunia sana ?
Senja sore timbul tenggelam dibalik awan
Wajah sayu tersiram debu jalanan
Bagaikan turut berduka
Pada seorang anak manusia
Pudar sudah
Segala impian dan harapan
Semua cita dan cinta
Dalam adilnya sang maha pencipta
Kopang, Agustus 2000
RAHASIA "MU"
Saat malam sebelum esok kan datang
Dihiasi warna remang
Rembulan seolah tak mau membagi senyum
Hanya bersembunyi dibalik awan yang telah mati
Inikah janjiku dulu
Saat aku masih lugu
Kutantang kau karmaku untuk beradu
Biar salah satu dari kita menjadi semu
Tapi itu semua rahasia “Mu”
Aku hanya sebuah titipan
Yang dituntut untuk berjuang
Kutunggu harapku
Hingga kau lemparkan aku ditanahmu
Biarpun masih panjang
Mataram, Januari 2004
Dihiasi warna remang
Rembulan seolah tak mau membagi senyum
Hanya bersembunyi dibalik awan yang telah mati
Inikah janjiku dulu
Saat aku masih lugu
Kutantang kau karmaku untuk beradu
Biar salah satu dari kita menjadi semu
Tapi itu semua rahasia “Mu”
Aku hanya sebuah titipan
Yang dituntut untuk berjuang
Kutunggu harapku
Hingga kau lemparkan aku ditanahmu
Biarpun masih panjang
Mataram, Januari 2004
HAPPY VALENTINE
Disaat kucium wangi bunga menyapa
Seribu asa dalam hati
Senyum bahagia
Terukir jelas dibibir
Semua bergembira
Semua terlena
Menyambut tibanya hari kasih dan cinta
Rasa damai dihati
Bagaikan sepatah kata mutiara
Yang terukir dalam darah cinta
Menyatu dalam tentramnya jiwa
Wahai cinta dan kasihku
Abadilah dalam hatiku
Mendekamlah dalam penjara jiwaku
Hingga nanti diujung waktu
Berikan kasihmu dalam dinginnya udara malam
Raih cintanya
dengan segarnya wangi bunga mawar
Happy valentineday
Mataram, 14 Februari 2000
Seribu asa dalam hati
Senyum bahagia
Terukir jelas dibibir
Semua bergembira
Semua terlena
Menyambut tibanya hari kasih dan cinta
Rasa damai dihati
Bagaikan sepatah kata mutiara
Yang terukir dalam darah cinta
Menyatu dalam tentramnya jiwa
Wahai cinta dan kasihku
Abadilah dalam hatiku
Mendekamlah dalam penjara jiwaku
Hingga nanti diujung waktu
Berikan kasihmu dalam dinginnya udara malam
Raih cintanya
dengan segarnya wangi bunga mawar
Happy valentineday
Mataram, 14 Februari 2000
NEGERI HAUS DARAH
Oh...Negeriku
Saat kau telah haus
Setengah abad yang lalu
Kau haus darah segar
Tapi, darah perjuangan, ......kawan
Oh...Negeriku
Kini kau buat cerita baru
Nampaknya kau haus kembali
Tapi... haus oleh darah tumbal.....kawan
Rasa takut menyelimuti
untuk menikmati hidup setiap detik
Bayangan kematian
seakan menjemput esok
Oh,...Negeriku
Dahagamu belum hilang
Belum cukupkah kau muncratkan darah-darah segar
Saat kau tegang,
Ribuan nyawa terlempar ke awan
Aku menentang !
Haruslah wargamu diinstal ulang
Biar kau tenang
dan tidak lagi meminta korban
Mataram, Januari 2003
Saat kau telah haus
Setengah abad yang lalu
Kau haus darah segar
Tapi, darah perjuangan, ......kawan
Oh...Negeriku
Kini kau buat cerita baru
Nampaknya kau haus kembali
Tapi... haus oleh darah tumbal.....kawan
Rasa takut menyelimuti
untuk menikmati hidup setiap detik
Bayangan kematian
seakan menjemput esok
Oh,...Negeriku
Dahagamu belum hilang
Belum cukupkah kau muncratkan darah-darah segar
Saat kau tegang,
Ribuan nyawa terlempar ke awan
Aku menentang !
