Nuansa alam yang segar
Di kelilingi kiri kanan semak belukar
Jutaan pohon apik berjajar
Mengiringi perjalanan penuh kelakar
Menelusuri segarnya alam benang stokel
Membuang rasa penat yang kian berjubel
Tanpa ku sadari ada orang yang lagi sebel
Dan lewat goresan ini ku mohon ambun berdobel – dobel
Pada sebuah sua setelah sekian lamanya tak berjumpa
Kita saling bertegur sapa
Sesaat ku bertanya dia siapa
Wajah – wajah yang sekian lama berkelana entah kemana
Apa kabarmu wahai saudaraku
Ini aku temanmu yang dulu pernah duduk sebangku
Lama sudah kita terpisah
Setelah sekian lama kita melangkah menjelajah bagai anak panah
Ku ingin kebersamaan ini kembali ada
Walau entah kapan kan bisa terlaksana
Biarpun dengan sangat sederhana
Karena bagiku dirimu begitu berharga
Saat mata kita saling pandang
Kenangan lalu kembali terbayang
Di daerah benang kelambu kita bercumbu
Saat mengisi liburan hari minggu
Tempat ini akan menjadi sebuah cerita
Bagi kita yang begitu berharga lebih dari permata
Diiringi hawa dingin menerpa
Dan takan akan pernah bisa terlupa
Semua ini begitu indah tuk dilupakan
Riuh air berhamburan dari balik akar – akar rerimbunan
Memanjang bagai benang yang bersatu tak ada putusnya
Seharian sudah kita melepas kerinduan
Biarpun langit pekat tertutup kumparan awan dan bumipun bersimbah air hujan
Tetaplah berjalan ke depan
Dan ku ucapkan sampai berjumpa lai kawan...
Benang Kelambu, 24 Mei 2009
Translate
TIKUS VS CICAK
Di dalam sebuah lobang yang remang, rakyat tikus sedang asyik berpesta. “ Ha.. ha ..ha, berhasil!, berhasil!, teriak raja tikus sambil mengangkat ikan segar yang dicuri dari dapur. Dia tampak sangat puas dan serakah. Dia dan rakyatnya selalu beraksi mencuri ikan dari dapur pada malam hari saat penghuni rumah telah tertidur lelap.
“ Kemarin ayam, sekarang ikan, besok apalagi ya?” celoteh tikus jantan sambil menggigit ikan didepannya. “ Mudah – mudahan besok cumi – cumi!”, aku kepingiiin sekali makan cumi – cumi” jawab tikus betina.
Setiap pagi penghuni rumah selalu marah – marah karena ikannya selalu hilang dicuri oleh tikus – tikus itu, padahal dia sudah menggunakan segala cara untuk menangkap tikus – tikus itu, mulai dari memasang perangkap sampai dengan menggunakan racun tikus, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Rupanya tikus – tikus itu sangat pintar.
Melihat bangsa tikus yang sedang asyik perpesta menikmati ikan hasil curian mereka, bangsa cicakpun geram, karena jatah mereka selalu diambil oleh tikus. Akhirnya raja cicak mengumpulkan rakyatnya.
“ Rakyatku sekalian!, kalian semua dengar” suara raja cicak dengan lantangnya.
“ Ya tuan raja!” sahut rakyat cicak serempak
“ Mulai saat ini saya menyatakan perang dengan bangsa tikus, karena mereka sudah keterlaluan, mereka selalu mengambil jatah makan kita. Apa kalian siap?” tanya raja cicak
“ Siap tuan raja!”, teriak rakyat cicak.
Karena mereka tidak mau kelaparan, akhirnya mereka mulai memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan bangsa tikus. Panglima cicak akhirnya mendapatkan ide cemerlang dan disetujui oleh raja cicak. Satu minggu kemudian raja tikus kembali mengumpulkan rakyatnya, dia memerintahkan agar seluruh rakyat tikus memotong ekornya, karena ekor cicak bisa tumbuh lagi walaupun sudah terpotong. Semua rakyat cicakpun setuju dan mereka merelakan ekor mereka dipotong demi mengalahkan bangsa tikus.
Setelah semua rakyat cicak melepaskan ekornya mereka lalu mengumpulkannya, akhirnya jadilah tumpukan daging ekor cicak yang besar dan dibentuk bulat – bulat sebesar bola kasti, dan didalamnya dimasukkan jarum – jarum kecil yang tajam.
