video-player{background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0TFaPhLViHrhCyUJ1w4nB9yeWzSdEDove04yU2ZWqmh90Y_UZaUT6qa7ix-Z0ygXnXYB3j6NwBQDZiubE2f3ogCBPMVjPQi2oXqSnBWB0nvImQAs4G1dYEnvNGVATiiTvXwLWboXN2hg/s1600/psd-samsung-p2370-monitor+3.png) no-repeat top center;height:458px;width:580px;padding-top:35px;margin-left:30px}

Translate

INILAH AKU DENGAN KELEMAHANKU

PenulisLepas.com, Situsnya Penulis!

Bayangkan Kau telah mengenalku
Bayangkan Kau telah memilikiku
Walau bayangmu sebatas ilusi dalam otakku
Yang berkelebat, sekilas dan sesaat terhempas bagai nafas

Jangan benci aku dengan kekosonganku
Jangan benci aku dengan ketidak berdayaanku
Atau dengan segenap kelemahanku
Karena kekuranganku
Adalah kesempurnaan dalam hayalanmu

Tidak ada yang sempurna
Walau terbalut sutra berhiaskan permadani
Atau....
Berendam dalam kubangan kasturi

Untuk apa kau pertimbangkan
Untuk apa kau bergumam perlahan
Bukankah itu jaga ciptaan Tuhan

Dan inilah Aku dengan kekuranganku
Kekurangan yang melengkapi kekosongan hayalanmu,,,

Mataram, 16 Desember 2010
- Tengah malam -

Mukjizat Menulis

PenulisLepas.com, Situsnya Penulis!


Pada akhirnya menulis adalah untuk memperkaya
hidup orang-orang yang akan membaca karyamu
dan memperkaya hidupmu sendiri pula
(On Writing : Stephen King)

Menulis adalah berbagi. Ya, berbagi pemikiran, berbagi kisah, berbagi pengalaman hidup. Walau agak terlambat, saya rela menceburkan diri di dunia ini, dunia tulis-menulis. Mungkin banyak diantara penulis yang sudah mulai berkarir sejak kecil. Hasilnya sudah banyak menghasilkan karya dalam bentuk buku. Salut saya. Tapi, karena rupanya saya memang agak terlambat, ya memang harus bersabar untuk membuat buku. Tak ada salahnya kan diam-diam mengejar ketertinggalan. Sebab saya selalu yakin, tak ada kata terlambat untuk mengerjakan apapun yang baik.

Tentang menulis sendiri, boleh dong saya cerita sedikit. Saya pernah menulis artikel tentang lingkungan semasa SMP. Artikel itu mendapat juara saat perlombaan se-Magelang. Selain dapat hadiah uang dan bisa mentraktir teman-teman waktu itu, juga berkesempatan bertemu wakil presiden. Rasanya girang sekali dulu. Hanya itu yang saya ingat. Selebihnya tak ada.

Semasa SMA, pernah menulis di beberapa media dan majalah remaja. Tapi, tak kelihatan hasilnya. Boleh dibilang nol. Prestasi saya mungkin hanya membantu menulis surat cinta beberapa teman untuk menembak gadis yang dicintainya. Kalau yang ini sebagian besar berhasil. Tapi, saat saya menulis surat cinta untuk gadis yang saya cintai malah ditolak. Nasiiib. Rasakan !!!

Masuk kuliah di Jurnalistik mulai keranjingan membaca. Apa saja, mulai dari filsafat, sosiologi, politik, media sampai sastra. Berawal dari membaca ini saya mulai keranjingan juga untuk menulis. Banyak tulisan lahir. Hasilnya, beberapa dimuat di koran, majalah dan pers kampus. Selebihnya ditolak redaktur dan tulisan itu lenyap entah kemana. Maklum, saya dokumentator yang buruk. Selain itu, ada beberapa karya tulis yang menang lomba kepenulisan antar kampus. Yah, itulah sebuah prestasi kecil-kecilan.

Selanjutnya, tolakan demi tolakan naskah terjadi, membuat saya agak ngeper juga. Hampir putus asa. Rasa-rasanya sia-sia menulis tanpa bisa dipublikasikan di media. Padahal, sebelumnya sudah banyak referensi yang saya baca untuk memperkaya tulisan itu. Akhirnya saya berhenti sementara menulis di koran/majalah. Berganti menulis di blog.

Saat menulis di blog, semangat saya hanya berbagi bukan untuk mendapatkan uang (honor). Menulis tentang diri sendiri, tentang teman dekat, orang-orang biasa yang luar biasa dan saya menyebutnya “Manusia Setengah Malaikat”. Begitu juga diam-diam menulis seseorang yang saya kagumi. Di dalam blog, saya tidak menulis sesuatu yang serius membuat kening berkerut. Tapi hal ringan keseharian semacam genre “Chicken Soup”.

Tanpa disadari banyak keajaiban datang setelah sekian lama menulis di blog. Memang, ada sedikit materi yang saya dapatkan ketika menulis blog, seperti mendapat handphone sebagai penghargaan atas juara lomba blog Se-Jateng dan DIY. Handphone itu saya berikan ibu saya yang saat ini masih digunakan untuk saling bertelepon. Atau, beberapa tulisan di blog dibeli orang untuk dijadikan buku.

Tapi, ada hal lain yang lebih berharga, saya menyebutnya mukjizat menulis. Dengan menulis, saya mendapatkan sahabat, teman-teman yang berhati baik. Lalu kenikmatan tersendiri ketika ada orang yang mengucapkan terimakasih atas tulisan saya yang membuatnya terkesan. Apalagi, saya juga pernah menemukan cinta dari “hanya” sekedar menulis. Ahaa...apakah ada kebahagiaan terbesar selain saat kita menemukan cinta?

Belum lagi, kedahsyatan efek menulis bagi perbaikan diri. Menulis adalah terapi jiwa yang sungguh dahsyat. Lega hati saya setelah menulis, bahkan saya juga menjadi bisa mengukur diri. Setelah membaca tulisan sendiri, saya merenung apakah saya ini kuat atau lemah? Disitulah saya menemukan harta karun bahwa saya memang perlu selalu untuk memperbaiki diri dan tak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang.

Terakhir, saya sependapat dengan apa yang dikatakan King di atas. Menulis, memang bukan semata-mata hanya untuk uang. Dengan menulis kita bisa berbagi kisah, cerita, pengalaman hidup, pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan kepada orang lain. Semuanya itu untuk memperkaya hidup orang lain. Itulah tugas seorang penulis. Dan kehidupan pastilah adil. Setelah bersusah-susah dengan semuanya itu, kehidupan sendiri yang akan memperkaya diri kita. Coba, buktikan dan rasakan kalau tak percaya []

BENALU DI UJUNG PINTU

PenulisLepas.com, Situsnya Penulis!