Haruslah wargamu diinstal ulang
Biar kau tenang
dan tidak lagi meminta korban
Mataram, Januari 2003
DUNIA ABAD 21
Dalam matiku yang sesaat
Kulihat dia
Senyumnya tiada tersisa
Ada sisi lain diwajahnya
Tubuhnya babak belur
Pecah dan retak
Larut dalam kesedihan
Menyimpan kepedihan
Langkahnya tertatih-tatih
Bergerak perlahan
Tinggal sedikit
Untuk tiba diujung kegelapan
Tubuh yang telah bungkuk
Hanya tertopang sebatang tongkat
Tongkat yang telah rapuh
Digerogoti semut-semut dari planet asing
Tinggal separuh nafas
Sisa kasihan
Sebagai bekal
Untuk menutup lembar kehidupan
Mataram, September 2003
Kulihat dia
Senyumnya tiada tersisa
Ada sisi lain diwajahnya
Tubuhnya babak belur
Pecah dan retak
Larut dalam kesedihan
Menyimpan kepedihan
Langkahnya tertatih-tatih
Bergerak perlahan
Tinggal sedikit
Untuk tiba diujung kegelapan
Tubuh yang telah bungkuk
Hanya tertopang sebatang tongkat
Tongkat yang telah rapuh
Digerogoti semut-semut dari planet asing
Tinggal separuh nafas
Sisa kasihan
Sebagai bekal
Untuk menutup lembar kehidupan
Mataram, September 2003
KEPEDULIAN
Ku menapak sunyi yang sesaat
Mulut yang telah kusut
Menerpa senyum
Obrolah dihari buta
Bisik-bisik itu
Itu apa ?
Pedulikah kau pada mereka
Kau hanya berlalu darinya
Pungut saja mereka
Yang terkapar dibalik tenda terpal
Dendang nyanyian kecil
Memecah keheningan malam
Butir-butir penderitaan
dan setetes harapan
lihatlah
dengan mata hati
Mataram, Oktober 2003
Mulut yang telah kusut
Menerpa senyum
Obrolah dihari buta
Bisik-bisik itu
Itu apa ?
Pedulikah kau pada mereka
Kau hanya berlalu darinya
Pungut saja mereka
Yang terkapar dibalik tenda terpal
Dendang nyanyian kecil
Memecah keheningan malam
Butir-butir penderitaan
dan setetes harapan
lihatlah
dengan mata hati
Mataram, Oktober 2003
KIDUNG KEMARAU
Nongol
Kedipmu mengusir senyum
Tawamu yang sejenak
Mengeluarkan air dibadan
Kutanya kabar pasir
Uuuhh...jawabnya
Krek-krek ranting berdetak
Airpun berlalu pergi
Rasa gerah menyelimuti
Hembusan angin tak lagi cerdik
Saat kau tersenyum
Mereka gelisah
Ketika kulit bumi mulai keriput
Semua lari bersembunyi
Adakah kau tertidur sesaat
Atau mungkin......
Sekedar terpejam dalam sedetik
Untuk mengusir hawa penat ini
Biarkan kami hidup
Kawan.....
Kopang, Oktober 1999
Kedipmu mengusir senyum
Tawamu yang sejenak
Mengeluarkan air dibadan
Kutanya kabar pasir
Uuuhh...jawabnya
Krek-krek ranting berdetak
Airpun berlalu pergi
Rasa gerah menyelimuti
Hembusan angin tak lagi cerdik
Saat kau tersenyum
Mereka gelisah
Ketika kulit bumi mulai keriput
Semua lari bersembunyi
Adakah kau tertidur sesaat
Atau mungkin......
Sekedar terpejam dalam sedetik
Untuk mengusir hawa penat ini
Biarkan kami hidup
Kawan.....
Kopang, Oktober 1999
IMPIAN AKHIR TAHUN
Kututup senja hari ini
Saat jendela langit dan pintu bumi
telah tertutup rapat
Malampun kelam
Berjuta teka teki alam
Kucoba mengusir gelisah
Pandangan kulemparkan keawan, jauh menerawang
Berikan tuhan mauku !
Aku hanya mau jawaban angan
Patahkan betahku, dalam kesendirianku
Bunga-bunga yang bertaburan itu
Atas pesanan siapa ?
Lemparkan saja aku ketengah mereka
Biar sekalian,
Remuk redam dengan alam
Sayapku telah patah
Sisakan malam itu untukku
Sekali .....saja !
Agar tidak lalu lalang sendirian
Bak orang kesurupan
Mataram, 31 Desember 2003
Saat jendela langit dan pintu bumi
telah tertutup rapat
Malampun kelam
Berjuta teka teki alam
Kucoba mengusir gelisah
Pandangan kulemparkan keawan, jauh menerawang
Berikan tuhan mauku !
Aku hanya mau jawaban angan
Patahkan betahku, dalam kesendirianku
Bunga-bunga yang bertaburan itu
Atas pesanan siapa ?