Sementara itu didalam lubangnya para tikus sedang sibuk mengatur cara agar bisa mencuri daging lagi dari dapur. Mereka berlatih menghindari ranjau dan melatih penciuman agar bisa menandai makanan yang telah di kasih racun. Selain itu juga mereka akan lebih dulu kedapur agar tidak keduluan oleh pasukan cicak, mereka merasa sangat terganggu dengan bangsa cicak yang sering menggagalkan aksi mereka.
Kadang – kadang saat tikus mau beraksi mencuri sesuatu dari dapur, cicak sering menghalangi mereka dan mengejek mereka. Saat tikus mengejar mereka, mereka lari ketempat yang sempit dan tidak dapat dijangkau oleh tikus. Kalaupun tertangkap cicak langsung memotong ekor mereka dan melarikan diri.
Malampun tiba, kebetulan malam itu malam minggu, biasanya kalau hari libur beraneka macam makanan ada didapur. Pasukan tikus dan cicak masing – masing sudah bersiap – siap melakukan aksinya.
Karena tidak ingin keduluan oleh cicak, pasukan tikuspun lebih dulu pergi kedapur, mereka semua keluar dari lubangnya dan setelah mereka agak jauh, pasukan cicak yang bersembunyi tidak jauh dari lubang mereka mulai melaksanakan aksinya. Satu persatu daging sebesar bola kasti yang tak lain adalah kumpulan daging dari ekor mereka di dorong dan ditaruh tepat di depan lubang – lubang tikus, sehingga semua lubang – lubang tikus hampir tertutup. Setelah selesai mereka segera meninggalkan tempat itu, mereka takut nanti pasukan tikus datang. Lalu mereka pergi ke dapur membuntuti pasukan tikus.
Sementara itu didapur, berbagai jenis makanan sudah matang, seperti daging, ikan, sayur dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun didapur membuat pasukan tikus lebih leluasa bergerak. Satu persatu tikus mulai mengangkat penutup makanan, tetapi baru saja mereka mau membawanya, tiba – tiba pemilik rumah datang dan mereka langsung kabur sebelum sempat mengambil satupun makanan.
Pasukan cicak yang dari tadi mengintip tertawa terbahak – bahak melihat pasukan tikus yang lari terbirit – birit. Pasukan tikus yang sangat panik berhamburan manuju lubang mereka, tiba – tiba mereka terhenti dan terkekejut, mata mereka melotot melihat daging yang ada didepan lubang mereka.
“ Wow... kita memang lagi beruntung, nggak dapat mencuri ikan didapur, eh sudah ada yang menaruh daging disini” teriak salah seekor tikus
“ Siapa yang baik hati menaruh daging disini?”’ tanya tikus yang lain
“ Ah...sudahlah, darimana asalnya jangan dipedulikan, mungkin ini dikirim oleh tuhan dari langit untuk kita” jawab raja tikus.
Karena perut mereka sudah lapar, raja tikus langsung memerintahkan rakyatnya untuk memakan daging itu, tampa berpikir panjang rakyat tikus menyerbu daging – daging yang ada didepan lubang mereka. Sebentar kemudian satu persatu dari tikus itu tersendat, seperti ada yang menusuk leher mereka, tak lama kemudian satu persatu tikus itu mati karena tertusuk oleh jarum yang ditaruh oleh pasukan cicak didalam daging itu.
Pasukan cicak pun bergembira, mereka sangat senang akhirnya bisa membunuh tikus dengan perangkap yang mereka pasang. “ Horeee...!” teriak rakyat cicak , “ berarti sekarang semua makanan didapur menjadi milik kita” teriak raja cicak semangat
“ Ayo kita serbu makanan yang ada didapur” teriak raja cicak kembali, mereka semua kegirangan, semua ikan, daging dan makanan lainnya mereka ambil, ada yang berjingkrak – jingkrak dan menari. Saat mereka sedang asik perpesta tiba – tiba pintu dapur terbuka, pemilik rumah datang dan mengagetkan mereka. Mereka semua berlarian menyelamatkan diri, tampa menyadari di dekat mereka ada penggorengan besar berisi minyak goreng yang masih panas bekas goreng ikan. Satu persatu cicak tercebur didalamnya dan akhirnnya mati.
Pemilik rumah yang melihat kejadian itu tertawa senang, dan semenjak saat itu tak ada lagi tikus maupun cicak yang mengambil makananya.
SEKIAN
MATARAM, 2008
“ Kemarin ayam, sekarang ikan, besok apalagi ya?” celoteh tikus jantan sambil menggigit ikan didepannya. “ Mudah – mudahan besok cumi – cumi!”, aku kepingiiin sekali makan cumi – cumi” jawab tikus betina.