Ketika kejujuran bagaikan empedu yang seakan begitu pahit bila diucapkan
Kutanyakan pada jiwa yang masih segar maupun usang
Apa pernah kau diajarkan ketika menapaki bangku sekolahan
Jawablah wahai nurani yang seakan pudar

Benalu di ujung pintu
Tersendat-sendat malu tersipu
Menggerogoti kayu-kayu dan buku
Mencari sebuah mata seraya berkata

Abang bantu akang dagang
Tapi saya jadi dalang seperti permainan wayang
Biar untung kita bilang
Semua barang kualitas gemilang

Disini ada peluang kalau mau kita main belakang
Pasti semuannya gampang
Tak ada anjing yang tak suka tulang

Abang kok bimbang?
Tenang, buktinya di buang aja ke tengah ilalang
Biar dimakan binatang
Dan seumuaya jadi gamblang

Yang penting kenyang makan nasi dan kentang
Biarkan perut mereka kering kerontang

Dengarkan kawan
Separah inikah mental – mental manusia jaman sekarang
Jauh dari akhlak dan moral sebagai seorang makhluk paling suci ciptaan tuhan...
Tanyakan sendiri pada dirimu disaat malam

Al-quran bukan hanya sebagai pajangan atau hanya sebagai penangkal setan
Tapi untuk jadi pedoman dan pegangan
Dalam menjalani setiap sisi kehidupan


Mataram, 1 Oktober 2010

AKU RINDU

PenulisLepas.com, Situsnya Penulis!


Marhaban Ya Ramadhan..
Tumbuh – tumbuhan berdzikir..
Binatang – binatang bertasbih
Seisi langit dan bumi bersujud
Semua makhluk larut dalam doa dan kegembiraan
Menyambut bulan suci, bulan yang terbaik dari dua belas bulan..

Sekiranya Ramadhan kali ini kan berarti
Untuk kembali pada jalanmu ya Robbi
Berikan petunjuk dan perlindungan mu
Agar aku tidak tersesat dari jalanmu

Aku rindu akan syahdunya ayat ayat saat di lapazkan
Aku rindu akan harum surga yang telah kau janjikan
Aku rindu pada harumnya bidadari yang kan menemani
Aku rindu akan setiap malam berselimut dzikir dan tasbih

Ya Allah ya Robbi...
Aku rindu akan jiwaku yang suci ketika masih bayi
Aku rindu akan ragaku yang seperti embun pagi ketika baru melihat bumi
Sungguh aku rindu tuk kembali...

Ku kembalikan jiwa dan ragaku pada fitrah
Seperti yang di idam-idamkan oleh semua makhluk yang bernama manusia
Pada bulan yang suci penuh maghpirah
Bulan pengampunan
Bulan yang penuh dengan kebaikan

Bimbinglah diriku pada rinduku
Rindu pada sang penciptaku
Pada jalan yang diperintahkanmu
dan terimalah amal ibadah puasaku
Amin Ya Robbal Alamin...


Mataram, 14 Agustus 2010/ 4 Ramadhan 1431 H

MELEPAS KERINDUAN

Nuansa alam yang segar
Di kelilingi kiri kanan semak belukar
Jutaan pohon apik berjajar
Mengiringi perjalanan penuh kelakar

Menelusuri segarnya alam benang stokel
Membuang rasa penat yang kian berjubel
Tanpa ku sadari ada orang yang lagi sebel
Dan lewat goresan ini ku mohon ambun berdobel – dobel

Pada sebuah sua setelah sekian lamanya tak berjumpa
Kita saling bertegur sapa
Sesaat ku bertanya dia siapa
Wajah – wajah yang sekian lama berkelana entah kemana

Apa kabarmu wahai saudaraku
Ini aku temanmu yang dulu pernah duduk sebangku
Lama sudah kita terpisah
Setelah sekian lama kita melangkah menjelajah bagai anak panah

Ku ingin kebersamaan ini kembali ada
Walau entah kapan kan bisa terlaksana
Biarpun dengan sangat sederhana
Karena bagiku dirimu begitu berharga

Saat mata kita saling pandang
Kenangan lalu kembali terbayang
Di daerah benang kelambu kita bercumbu
Saat mengisi liburan hari minggu

Tempat ini akan menjadi sebuah cerita
Bagi kita yang begitu berharga lebih dari permata
Diiringi hawa dingin menerpa
Dan takan akan pernah bisa terlupa

Semua ini begitu indah tuk dilupakan
Riuh air berhamburan dari balik akar – akar rerimbunan
Memanjang bagai benang yang bersatu tak ada putusnya

Seharian sudah kita melepas kerinduan
Biarpun langit pekat tertutup kumparan awan dan bumipun bersimbah air hujan
Tetaplah berjalan ke depan
Dan ku ucapkan sampai berjumpa lai kawan...