Lemparkan saja aku ketengah mereka
Biar sekalian,
Remuk redam dengan alam
Sayapku telah patah
Sisakan malam itu untukku
Sekali .....saja !
Agar tidak lalu lalang sendirian
Bak orang kesurupan
Mataram, 31 Desember 2003
TAMPIHAN BAKTI SUCI
Tuhan
Tiba saatnya Aku pulang
Ketika senja tiba
Dengan sinarya yang kemerah merahan
Suara adzan menggema
Mengetuk hati
Semua berdiri diatas sajadah
Tenang, tegap menghadap qiblat
Permulaan suatu gerakan tangan
Terangkat sampai diatas bahu
Seraya terlontar kata
Allahu akbar
Begitulah...
Seluruh ucapan beruntun gerakan badan
Tuk mencari Ridho Mu
Dalam kesunyian
Tuhanku
Aku datang padamu
Berlutut tunduk
Sampai datang waktu itu
Hati menyala bakti
Menyerahkan jiwa kepada ilahi
Kopang, Februari 2000
Tiba saatnya Aku pulang
Ketika senja tiba
Dengan sinarya yang kemerah merahan
Suara adzan menggema
Mengetuk hati
Semua berdiri diatas sajadah
Tenang, tegap menghadap qiblat
Permulaan suatu gerakan tangan
Terangkat sampai diatas bahu
Seraya terlontar kata
Allahu akbar
Begitulah...
Seluruh ucapan beruntun gerakan badan
Tuk mencari Ridho Mu
Dalam kesunyian
Tuhanku
Aku datang padamu
Berlutut tunduk
Sampai datang waktu itu
Hati menyala bakti
Menyerahkan jiwa kepada ilahi
Kopang, Februari 2000
SOSOK ASING
Pertama kali orang asing itu datang
Dia mengetuk pintu hatiku
Dan membuka jendela mataku
Hingga ia mendekam dalam hayalanku
Sentuhan tangannya masih terasa
Belaian kasihnya begitu membara
Tak begitu lama
Waktupun sungguh tak terasa
Dia sudah begitu dekat, dekat sekali
Dekat dalam relung jiwaku
Merasuki urat nadi dan darah cintaku
Sungguh sebuah dilema yang mengesankan
Kini ia tinggal kenangan
Tapi aku tak bisa mengelak
Direlung hatiku masih ada cintanya
Dipelupuk mataku ada raut wajahnya
Inginku wujudkan impian itu lagi
Dalam kenyataan, bukan dalam hayalan
Sebagai bukti nyata
Bahwa aku pernah sayang padanya
Mataram, 3 Februari 2002
Dia mengetuk pintu hatiku
Dan membuka jendela mataku
Hingga ia mendekam dalam hayalanku
Sentuhan tangannya masih terasa
Belaian kasihnya begitu membara
Tak begitu lama
Waktupun sungguh tak terasa
Dia sudah begitu dekat, dekat sekali
Dekat dalam relung jiwaku
Merasuki urat nadi dan darah cintaku
Sungguh sebuah dilema yang mengesankan
Kini ia tinggal kenangan
Tapi aku tak bisa mengelak
Direlung hatiku masih ada cintanya
Dipelupuk mataku ada raut wajahnya
Inginku wujudkan impian itu lagi
Dalam kenyataan, bukan dalam hayalan
Sebagai bukti nyata
Bahwa aku pernah sayang padanya
Mataram, 3 Februari 2002
DAMAI PEMILU
Mari satukan langkah
Hilangkan seluruh resah
Buang semua kata pasrah
Agar hidup jadi terarah
Singkirkan rasa amarah
Untuk menghindari pertumpahan darah
Selesaikan masalah dengan musyawarah
Sambutlah hari cerah
Sekaranglah
Waktunya nikmati lelah
Dari hasil jerih payah
Bentangkan sayap yang telah patah
Ingatlah
Jangan lagi memilih yang salah
Jauhkan orang-orang penuh tingkah
Adili orang-orang bermasalah
Mari pilihlah
Orang yang mengerti rakyat bawah
Yang punya rasa bersalah
Yang bisa menyelesaikan masalah
Jangan sampai salah
Karena itu menentukan langkah
Agar kita tidak kalah
Dari tetangga sebelah yang telah mewah
Perbedaan adalah anugerah
Belajarlah dari yang sudah-sudah
Kita butuh seorang penunjuk arah
Yang tidak mengenal kata menyerah
Dengarlah
Renungkanlah
Dan lakukanlah
Jangan sampai salah
Mataram, 5 Juli 2004
Hilangkan seluruh resah
Buang semua kata pasrah
Agar hidup jadi terarah
Singkirkan rasa amarah
Untuk menghindari pertumpahan darah
Selesaikan masalah dengan musyawarah
Sambutlah hari cerah
Sekaranglah
Waktunya nikmati lelah
Dari hasil jerih payah
Bentangkan sayap yang telah patah
Ingatlah
Jangan lagi memilih yang salah
Jauhkan orang-orang penuh tingkah
Adili orang-orang bermasalah
Mari pilihlah
Orang yang mengerti rakyat bawah
Yang punya rasa bersalah
Yang bisa menyelesaikan masalah
Jangan sampai salah
Karena itu menentukan langkah
Agar kita tidak kalah
Dari tetangga sebelah yang telah mewah
Perbedaan adalah anugerah
Belajarlah dari yang sudah-sudah
Kita butuh seorang penunjuk arah
Yang tidak mengenal kata menyerah
Dengarlah
Renungkanlah
Dan lakukanlah
Jangan sampai salah
Mataram, 5 Juli 2004
KURA - KURA
Kuracik waktu
Kuracuni air dan angin
Kurangkul malam dan sepi
Kuraba bumi
Kurampas sinar mentari
Kurantai inginku
Kurasakan resahku, deritaku
Kuratapi nasib waktu
Kura – kura....