Setiap pagi penghuni rumah selalu marah – marah karena ikannya selalu hilang dicuri oleh tikus – tikus itu, padahal dia sudah menggunakan segala cara untuk menangkap tikus – tikus itu, mulai dari memasang perangkap sampai dengan menggunakan racun tikus, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Rupanya tikus – tikus itu sangat pintar.
Melihat bangsa tikus yang sedang asyik perpesta menikmati ikan hasil curian mereka, bangsa cicakpun geram, karena jatah mereka selalu diambil oleh tikus. Akhirnya raja cicak mengumpulkan rakyatnya.
“ Rakyatku sekalian!, kalian semua dengar” suara raja cicak dengan lantangnya.
“ Ya tuan raja!” sahut rakyat cicak serempak
“ Mulai saat ini saya menyatakan perang dengan bangsa tikus, karena mereka sudah keterlaluan, mereka selalu mengambil jatah makan kita. Apa kalian siap?” tanya raja cicak
“ Siap tuan raja!”, teriak rakyat cicak.
Karena mereka tidak mau kelaparan, akhirnya mereka mulai memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan bangsa tikus. Panglima cicak akhirnya mendapatkan ide cemerlang dan disetujui oleh raja cicak. Satu minggu kemudian raja tikus kembali mengumpulkan rakyatnya, dia memerintahkan agar seluruh rakyat tikus memotong ekornya, karena ekor cicak bisa tumbuh lagi walaupun sudah terpotong. Semua rakyat cicakpun setuju dan mereka merelakan ekor mereka dipotong demi mengalahkan bangsa tikus.
Setelah semua rakyat cicak melepaskan ekornya mereka lalu mengumpulkannya, akhirnya jadilah tumpukan daging ekor cicak yang besar dan dibentuk bulat – bulat sebesar bola kasti, dan didalamnya dimasukkan jarum – jarum kecil yang tajam.
Sementara itu didalam lubangnya para tikus sedang sibuk mengatur cara agar bisa mencuri daging lagi dari dapur. Mereka berlatih menghindari ranjau dan melatih penciuman agar bisa menandai makanan yang telah di kasih racun. Selain itu juga mereka akan lebih dulu kedapur agar tidak keduluan oleh pasukan cicak, mereka merasa sangat terganggu dengan bangsa cicak yang sering menggagalkan aksi mereka.
Kadang – kadang saat tikus mau beraksi mencuri sesuatu dari dapur, cicak sering menghalangi mereka dan mengejek mereka. Saat tikus mengejar mereka, mereka lari ketempat yang sempit dan tidak dapat dijangkau oleh tikus. Kalaupun tertangkap cicak langsung memotong ekor mereka dan melarikan diri.
Malampun tiba, kebetulan malam itu malam minggu, biasanya kalau hari libur beraneka macam makanan ada didapur. Pasukan tikus dan cicak masing – masing sudah bersiap – siap melakukan aksinya.
Karena tidak ingin keduluan oleh cicak, pasukan tikuspun lebih dulu pergi kedapur, mereka semua keluar dari lubangnya dan setelah mereka agak jauh, pasukan cicak yang bersembunyi tidak jauh dari lubang mereka mulai melaksanakan aksinya. Satu persatu daging sebesar bola kasti yang tak lain adalah kumpulan daging dari ekor mereka di dorong dan ditaruh tepat di depan lubang – lubang tikus, sehingga semua lubang – lubang tikus hampir tertutup. Setelah selesai mereka segera meninggalkan tempat itu, mereka takut nanti pasukan tikus datang. Lalu mereka pergi ke dapur membuntuti pasukan tikus.
Sementara itu didapur, berbagai jenis makanan sudah matang, seperti daging, ikan, sayur dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun didapur membuat pasukan tikus lebih leluasa bergerak. Satu persatu tikus mulai mengangkat penutup makanan, tetapi baru saja mereka mau membawanya, tiba – tiba pemilik rumah datang dan mereka langsung kabur sebelum sempat mengambil satupun makanan.
Pasukan cicak yang dari tadi mengintip tertawa terbahak – bahak melihat pasukan tikus yang lari terbirit – birit. Pasukan tikus yang sangat panik berhamburan manuju lubang mereka, tiba – tiba mereka terhenti dan terkekejut, mata mereka melotot melihat daging yang ada didepan lubang mereka.
“ Wow... kita memang lagi beruntung, nggak dapat mencuri ikan didapur, eh sudah ada yang menaruh daging disini” teriak salah seekor tikus
“ Siapa yang baik hati menaruh daging disini?”’ tanya tikus yang lain
“ Ah...sudahlah, darimana asalnya jangan dipedulikan, mungkin ini dikirim oleh tuhan dari langit untuk kita” jawab raja tikus.