Benang Kelambu, 24 Mei 2009

TIKUS VS CICAK

Di dalam sebuah lobang yang remang, rakyat tikus sedang asyik berpesta. “ Ha.. ha ..ha, berhasil!, berhasil!, teriak raja tikus sambil mengangkat ikan segar yang dicuri dari dapur. Dia tampak sangat puas dan serakah. Dia dan rakyatnya selalu beraksi mencuri ikan dari dapur pada malam hari saat penghuni rumah telah tertidur lelap.
“ Kemarin ayam, sekarang ikan, besok apalagi ya?” celoteh tikus jantan sambil menggigit ikan didepannya. “ Mudah – mudahan besok cumi – cumi!”, aku kepingiiin sekali makan cumi – cumi” jawab tikus betina.
Setiap pagi penghuni rumah selalu marah – marah karena ikannya selalu hilang dicuri oleh tikus – tikus itu, padahal dia sudah menggunakan segala cara untuk menangkap tikus – tikus itu, mulai dari memasang perangkap sampai dengan menggunakan racun tikus, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Rupanya tikus – tikus itu sangat pintar.
Melihat bangsa tikus yang sedang asyik perpesta menikmati ikan hasil curian mereka, bangsa cicakpun geram, karena jatah mereka selalu diambil oleh tikus. Akhirnya raja cicak mengumpulkan rakyatnya.
“ Rakyatku sekalian!, kalian semua dengar” suara raja cicak dengan lantangnya.
“ Ya tuan raja!” sahut rakyat cicak serempak
“ Mulai saat ini saya menyatakan perang dengan bangsa tikus, karena mereka sudah keterlaluan, mereka selalu mengambil jatah makan kita. Apa kalian siap?” tanya raja cicak
“ Siap tuan raja!”, teriak rakyat cicak.
Karena mereka tidak mau kelaparan, akhirnya mereka mulai memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan bangsa tikus. Panglima cicak akhirnya mendapatkan ide cemerlang dan disetujui oleh raja cicak. Satu minggu kemudian raja tikus kembali mengumpulkan rakyatnya, dia memerintahkan agar seluruh rakyat tikus memotong ekornya, karena ekor cicak bisa tumbuh lagi walaupun sudah terpotong. Semua rakyat cicakpun setuju dan mereka merelakan ekor mereka dipotong demi mengalahkan bangsa tikus.
Setelah semua rakyat cicak melepaskan ekornya mereka lalu mengumpulkannya, akhirnya jadilah tumpukan daging ekor cicak yang besar dan dibentuk bulat – bulat sebesar bola kasti, dan didalamnya dimasukkan jarum – jarum kecil yang tajam.
Sementara itu didalam lubangnya para tikus sedang sibuk mengatur cara agar bisa mencuri daging lagi dari dapur. Mereka berlatih menghindari ranjau dan melatih penciuman agar bisa menandai makanan yang telah di kasih racun. Selain itu juga mereka akan lebih dulu kedapur agar tidak keduluan oleh pasukan cicak, mereka merasa sangat terganggu dengan bangsa cicak yang sering menggagalkan aksi mereka.
Kadang – kadang saat tikus mau beraksi mencuri sesuatu dari dapur, cicak sering menghalangi mereka dan mengejek mereka. Saat tikus mengejar mereka, mereka lari ketempat yang sempit dan tidak dapat dijangkau oleh tikus. Kalaupun tertangkap cicak langsung memotong ekor mereka dan melarikan diri.
Malampun tiba, kebetulan malam itu malam minggu, biasanya kalau hari libur beraneka macam makanan ada didapur. Pasukan tikus dan cicak masing – masing sudah bersiap – siap melakukan aksinya.
Karena tidak ingin keduluan oleh cicak, pasukan tikuspun lebih dulu pergi kedapur, mereka semua keluar dari lubangnya dan setelah mereka agak jauh, pasukan cicak yang bersembunyi tidak jauh dari lubang mereka mulai melaksanakan aksinya. Satu persatu daging sebesar bola kasti yang tak lain adalah kumpulan daging dari ekor mereka di dorong dan ditaruh tepat di depan lubang – lubang tikus, sehingga semua lubang – lubang tikus hampir tertutup. Setelah selesai mereka segera meninggalkan tempat itu, mereka takut nanti pasukan tikus datang. Lalu mereka pergi ke dapur membuntuti pasukan tikus.
Sementara itu didapur, berbagai jenis makanan sudah matang, seperti daging, ikan, sayur dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun didapur membuat pasukan tikus lebih leluasa bergerak. Satu persatu tikus mulai mengangkat penutup makanan, tetapi baru saja mereka mau membawanya, tiba – tiba pemilik rumah datang dan mereka langsung kabur sebelum sempat mengambil satupun makanan.
Pasukan cicak yang dari tadi mengintip tertawa terbahak – bahak melihat pasukan tikus yang lari terbirit – birit. Pasukan tikus yang sangat panik berhamburan manuju lubang mereka, tiba – tiba mereka terhenti dan terkekejut, mata mereka melotot melihat daging yang ada didepan lubang mereka.
“ Wow... kita memang lagi beruntung, nggak dapat mencuri ikan didapur, eh sudah ada yang menaruh daging disini” teriak salah seekor tikus
“ Siapa yang baik hati menaruh daging disini?”’ tanya tikus yang lain
“ Ah...sudahlah, darimana asalnya jangan dipedulikan, mungkin ini dikirim oleh tuhan dari langit untuk kita” jawab raja tikus.
Karena perut mereka sudah lapar, raja tikus langsung memerintahkan rakyatnya untuk memakan daging itu, tampa berpikir panjang rakyat tikus menyerbu daging – daging yang ada didepan lubang mereka. Sebentar kemudian satu persatu dari tikus itu tersendat, seperti ada yang menusuk leher mereka, tak lama kemudian satu persatu tikus itu mati karena tertusuk oleh jarum yang ditaruh oleh pasukan cicak didalam daging itu.
Pasukan cicak pun bergembira, mereka sangat senang akhirnya bisa membunuh tikus dengan perangkap yang mereka pasang. “ Horeee...!” teriak rakyat cicak , “ berarti sekarang semua makanan didapur menjadi milik kita” teriak raja cicak semangat
“ Ayo kita serbu makanan yang ada didapur” teriak raja cicak kembali, mereka semua kegirangan, semua ikan, daging dan makanan lainnya mereka ambil, ada yang berjingkrak – jingkrak dan menari. Saat mereka sedang asik perpesta tiba – tiba pintu dapur terbuka, pemilik rumah datang dan mengagetkan mereka. Mereka semua berlarian menyelamatkan diri, tampa menyadari di dekat mereka ada penggorengan besar berisi minyak goreng yang masih panas bekas goreng ikan. Satu persatu cicak tercebur didalamnya dan akhirnnya mati.
Pemilik rumah yang melihat kejadian itu tertawa senang, dan semenjak saat itu tak ada lagi tikus maupun cicak yang mengambil makananya.
SEKIAN