Bersedih, berjalan
Berontak
Berharap
Kupendam laparku
Kurangkai harapku
Kuramu jenuhku
Kuralat tingkahku
Kurasuki cahaya
Kuramal suasana
Kurapatkan diri pada kaki bumi
Kura – kura malang, liar
Mataram, 2 Agustus 2004
Kuracuni air dan angin
Kurangkul malam dan sepi
Kuraba bumi
Kurampas sinar mentari
Kurantai inginku
Kurasakan resahku, deritaku
Kuratapi nasib waktu
Kura – kura....
Bersedih, berjalan
Berontak
Berharap
Kupendam laparku
Kurangkai harapku
Kuramu jenuhku
Kuralat tingkahku
Kurasuki cahaya
Kuramal suasana
Kurapatkan diri pada kaki bumi
Kura – kura malang, liar
Mataram, 2 Agustus 2004
JANJI HATI
Yang datang dan yang menghilang
kini masih terjerat oleh waktu
kata ini kan hidup di usia senja
saat yang telah basah punah tertelan mangsa
Suatu masa kan datang, ketika perut telah keriuk
satu penjuru angin baru kan tercipta
saat daging ini telah
bingkai-bingkai kan pecah
Yang kan mendengarkan kelah, dengarlah
ini Ku mulai dari huruf A
atas namaku
dan atas peruntunganku
Mataram, 24 April 2004
kini masih terjerat oleh waktu
kata ini kan hidup di usia senja
saat yang telah basah punah tertelan mangsa
Suatu masa kan datang, ketika perut telah keriuk
satu penjuru angin baru kan tercipta
saat daging ini telah
bingkai-bingkai kan pecah
Yang kan mendengarkan kelah, dengarlah
ini Ku mulai dari huruf A
atas namaku
dan atas peruntunganku
Mataram, 24 April 2004
LAGU
Dan bila malampun datang
Kurangkul tubuhnya dari keremangan
Bagian yang indah
Aku sentuh dengan perasaan
Dibawah redupnya lampu lilin
Desah nafas dan detak jantung
Melemparnya keluar
Dari aliran darah
Kata itu
Satu demi Satu
Kudekatkan, berpelukan
Hingga tercipta bait yang menawan
Kunikmati bagian sensitifnya
Sampai terangkai rapi
Berpusat nafsu dan imajinasi
Hingga terlantun indah dalam melodi
Mataram, 10 Januari 2004
Kurangkul tubuhnya dari keremangan
Bagian yang indah
Aku sentuh dengan perasaan
Dibawah redupnya lampu lilin
Desah nafas dan detak jantung
Melemparnya keluar
Dari aliran darah
Kata itu
Satu demi Satu
Kudekatkan, berpelukan
Hingga tercipta bait yang menawan
Kunikmati bagian sensitifnya
Sampai terangkai rapi
Berpusat nafsu dan imajinasi
Hingga terlantun indah dalam melodi
Mataram, 10 Januari 2004
SANG BIDADARI
Sejak pertama kali hujan turun
sebelum datang waktu musimnya
Aku telah mencintaimu
Sejak Matahari baru bisa merangkak
hingga bulu-bulu hilang terbang
Aku tetap mencintaimu
Saat Aku telah lelah
Aku ingin muntah
biar tidak salah tingkah
saat Aku telah mencintaimu
Kaulah anugerah Tuhan
yang turun dari kayangan
rupamu yang menawan
menebarkan senyum pada isi Alam
Tidakkah Kau merasa
Bahwa Aku telah mencintaimu?