Karena perut mereka sudah lapar, raja tikus langsung memerintahkan rakyatnya untuk memakan daging itu, tampa berpikir panjang rakyat tikus menyerbu daging – daging yang ada didepan lubang mereka. Sebentar kemudian satu persatu dari tikus itu tersendat, seperti ada yang menusuk leher mereka, tak lama kemudian satu persatu tikus itu mati karena tertusuk oleh jarum yang ditaruh oleh pasukan cicak didalam daging itu.
Pasukan cicak pun bergembira, mereka sangat senang akhirnya bisa membunuh tikus dengan perangkap yang mereka pasang. “ Horeee...!” teriak rakyat cicak , “ berarti sekarang semua makanan didapur menjadi milik kita” teriak raja cicak semangat
“ Ayo kita serbu makanan yang ada didapur” teriak raja cicak kembali, mereka semua kegirangan, semua ikan, daging dan makanan lainnya mereka ambil, ada yang berjingkrak – jingkrak dan menari. Saat mereka sedang asik perpesta tiba – tiba pintu dapur terbuka, pemilik rumah datang dan mengagetkan mereka. Mereka semua berlarian menyelamatkan diri, tampa menyadari di dekat mereka ada penggorengan besar berisi minyak goreng yang masih panas bekas goreng ikan. Satu persatu cicak tercebur didalamnya dan akhirnnya mati.
Pemilik rumah yang melihat kejadian itu tertawa senang, dan semenjak saat itu tak ada lagi tikus maupun cicak yang mengambil makananya.
SEKIAN
MATARAM, 2008
BURUNG DARA HITAM PUTIH
Pada suatu hari, dua ekor burung dara putih sedang asyik bermain diatas atap rumah, mereka sangat senang setelah terbang jauh dan berputar – putar mengitari desa. Tetapi tidak demikian dengan seekor burung dara hitam yang kelihatan sangat sedih, karena kedua saudaranya itu tidak mau bermain dengannya. Gara – gara warna bulu mereka berbeda. Kedua burung dara putih tidak mau mengakui kalau burung dara hitam adalah saudara mereka. Mereka menganggap burung dara hitam adalah anak pungut.
Sekitar tiga bulan yang lalu, satu dari tiga telur induk burung dara sempat terjatuh dari tempatnnya saat sedang mengeraminya, tetapi telur tersebut tidak pecah karena jatuh tepat diatas setumpuk tai sapi yang berada di bawah tempatnya mengeram telur tersebut. Dengan susah payah induk burung dara mengambil telur yang terjatuh ke tai sapi tersebut dan mengangkatnyanya ketempat semula.
Walaupun telur itu telah kotor dan bau oleh tai sapi, tetapi induk burung dara tidak sedikitpun merasa jijik, dia sangat menyayanginya sama seperti kedua telurnya yang lain. Dua minggu kemudian, dua dari tiga telur burung dara itu menetas bersamaan, dan tinggal satu telur yang belum menetas. Dari dua telur yang menetas itu keluar anak burung dara yang sangat lucu – lucu dan sehat. Tetapi satu telur yang pernah terjatuh belum juga bisa menetas. Satu minggu kemudian kedua anak burung dara sudah mempunyai bulu – bulu yang halus dan berwarna putih. Bersamaan dengan itu menetaslah telur yang satunya lagi, ia juga tampak lucu dan sehat. Tetapi ada yang kelihatan aneh dari dirinya. Tidak seperti kedua saudaranya yang menetas duluan, mereka begitu manja dan pemalas. Lain halnya dengan anak burung dara yang menetas belakangan ini, dia sangat pendiam tetapi rajin. Setelah beberapa hari, induk burung dara sangat kaget melihat warna bulu anaknya yang berwarna hitam, padahal dia dan kedua anaknya yang lain mempunyai bulu berwarna putih.
Walaupun demikian, tidak membuat induk burung dara pilih kasih. Dia tetap menyayanginya seperti dia menyayangi kedua anaknya yang lain. Tetapi hal itu tidak terjadi pada kedua anak burung dara putih. Mereka sangat membenci si hitam (mereka memanggilnya ), karena warna bulu mereka berbeda, mereka tidak mau mengakui kalau si hitam adalah saudara mereka.