MATARAM, 2008

BURUNG DARA HITAM PUTIH

Pada suatu hari, dua ekor burung dara putih sedang asyik bermain diatas atap rumah, mereka sangat senang setelah terbang jauh dan berputar – putar mengitari desa. Tetapi tidak demikian dengan seekor burung dara hitam yang kelihatan sangat sedih, karena kedua saudaranya itu tidak mau bermain dengannya. Gara – gara warna bulu mereka berbeda. Kedua burung dara putih tidak mau mengakui kalau burung dara hitam adalah saudara mereka. Mereka menganggap burung dara hitam adalah anak pungut.
Sekitar tiga bulan yang lalu, satu dari tiga telur induk burung dara sempat terjatuh dari tempatnnya saat sedang mengeraminya, tetapi telur tersebut tidak pecah karena jatuh tepat diatas setumpuk tai sapi yang berada di bawah tempatnya mengeram telur tersebut. Dengan susah payah induk burung dara mengambil telur yang terjatuh ke tai sapi tersebut dan mengangkatnyanya ketempat semula.
Walaupun telur itu telah kotor dan bau oleh tai sapi, tetapi induk burung dara tidak sedikitpun merasa jijik, dia sangat menyayanginya sama seperti kedua telurnya yang lain. Dua minggu kemudian, dua dari tiga telur burung dara itu menetas bersamaan, dan tinggal satu telur yang belum menetas. Dari dua telur yang menetas itu keluar anak burung dara yang sangat lucu – lucu dan sehat. Tetapi satu telur yang pernah terjatuh belum juga bisa menetas. Satu minggu kemudian kedua anak burung dara sudah mempunyai bulu – bulu yang halus dan berwarna putih. Bersamaan dengan itu menetaslah telur yang satunya lagi, ia juga tampak lucu dan sehat. Tetapi ada yang kelihatan aneh dari dirinya. Tidak seperti kedua saudaranya yang menetas duluan, mereka begitu manja dan pemalas. Lain halnya dengan anak burung dara yang menetas belakangan ini, dia sangat pendiam tetapi rajin. Setelah beberapa hari, induk burung dara sangat kaget melihat warna bulu anaknya yang berwarna hitam, padahal dia dan kedua anaknya yang lain mempunyai bulu berwarna putih.
Walaupun demikian, tidak membuat induk burung dara pilih kasih. Dia tetap menyayanginya seperti dia menyayangi kedua anaknya yang lain. Tetapi hal itu tidak terjadi pada kedua anak burung dara putih. Mereka sangat membenci si hitam (mereka memanggilnya ), karena warna bulu mereka berbeda, mereka tidak mau mengakui kalau si hitam adalah saudara mereka.
Beberapa bulan kemudian kedua anak burung dara putih sudah beranjak dewasa dan sudah bisa terbang, tetapi tidak demikian dengan anak burung dara hitam yang masih lemah. Jangankan terbang berjalanpun dia masih terseok – seok. Kedua saudaranya sering mengejeknya sampai menangis, walaupun induk burung dara sudah memberitahukan bahwa anak burung dara hitam adalah saudara mereka, tetapi mereka tetap tidak mau mengakuinya.
Hari – hari burung dara hitam begitu penuh dengan penderitaan, selain diolok – olok dia juga sering disuruh mengerjakan tugas – tugas kedua saudaranya, tetapi dia tidak pernah berani menolak dan mengeluh. Dia tetap bersikap baik kepada kedua saudaranya itu dan selalu mengalah. Dia juga merelakan saat jatah makannya diambil oleh kedua saudaranya.
Pada suatu hari cuaca tampak kurang bersahabat, mendung menutupi langit sehingga matahari tidak bisa tampak sedikitpun. Seperti biasa burung dara hitam sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari sang ibut termasuk seluruh pekerjaan kedua saudaranya, seperti membersihkan kandang dan menyiapkan makanan.
Sementara itu kedua burung dara putih sedang asyik bermain, salah satu dari mereka mengajak untuk pergi bermain di angkasa.
“ Hai...saudaraku!, ayo kita main di angkasa, kita main kejar- kejaran biar lebih asyik” teriak burung dara putih yang agak gemuk.
“ Nggak usah!, kita main sini aja” sahut burung dara putih yang lebih kurus.
“ Eh... kamu pengecut sekali!, memangnya kenapa?”tanya burung dara putih gemuk.
“ Sekarang kan lagi mendung, nanti bisa turun hujan, kita kan bisa dimarah sama ibu” jawab burung dara putih kurus.
“ Sebentar aja kok!, nggak lama” ajak burung dara putih gemuk.
“ Ya sudah!, kalau kamu nggak mau biar aku sendiri aja yang pergi main”, bentak burung dara putih gemuk agak kesal dan langsung terbang tinggi ke angkasa.
“ Eh tunggu!, aku ikut...!” teriak burung dara putih kurus sambil terbang mengejar saudaranya.
Ketika mereka lagi terbang tinggi dan asyik sedang asyik berputar – putar saling mengejar, tiba – tiba angin kencang datang, mereka tidak menyadari bahaya datang. Angin menghempaskan tubuh mereka dan membawa mereka ketempat yang jauh dari rumah mereka.
Saat itu burung dara hitam sedang beristirahat di bawah pohon setelah selesai membersihkan kandangnya, dia tersentak kaget mendengar teriakan kedua saudaranya yang terbawa angin kencang entah kemana. Dia berjingkrak - jingkrak berusaha berteriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar saat itu. Karena saking paniknya, anak burung dara hitam melesat ke udara berusaha mengejar kedua saudaranya yang telah jauh terbawa angin kencang.
Setengah har penuh dia berputar – putar di udara namun tidak menemukan kedua saudaranya. Dari tengah hutan samar – samar terdengar teriakan minta tolong.
“ Toloooong.....toloooong....tolong kami” teriak kedua burung dara putih, burung dara hitampun terbang kearah suara itu dan ternyata itu adalah saudaranya yang tersangkut pada semak belukar, mereka terhempas oleh angin, mereka sudah berusaha keluar dari semak tetapi tidak berhasil karena tenaga mereka telah habis,” Kakaaak....!” tiba – tiba burung dara hitam datang. “ Adik burung dara hitam kami disiniiii” sahut kedua burung dara putih.
Akhirnya mereka diselamatkan oleh burung dara hitam. Mereka tampak heran dengan mata melotot melihat burung dara hitam bisa terbang, padahal selama ini dia tidak bisa terbang.
“ Dara hitam!, kamu bisa terbang” teriak burung dara putih
“ Hah...!” Burung dara hitam kaget, ternyata dia juga baru sadar kalau dirinya bisa terbang tinggi, burung dara hitam melompat – lompat kegirangan “ Aku bisa terbang , aku bisa terbang...” teriaknya senang.
“ Dara hitam, maafkan kami berdua ya, selama ini kami selalu membencimu, sekarang kamu sudah menyelamatkan nyawa kami” kata burung dara putih
“ Ya nggak apa – apa, aku sudah memaafkan kalian kok” jawab burung dara hitam
“ terima kasih ya dara hitam, kamu baik sekali” kata burung dara putih sambil memeluk burung dara hitam.
Akhirnya mereka bertiga pulang kerumah dan semenjak saat itu mereka selalu bermain, pergi dan terbang bersama - sama, burung dara hitam sangat senang karena mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama karena kedua saudaranya telah mau mengakuinya sebagai saudara, dan yang kedua dia sudah bisa terbang seperti burung dara putih, dan mereka akhirnya berbahagia.
SEKIAN