Mataram, Februari 2004
sebelum datang waktu musimnya
Aku telah mencintaimu
Sejak Matahari baru bisa merangkak
hingga bulu-bulu hilang terbang
Aku tetap mencintaimu
Saat Aku telah lelah
Aku ingin muntah
biar tidak salah tingkah
saat Aku telah mencintaimu
Kaulah anugerah Tuhan
yang turun dari kayangan
rupamu yang menawan
menebarkan senyum pada isi Alam
Tidakkah Kau merasa
Bahwa Aku telah mencintaimu?
Mataram, Februari 2004
GUNCANGKANLAH...!!!
Ku guncangkan tanah
melepas kotoran dibadan
dan melangkah naik
Ku injak masalah untuk melangkah
Sepi nafasnya inspirasi
rahasia alam adalah misteri
semua peristiwa adalah materi
Ku kuak habis dalam puisi
Ku bendung arus
yang telah jauh melorot
Mereka yang tertindih
Guncangkanlah...!!!
Disana ada pijakan
gapailah untuk bertahan
hempaskan segala beban
dan biarkan terseret perlahan
Setiap warna akan berbekas
setiap gelap ada terang
selalu ada jalan
Guncangkanlah...!!!
Mataram, Maret 2004
melepas kotoran dibadan
dan melangkah naik
Ku injak masalah untuk melangkah
Sepi nafasnya inspirasi
rahasia alam adalah misteri
semua peristiwa adalah materi
Ku kuak habis dalam puisi
Ku bendung arus
yang telah jauh melorot
Mereka yang tertindih
Guncangkanlah...!!!
Disana ada pijakan
gapailah untuk bertahan
hempaskan segala beban
dan biarkan terseret perlahan
Setiap warna akan berbekas
setiap gelap ada terang
selalu ada jalan
Guncangkanlah...!!!
Mataram, Maret 2004
TERURAI DAN MENJALAR
Wahai alam saksikan gerakku
ku ingin lari dengan kencang
hingga nafasku ngos-ngosan
biar nyawaku sedikit berkurang
Aku ingin terurai
menjalar kesuatu tempat yang asing
dimana tempat itu
hanya terlihat lambaian tangan Tuhan
Dan biarkan aku jadi benda terlarang
yang akan dicari oleh banyak Orang
dan akan selalu dikenang
sampai ku temukan candamu yang hilang
Pintunya telah terbuka lebar
kuncinya telah ku buang ketengah hutan
agar Orang-Orang datang bertandang
memberi kabar tentang dirimu yang hilang...
Mataram, Desember 2003
ku ingin lari dengan kencang
hingga nafasku ngos-ngosan
biar nyawaku sedikit berkurang
Aku ingin terurai
menjalar kesuatu tempat yang asing
dimana tempat itu
hanya terlihat lambaian tangan Tuhan
Dan biarkan aku jadi benda terlarang
yang akan dicari oleh banyak Orang
dan akan selalu dikenang
sampai ku temukan candamu yang hilang
Pintunya telah terbuka lebar
kuncinya telah ku buang ketengah hutan
agar Orang-Orang datang bertandang
memberi kabar tentang dirimu yang hilang...
Mataram, Desember 2003
ANGIN LALU
Siangku terbang
malamku melayang
Akulah Angin lalu
yang menghamburkan debu-debu
Tiada yang melirik
terbengkalai oleh waktu
menyusuri lorong yang gelap
terlempar oleh zaman
Aku merangkak liar
menerobos semua celah
semua pantulan cahaya
Aku mengapung diatas awan
bersembunyi dibalik kabut tebal
agar bisa menutup mata
untuk selamanya
Bumi akan terus berputar
waktupun akan terus berjalan
dan setiap detik akan ada perubahan
Mataram, September 2003
malamku melayang
Akulah Angin lalu
yang menghamburkan debu-debu
Tiada yang melirik
terbengkalai oleh waktu
menyusuri lorong yang gelap
terlempar oleh zaman
Aku merangkak liar
menerobos semua celah
semua pantulan cahaya
Aku mengapung diatas awan
bersembunyi dibalik kabut tebal
agar bisa menutup mata
untuk selamanya
Bumi akan terus berputar
waktupun akan terus berjalan
dan setiap detik akan ada perubahan
Mataram, September 2003
Subscribe to:
Comments (Atom)