MATARAM, 2008

MEMBURU JEJAK MATA AIR

Sebuah cerpen oleh : Baharudin

Hari beranjak siang, hawa panas menyengat membakar pori-pori, butiran keringat bercucuran membasahi tubuh setengah baya itu, punggungnya terlihat mengkilat, tak tertutup selembar bajupun, hanya menggunakan celana kusam yang sebagian telah basah oleh keringat dan begitu kusam oleh tanah, mau di cucipun percuma, karena tetap akan kotor juga. Sebuah topi dari rotan tak kalah kusamya bercokol di kepalanya, sekedar pelindung dari terik matahari atau bongkahan tanah yang bisa mengotori kepalanya. Tangan itu telah berlumuran oleh tanah, seakan kuku pun tak terlihat lagi, tapi jari jemari itu kelihatan begitu kuat dan perkasa saat mencengkram sebatang besi baja berukuran dua meter, kedua sisi ujungnya mulai tumpul, mungkin tak mampu lagi untuk memecahkan bongkahan batu cadas yang mengambang tepat berada di mulut lubang itu.
Sejenak lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada dinding lubang, dengan posisi kaki tertekuk dia membuka topinya lalu dikipaskan ke tubuhnya. Batang linggis itu tepat berada didepannya menyandar ke dinding lubang. Disebelahnya sebuah kobokan dari batok kelapa dan beberapa lempeng betel dari potongan besi baja tergeletak di tanah seakan menemaninya. Di tatapnya batang linggis itu sesaat, terlihat langit di atas sana begitu jauh, sebuah terpal sebagai pelindung dari sengatan matahari direntangkan menutupi lubang, sebatang bambu menjulur dari sisi kiri ke sisi kanan lubang dengan lilitan tali tambang yang di ujungnya bergelantungan sebuah keranjang terbuat dari bambu sebagai pengangkut material tanah dari dalam lubang.
Hawa pengap dan lembab menyelimuti lubang, lelaki itu mendesah perlahan, sinar mataharipun sudah tidak mampu menembus ke dalam dasar lubang, jauh sudah lelaki itu menghujamkan linggisnya, menembus tanah liat, kerikil, pasir dan bebatuan yang bergelimpangan, namun belum ada tanda-tanda akan munculnya sumber mata air itu. Pekerjaan itu sudah dilakoninya bertahun-tahun, sungguh bukan pekerjaan mudah dan ringan, bahkan bisa dikatakan ekstrim, karena amat sangat berat dan beresiko, dapat di bayangkan bila kita harus masuk kedalam lubang berukuran dua meter dengan kedalam mencapai 12 meter bahkan lebih ke dalam perut bumi, mengayunkan sebatang linggis seberat puluhan kilogram, dan memecahkan bongkahan-bongkahan batu cadas sedikit demi sedikit, dengan sebuah betel berukuran 15 cm, menaikkan berton-ton material tanah ke atas permukaan tanah dengan perlahan, sungguh pekerjaan yang sangat berat mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan yang membutuhkan stamina yang powerful untuk mengerjakananya. Hanya bermodalkan tenaga dan badan besarpun tidak menjadi jaminan, dibutuhkan kesabaran yang besar dan strategi khusus untuk membaca urat dan garis-garis tanah di dalam sana. Jika itu tidak dikuasai, sungguh tidak mudah untuk menembus ke dalam perut bumi yang begitu keras untuk menemukan sumber mata air, sehingga ada yang mengatakan naluri seorang penggali sumur setajam ujung linggisnya.
Kali ini tampaknya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepada lelaki itu sebagai penggali sumur, entah berapa banyak sudah sumur yang di buat dan telah bisa dinikmati orang, baik untuk minum, mandi, mencuci, bahkan untuk mengairi tanaman mereka. Dari yang dalamnya bisa di jangkau dengan tangan hingga yang menggunakan puluhan meter tali tambang dalamnya telah ia kerjakan, dari yang mudah hingga yang sulit sekalipun, dan dari yang hanya tiga atau empat hari sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai tahunan karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Dua bulan sudah lelaki itu menggali hingga telah mencapai kedalaman yang mengerikan. Tepatnya di pekarangan rumah Pak Amir, warga kampung sekecamatan dengan kampungnya, rumahnya terletak di daerah perbukitan dan termasuk dalam kategori dataran tinggi hingga sangat sukar menemukan mata air. Wajar saja jika saat ini lelaki itu harus bekerja super ekstra untuk menggali dan menemukan mata air. Dan bukan karena itu saja, tekstur tanah yang keras disertai bebatuan membuat penggalian kurang lancar. Ini bukan lubang pertama yang coba di gali oleh lelaki itu. Telah tiga kali dirinya berpindah tempat, mulai dari belakang, depan dan samping kiri rumah namun selalu gagal. Setelah sampai dua atau tiga meter menggali dia selalu menemukan bongkahan batu besar yang menutupi lubang. Seandainya sebongkah batu kapur mungkin penggalian bisa dilanjutkan, tetapi karena batu cadas hitam sekeras karang, besar pula, sehingga urung dilanjutkan, sehingga dia memilih tempat lain untuk membuat galian, tepatnya berada di sisi kanan rumah.
Memulai membuat lubang galianpun tidak semudah perkiraan, bukan asal gali, tapi dibutuhkan ritual dan persyaratan khusus serta pertimbangan yang matang agar proses berjalan lancar, karena bukan pekerjaan mudah, jika salah perhitungan nyawapun bisa menjadi taruhannya. Pagi-pagi buta setelah selesai sholat subuh, lelaki itu mendatangi rumah Pak Amir, dia berjalan sekitar lima kilometer dari rumahnya melewati hamparan sawah dan perkampungan penduduk. Di jaman semodern sekarang ini lelaki itu masih memanfaatkan kekuatan kakinya untuk berjalan menempuh jarak sejauh itu. Bukan tanpa sebab karena dia tidak bisa menggunakan sepeda motor bahkan tidak berani menaikinya, sebuah sepeda ontelpun yang dibelikan istrinya hanya menjadi pajangan dibelakang rumahnya karena tidak pernah dipakai. Dia lebih suka berjalan kaki yang katanya lebih aman walaupun lebih lamban, mungkin dia salah satu orang yang berpegang teguh pada pepatah yang mengatakan “biar pelan asal selamat”.
Mentari dilangit timur tampak bersinar terang, udara pagi yang segar seakan menambah umur, cericit riuh burung terdengar saling bersahutan seakan memberi kabar gembira dengan datangnya pagi itu. Tibanya musim kemarau merupakan telah dimulainya kesibukan bagi lelaki itu, sebab bila musim penghujan tiba, tidak ada satupun permintaan membuat sumur dari orang-orang yang merupakan mata pencahariannya. Tampaknya musim kemarau kali ini akan panjang, sekitar lima orang telah datang kerumahnya meminta untuk dibuatkan sumur, namun Pak Amir mendapatkan kesempatan pertama dari lelaki itu untuk dibuatkan sumur dirumahnya.
Setelah sekitar satu jam perjalanan akhirnya lelaki itu tiba dirumah Pak Amir. Pak Amir dan istrinya menyambutnya dengan ramah, mereka langsung langsung larut dalam pembicaraan diserambi rumah, pembicaraan akhirnya sampai pada ongkos dan persyaratan-persyaratan yang harus disediakan. Melihat kondisi tempat Pak Amir tinggal, lelaki itu meminta bayaran Dua juta rupiah untuk sebuah sumur sampai jadi, setelah melalui negosiasi panjang akhirnya mereka sepakat untuk biaya pembuatan sumur sebesar Satu setengah juta rupiah, tampaknya lelaki itu masih memegang tegus sikap kekeluargaan sehingga proses tawar menawar masih bias dilakukan walaupun untuk sebuah pekerjaan yang entah berapa lama ia harus menyelesaikannya. Jika hanya dua atau tiga meter langsung menemukan mata air mungkin untung, tapi bila harus mencapai kedalaman belasan atau bahkan puluhan meter, tentunya membutuhkan waktu berbulan-bulan, upah itupun harus dibagi dua dengan rekannya nanti, karena tidak mungkin dia akan bekerja sendiri, harus ada teman untuk bergantian dari atas maupun bawah lubang.
Berselang beberapa saat, istri Pak Amir keluar dari dapur sambil membawa nasi untuk sarapan serta dua cangkir kopi hitam, setelah selasai sarapan, Pak Amir menyuruh istrinya untuk menyiapkan semua permintaan lelaki itu, agar proses penandaan lokasi tempat penggalian segera dimulai. Sekitar lima kilogram beras telah disiapkan pada sebuah sador (Nampan yang terbuat dari besi), diatasnya diletakkan beberapa lembar daun sirih dan segelas air putih, tidak ketinggalam pecahan mata uang lima ribuan terlihat ditanam diatas gundukan beras, katanya sebagai salawat, serta dua buah kelapa tua tergeletak tidak jauh dari beras, seekor ayam betinapun telah disiapkan dan dipotong di lokasi yang akan di gali. Ritual penandaanpun dimulai, sebilah bambu selebar tiga jari dengan panjang tiga meter digunakan untuk mengukur diameter lubang. Setelah sebelumnya dilakukan pembersihan di sekitar lokasi, lelaki itupun mengambil linggis andalannya, bibirnya sesaat terlihat komat kamit entah apa yang dibacanya, lalu ia menghujamkan linggisnya ke tanah beberapa kali, setelah dirasa cukup dia membiarkannya tertancap, setengah gelas air di siram di ujung linggis yang merupakan telah selesainya proses penandaan dan penggalian sumurpun siap untuk dimulai.
Dua bulan sudah lelaki itu dan temannya menggali, mengeruk tanah dari dalam perut bumi dan menaikkannya ke permukaan, sudah berbagai jenis lapisan tanah ia lalui, dari yang lembut, gersang hingga bongkahan bebatuan. Linggis itupun sudah tiga kali di bawa ke tukang pandai besi untuk diruncingkan ujungnya, karena selalu tumpul oleh bebatuan yang ia lalui.
Jauh di dalam lubang, di dalam perut bumi yang berukuran sekitar dua meter, lelaki itu masih duduk terpaku, sambil sesekali mengusap wajahnya dengan tangan, udara yang sudah mulai lembab tidak mampu meredam guyuran keringatnya. Di teguknya air putih yang ditempatkan pada sebuah ceret aluminium yang sudah tercampur dengan es batu untuk membasuh tenggorokan yang terasa kering. Kondisi lubang yang sudah mulai remang menambah sukarnya penggalian, namun lelaki itu tidak putus asa, itu merupakan resiko dari pekerjaanya selama ini, walaupun berat namun harus tetap dijalani dengan ikhlas. Dia yang buta akan huruf-huruf, tidak bisa membaca dan menulis karena tidak pernah mengecap bangku sekolah. Namun dalam benaknya tumbuh sebuah keinginan yang begitu besar, cita-cita untuk menafkahi keluarganya dengan rizki yang halal dan menyekolahkan ke dua anaknya setinggi mungkin, biar tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya, sungguh dia tidak mau melihat anak-anaknya mengikuti jejaknya saat ini, terbukti saat ini kedua anaknya masih bersekolah, anaknya yang Sulung sebentar lagi akan menjalani ujian skripsinya di salah satu perguruan tinggi negeri, sedangkan yang Bungsu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Itulah yang selalu memotivasinya untuk tetap semangat menjalankan profesinya, walaupun bayaran yang di terima kadang tidak sebanding dengan usahanya tetapi lelaki itu tetap yakin Tuhan telah mengatur jalan hidupnya, mengatur rizkinya dan dan menjaga keluarganya.
Seketika ia berkaca-kaca, sesuatu terucap dari bibirnya yang kering, “Ya Allah….mudahkanlah langkahku dijalan yang engkau ridhoi, buatlah semuanya menjadi mudah dengan kehendakmu, karena hanya kepadamulah Aku berserah diri, Amin…..” , “Pak sudah sore!, kita lanjutkan besok saja!” terdengar suara dari atas memanggilnya, rupanya itu temannya menyuruhnya istirahat karena hari sudah beranjak sore. Lelaki itupun terperanjat, dia baru menyadari dirinya terpegur dalam lamunan. “Astagfirullahalaadzim…..”, dia berdiri dari duduknya, “Iya….saya akan naik!”, sahutnya lantang. Suaranya menggema terdengar sampai atas, lelaki itu melirik ke arah jam tangn lengan kirinya, walaupun sebagian tertutup tanah namun masih tampak jelas jarum jamnya menunjukkan pukul 16.30 sore, “Ya Allah….saya belum sholat!”, gumamnya lalu merapikan semua peralatan dan ditumpuk menjadi satu pada sisi dinding lubang, lalu merangkak naik perlahan, berpegangan pada lubang-lubang di sisi kiri dan kanan dinding yang sengaja di buat seukuran kobokan sebagai jalan untuk naik maupun turun ke dalam lubang, karena tidak mungkin menuju lubang sedalam itu bisa menggunakan tangga. Perlahan dia merangkak bagai Spiderman yang sedang memanjat gedung bertingkat, setelah beberapa saat kepalanya terlihat muncul dari mulut lubang, temannya lalu menariknya naik ke atas, “ Alhamdulillah….”, Katanya sambil mengusap-usap keringatnya, bibir itu masih sempat tersenyum kepada Pak Amir yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, walaupun badan terasa remuk dan diselimuti rasa capek dan pegal yang teramat sangat.
“Bagaimana Pak!, apa sudah ada tanda-tanda?” Tanya Pak Amir menghampiri lelaki itu, “Masih belum Pak, Insya Allah sebentar lagi”, jawabnya meyakinkan. Setelah membersihkan badannya dan selesai mendirikan sholat, lelaki itu dan temanya mendapatkan jamuan dari Istri Pak Amir, hidanganpun telah tersedia di serambi rumah, keakraban begitu terlihat walau hanya dengan lauk ikan asin, sambal terasi dan sayur bayam, dan di akhiri dengan secangkir kopi hitam yang telah disediakan pula. “Apa sebaiknya jangan dilanjutin pak?”, Pak Amir memulai pembicaraan, “Maksud Bapak!”, lelaki itu memperbaiki duduknya sambil menyedot lilitan batang rokok dari tembakau hitam. “Sudah sedalam ini belum juga ada tanda-tanda airnya akan keluar, apa tidak sebaiknya kita pindahkan ke tempat yang lain lagi pak?”, lanjut Pak Amir. Sejenak lelaki itu terdiam dan menarik nafas “Pak, ini sudah yang ke tiga kalinya kita pindahkan, dan ini sudah yang terdalam, kita lanjutkan saja beberapa meter lagi, sudah terlanjur?”, ujar lelaki itu sambil menatap ke arah Pak Amir. “kalau begitu terserah Bapak aja, tapi kalau memang airnya tidak muncul juga sebaiknya kita pindahkan saja pak tempatnya?”, ujar Pak Amir menjelaskan dengan nada pesimis, lelaki itu dan temannya sejenak berpandangan, terbayang dalam otaknya jika harus menggali ulang lagi dari awal. “Kita liat besok saja Pak?”, Jawab lelaki itu lirih. Beberapa saat kemudian dia dan temannya pamit pulang, Pak Amir dan Istrinya mengantarkan mereka sampai di halaman, setelah mereka lenyap di balik tikungan jalan mereka masuk ke dalam rumah.
Sekitar satu jam perjalanan melawati perkampungan dan hamparan persawahan, lelaki itupun tiba dihalaman rumahnya, jarum jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 18.05 sore, terlihat Istri dan Anaknya sedang duduk di teras rumah, mereka berdiri setelah melihat kedatangan lelaki itu, Istrinya tersenyum menyambut kedatangan suaminya, “Gimana Pak, apa sudah ada airnya?”, Tanya istrinya. ”Belum Bu, cuma baru kelihatan lembab sedikit, malah Bapak bertemu batu besar lagi, tepat mengambang di tengah-tengah lubang”, jelas lelaki itu sambil menarik nafas panjang, tanganya meraih gelas air yang disuguhkan istrinya lalu meneguknya. “Insya Allah beberapa meter lagi pasti airnya ketemu”, ujarnya sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah yang sudah mulai berlumut. “Sabar ya Pak, mudah-mudahan airnya segera muncul”, Istrinya mencoba menghiburnya. “Iya Bu, tapi yang jadi pikiran Bapak adalah Pak Amir meminta Bapak memindahkannya lagi bila airnya tidak juga kunjung muncul?”, lanjut lelaki itu sambil menatap kearah istrinya yang duduk disampingnya. “Terus!, Bapak sanggupin?”, Istrinya setengah kaget dan menatap tajam ke arah suaminya, “Belum, Bapak mau melihatnya lagi sampai besok pagi, kalau belum juga muncul airnya, mau tidak mau Bapak harus memindahkannya, tapi mudah-mudahan ada mukjizat dari Allah SWT”, mata lelaki itu terlihat berkaca-kaca, “Amin…..!!!”, sahut istri dan anaknaya mengamini. Waktu magribpun tiba, lelaki itu mengajak istri dan anaknya sholat berjamaah, setelah selesai sholat isya mereka duduk-duduk sejejak di teras rumah ditemani secangkir kopi hangat dan sepiring singkong goreng.
Malam semakin larut, di luar udara dingin mulai terasa menusuk tulang, kabut mulai turun menyelimuti perkampungan yang berada di bawah bukit itu seakan telah tertidur pulas, namun lelaki itu masih terjaga, pikirannya melayang entah kemana, diliatnya istrinya sudah tertidur pulas disampingnya, dengan perlahan ia beranjak dari tempat tidur lalu melangkah keluar, rupanya dia pergi mengambil air wudhu, diliatnya jarum jam di dinding rumahnya menunjukkan pukul 03.00 pagi, dalam kehenignan malam dia bersimpuh di atas sajadah mendirikan sholat tahajjud, setelah salam, diangkatnya kedua tanganya sampai hamper menyentuh dagu, dengan wajah setengah menengadah ke atas. “Ya Allah, Tuhan yang maha kuasa, ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dan dosa keluargaku, kepadamu aku bersimpuh memohon pertolongan dari mara bahaya dan kesukaran hidup, kuatkan imanku agar selalu tetap berada di jalanmu, tabahkan hatiku dalam malalui setiap cobaan hidup yang engkau berikan, berikan kemudahan kepadaku dan keluargaku dalam segala urusan, karena hanya engkaulah tempatku meminta pertolongan, dan hanya kepadamulah aku berserah diri, amin….”, Lelaki itu mengakhiri doanya dengan mengusap kedua telapak tangan ke mukanya. Tanpa sadar pipinya telah basah oleh butiran-butiran bening yang mengalir dari kelopak mata setengah baya itu. Beberapa saat kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya, kembali pikiran itu datang menghantuinya, dia kembali teringat kata-kata Pak Amir kemarin untuk memindahkan tempat galian sumur bila ditempat saat ini tidak juga muncul airnya. Dia menarik nafas panjang sambil berusaha memejamkan matanya, mungkin karena lelah dan mengantuk akhirnya diapun tertidur memasuki alam mimpinya.
Dalam alam bawah sadarnya dia melihat seorang lelaki tua berjenggot dan berjubah putih, lelaki tua itupun menghampirinya dan menepuk pundaknya, dan berkata, “Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melebihi kemampuannya, bila kau yakin padanya, memohonlah pertolongannya, bersujudlah menghadap qiblat yang dia ciptakan dengan kebesaran dan kekuasaaanya, sesungguhnya dia maha mengetahui segala yang ada di langit dan dibumi”, baru saja ia akan mengatakan sesuatu tiba-tiba lelaki tua itu menghilang dari hadapannya, ia tersentak kaget sambil berteriak ”Pak!...pak!”, teriakanya membuat istrinya terkejut dan terbangun dari tidurnya.
“Pak!...pak!...bangun…Pak!”, istrinya berusaha membangunkan suaminya sambil mengguncang-guncang badanya. Lelaki itu seketika terperanjat dan langsung bangkit dari tempat tidur, rupanya dia bermimpi, Istrinya segera menyalakan lampur kamar lalu keluar mengambil segelas air minum untuk suaminya. Ditatapnya wajah suaminya yang tampak berkeringat dengan penuh tanda tanya, “Istighfar Pak!” Bapak pasti mimpi buruk?”, Tanya istrinya dengan nada penasaran sambil menyodorkan segelas air putih, “Iya bu, Bapak mimpi ketemu dengan seorang lelaki tua berjenggot dan berjubah putih, tidak jelas wajahnya, lalu bapak belum sempat mengatakan apa-apa dia sudah lenyap begitu saja dari hadapan Bapak, bapak berteriak sekencang-kencangnya mencarinya kesana-kemari namun dia hilang entah kemana bagai ditelan bumi”, ujar Lelaki itu menceritakan mimpinya kepada istrinya sambil mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya. “Pantas saja Bapak teriak- teriak dari tadi kayak orang kenapa napa, ibu takut jadinya”, ujar istrinya sambil mengerutkan dahinya. Beberapa saat kemudian terdengar lantunan Adzan dikumandangkan tanda waktu sholat subuh telah tiba, mereka lalu sholat berjamaah bersama anaknya.
Panas musim kemarau mulai menyengat, teman lelaki itu sudah berada di dalam lubang dari pagi untuk menggali dan terus menggali, kini giliran lelaki itu yang berada diatas bertugas memutar batang bambu yang dugunakan untuk menaikkan tanah hasil galian dari dalam lubang, urat lehernya terlihat keluar saat memutar batang bambu, entah berapa kubik tanah sudah di naikkan ke atas, di sekitar mulut lubang sudah menggunung tumpukan tanah, pasir bercampur bebatuan. Sampai memasuki waktu Sholat Dzuhur tiba, mereka akhirnya istrihat untuk sholat dan makan siang, jarum jam menunjukkan pukul 14.00 siang, kini tiba giliran lelaki itu yang harus turun ke dalam lubang yang sudah belasan meter dalamnya untuk menggali, dia mulai turun perlahan, sesampainya di dasar lubang yang makin gelap dan lembab lelaki itu membuka bajunya, aroma bebatuan dan tanah begitu menyengat menusuk hidung, karena terbatasnya penglihatan di dalam, dia meminta Pak Amir menyediakan lampu sebagai penerang. Lelaki itu mengambil linggisnya yang bersandar pada dinding lubang, lalu mengusapnya dengan lap, tampak bekas galian temanya sekitar setengah meter di sisi timur lubang, lelaki itu membersihkan ujung linggisnya yang kelihatan mulai tumpul, badanya menghadap kearah timur, matanya tertuju pada bongkahan batu cadas yang tepat berada diatas dia berdiri, terlihat ada guratan-guratan garis kuning keemasan di permukaan batu yang begitu keras dan mulai lembab, perlahan kedua tanganya mencengkram batang linggis era-erat, lalu di angkatnya ke udara sekuat mungkin, tapi baru saja ujung linggis mau dihujamkan ke permukaan batu, saat ujungnya tepat berada didepan wajahya, tiba-tiba dia terdiam sejenak bagai patung dengan batang linggis masih berada di atas kepalanya.
Sesaat dia teringat kembali dengan kata-kata seoranag lelaki tua yang hadir dalam mimpinya semalam, “Bersujudlah menghadap qiblat yang dia ciptakan dengan kebesaran dan kekuasaanya, sesungguhnya dia maha mengetahui seluruh isi yang ada di langit dan didalam bumi”. Kata itu terlintas dalam pikiranya, “Apa itu sebuah petunjuk?”, gumamnya sesaat, “Orang sholat dan bersujud menghadap qiblat, dan qiblat itu berada disebelah barat”, ujarnya penuh tanda tanya lelaki itupun berbalik dan dengan sekuat tenaga, “Bismillahirrahmanirrahim!”, seketika batang linggis menghujam permukaan batu, dan “Bugh..!!”, suara menggemuruh terdengar sampai kemulut lubang, linggis itupun tertancap pada batu cadas yang keras, ditariknya kembali namun seakan linggis itu terpaku di dalam batu, tak bergerak sedikitpun, dengan sekuat tenaga dia berusaha mencabut batang linggis itu sambil berteriak “Allahu akbar…!!”, tiba-tiba linggis itu bergerak seperti terdorong ke atas, dan “Subhanallah..!!”, teriaknya keras, seketika air muncrat ke atas begitu derasnya dari dalam lubang batu, lelaki itu berteriak memanggil temanya dan Pak Amir yang sedari tadi berada diatas, mereka terkejut mendengar lelaki itu berteriak di dalam lubang, apa gerangan yang terjadi, mereka diselimuti tanda tanya.
“Kenapa Pak!, ada apa?”, teriak Pak Amir dari atas, “Airnya keluar Pak!”, teriakan lelaki itu terdengar mengema dari dalam lubang, “Alhamdulillah…”, serentak mereka mengucap syukur kepada yang maha kuasa atas munculnya mata air yang begitu besar, bening, dan segar, mengalir deras dari dalam perut bumi. Beberapa saat kemudian lelaki itu merapikan dasar lubang, setelah selesai dia mulai menaikkan peralatannya satu persatu ke atas, tidak lupa sebuah lubang kecil seukuran kepala manusia dibuat di sisi barat dasar lubang, tepat berada di tempat keluarnya mata air itu. Setelah semuanya selesai, dari peroses pembersihan sampai pembuatan dinding sumur dari batu bata, acara syukuranpun siap dilakukan sebagai penutup agar air sumur itu bisa segera digunakan. Pak Amir terlihat begitu sumringah, rasa senang yang sangat terlihat jelas diwajahnya, betapa tidak, akhirnya setelah berbulan-bulan dalam penantian, mata air itu akhirnya muncul juga, bahkan kurang dari satu jam airpun sudah terlihat memenuhi lubang setinggi kira-kira satu meter.
Menjelang sore, lelaki itu dan temanya berpamitan kepada Pak Amir dan istrinya, karena dia sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, Pak Amir dan istrinya mengucapkan terimaksih karena telah dibuatkan sumur di dekat rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang lelaki itu terlihat bersemangat, senyum selalu terlempar dari bibirnya kepada setiap orang yang dijumpainya sepanjang jalan, walaupun badanya terasa letih, tangan kirinya memegang erat seekor ayam betina pemberian Pak Amir, sementara dipundaknya memikul sebuah karung berisi beras dan sebuah kelapa tua. Beberapa saat kemudian Ia akhirnya tiba di halaman rumahnya, “Assalamualaikum”, teriakannya terdengar lantang, “Waalaikumsalam”, istrinya yang sedang berada di belakang rumah berlari tergopoh-gopoh menyambut suaminya, “ Sudah pulang Pak, bagaimana?”, tanya istrinya penasaran, “Alhamdulillah sudah selesai bu, airnya sudah keluar, besar lagi”, jelas lelaki itu kepada istrinya, “Alhamdulillah..”, sahut istrinya sambil mengusap kedua telapak tangan ke wajahnya.
“Ini bu dari Pak Amir dan istrinya”, lelaki itu menyerahkan karung beras dan ayam yang dibawa kepada istrinya, “Si bungsu mana bu?”, tanya lelaki itu menanyakan anak bungsunya yang tak terlihat, “Tadi kakanya nelpon ke Pak Haji Tohir, katanya sore ini mau pulang dan meminta adiknya menjemputnya di terminal, makanya si bungsu pergi menjemput ke terminal”, ujar istrinya. Haji Tohir merupakan tetangga sebelah rumah mereka, Si Sulung sering nelpon kedia bila ada sesuatu atau sekedar menanyakan kabar orang tuanya, maklum mereka tidak punya telpon dirumahnya. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara sepeda motor memasuki pekarangan rumah, “Assalamualaikum”, teriak si Sulung dan adiknya datang, “Waalaikumsalam”, lelaki itu dan istrinya berjalan ke halaman rumah, Si Sulung terlihat memikul sebuah tas ransel dipunggungnya dan langsung menghampiri orang tuanya, dia meraih dan mencium tangan mereka. “Kenapa tiba-tiba pulang nak?”, tanya lelaki itu kepada anaknya setengah penasaran, “Alhamdulillah Bapak, Ibu, saya sudah dinyatakan lulus skripsi, Insya Allah bulan depan diwisuda, dan saya juga sudah diterima bekerja di salah satu Perusahaan Swasta di Kota sana”, Lelaki itu dan Istrinya tidak kuasa menahan airmatanya, begitu pula dengan si Sulung, ”Alhamdulillah Ya Allah”, serempak Ia dan istrinya memeluk tubuh si Sulung, si Bungsu pun ikut memeluk kakanya. Suasa haru bercampur bahagia menyelimuti mereka.
Akhirnya doa-doa lelaki itu terjawab, dengan ketekunan, kesabaran, ketulusan dan kasih sayanngnya, walaupun hanya sebagai tukang penggali sumur, Allah membukakan jalan dan memberikan kebahagiaan kepadanya dan keluarganya. Kini lelaki itu bisa berbangga, anaknya yang Sulung sudah bekerja sehingga bisa membantu ekonomi keluarganya dan membiayai sekolah adiknya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, dia akan memberikan apapun kepada hamba-hambanya yang mau berusaha dan taat menjalankan perintahnya, memberikan hidayah kepada siapa saja yang di inginkannya. Kini kerja keras lelaki tua itu terbayar dengan keberhasilannya mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya dan tentunya tidak buta huruf seperti dirinya, selama ada kemauan dan Ridho Tuhan, Pasti ada jalan. SEKIAN.

MATARAM, 8 Januari 2010

PenulisLepas.com, Situsnya Penulis!

MENUJU GERBANG RUMAH TANGGA

Pada saat rasa ini ada
Tak ada tanda ataupun untaian nada-nada
Aku hanya teringat sebuah sabda
Tuk mengakhiri masa ini dengan pendamping setia

Aku telah jauh mengembara dan berkelana
Bertemu berbagai macam kata hiperbola
Sungguh kurindukan harum surga
Saat kita sejalan menaiki tangga-tangga

Kita makhluk beragama
Dan kaulah sebuah karunia
Telah ku sematkan dalam satu jiwa
Akhir sebuah perjalanan panjang Adam mencari Hawa

Ku mulai perjalanan ini bagai seorang nahkoda
Setelah sekian kalinya tertunda bahkan porak-poranda
Karena waktu tak akan kembali mengeulang segalanya
Bila telah terikat tali suci berumah tangga

Cinta telah menjelma semanis delima
Bukan drama sebatang bunga ditengah sabana penuh gulma
Ku yakinkan diriku tuk menambatkan semuanya padamu
Menjelang ikrar janji di depan penghulu

Kaulah tulang rusukku yang telah lama hilang
Ku pinta kembali biar kita satukan
Dengan ikhlas bukan cumbuan jenaka
Atau pelampiasan nafsu semata

Ku ingin Do’a ini makin mustajab
Setelah mulut melontarkan kata ijab
Itikad baik yang selalu ku panjatkan bertubi-tubi
Mengutarakan maksud kepada Ilaihi Robbi

Ku pinang kau dengan niat ibadah
Menjalankan sunnah menjauhkan fitnah
Dengan aqidah mengharapkan hidayah
Semoga sakinah mawaddah warohmah…


Matarm, 30 Desember 2009

*Teruntuk Saudaraku Tercinta: Abay, yang Isya Allah akan menikah bulan Februari besok, amin….

PenulisLepas.com, Situsnya Penulis!