Beberapa bulan kemudian kedua anak burung dara putih sudah beranjak dewasa dan sudah bisa terbang, tetapi tidak demikian dengan anak burung dara hitam yang masih lemah. Jangankan terbang berjalanpun dia masih terseok – seok. Kedua saudaranya sering mengejeknya sampai menangis, walaupun induk burung dara sudah memberitahukan bahwa anak burung dara hitam adalah saudara mereka, tetapi mereka tetap tidak mau mengakuinya.
Hari – hari burung dara hitam begitu penuh dengan penderitaan, selain diolok – olok dia juga sering disuruh mengerjakan tugas – tugas kedua saudaranya, tetapi dia tidak pernah berani menolak dan mengeluh. Dia tetap bersikap baik kepada kedua saudaranya itu dan selalu mengalah. Dia juga merelakan saat jatah makannya diambil oleh kedua saudaranya.
Pada suatu hari cuaca tampak kurang bersahabat, mendung menutupi langit sehingga matahari tidak bisa tampak sedikitpun. Seperti biasa burung dara hitam sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari sang ibut termasuk seluruh pekerjaan kedua saudaranya, seperti membersihkan kandang dan menyiapkan makanan.
Sementara itu kedua burung dara putih sedang asyik bermain, salah satu dari mereka mengajak untuk pergi bermain di angkasa.
“ Hai...saudaraku!, ayo kita main di angkasa, kita main kejar- kejaran biar lebih asyik” teriak burung dara putih yang agak gemuk.
“ Nggak usah!, kita main sini aja” sahut burung dara putih yang lebih kurus.
“ Eh... kamu pengecut sekali!, memangnya kenapa?”tanya burung dara putih gemuk.
“ Sekarang kan lagi mendung, nanti bisa turun hujan, kita kan bisa dimarah sama ibu” jawab burung dara putih kurus.
“ Sebentar aja kok!, nggak lama” ajak burung dara putih gemuk.
“ Ya sudah!, kalau kamu nggak mau biar aku sendiri aja yang pergi main”, bentak burung dara putih gemuk agak kesal dan langsung terbang tinggi ke angkasa.
“ Eh tunggu!, aku ikut...!” teriak burung dara putih kurus sambil terbang mengejar saudaranya.
Ketika mereka lagi terbang tinggi dan asyik sedang asyik berputar – putar saling mengejar, tiba – tiba angin kencang datang, mereka tidak menyadari bahaya datang. Angin menghempaskan tubuh mereka dan membawa mereka ketempat yang jauh dari rumah mereka.
Saat itu burung dara hitam sedang beristirahat di bawah pohon setelah selesai membersihkan kandangnya, dia tersentak kaget mendengar teriakan kedua saudaranya yang terbawa angin kencang entah kemana. Dia berjingkrak - jingkrak berusaha berteriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar saat itu. Karena saking paniknya, anak burung dara hitam melesat ke udara berusaha mengejar kedua saudaranya yang telah jauh terbawa angin kencang.
Setengah har penuh dia berputar – putar di udara namun tidak menemukan kedua saudaranya. Dari tengah hutan samar – samar terdengar teriakan minta tolong.
“ Toloooong.....toloooong....tolong kami” teriak kedua burung dara putih, burung dara hitampun terbang kearah suara itu dan ternyata itu adalah saudaranya yang tersangkut pada semak belukar, mereka terhempas oleh angin, mereka sudah berusaha keluar dari semak tetapi tidak berhasil karena tenaga mereka telah habis,” Kakaaak....!” tiba – tiba burung dara hitam datang. “ Adik burung dara hitam kami disiniiii” sahut kedua burung dara putih.
Akhirnya mereka diselamatkan oleh burung dara hitam. Mereka tampak heran dengan mata melotot melihat burung dara hitam bisa terbang, padahal selama ini dia tidak bisa terbang.
“ Dara hitam!, kamu bisa terbang” teriak burung dara putih
“ Hah...!” Burung dara hitam kaget, ternyata dia juga baru sadar kalau dirinya bisa terbang tinggi, burung dara hitam melompat – lompat kegirangan “ Aku bisa terbang , aku bisa terbang...” teriaknya senang.
“ Dara hitam, maafkan kami berdua ya, selama ini kami selalu membencimu, sekarang kamu sudah menyelamatkan nyawa kami” kata burung dara putih
“ Ya nggak apa – apa, aku sudah memaafkan kalian kok” jawab burung dara hitam
“ terima kasih ya dara hitam, kamu baik sekali” kata burung dara putih sambil memeluk burung dara hitam.
Akhirnya mereka bertiga pulang kerumah dan semenjak saat itu mereka selalu bermain, pergi dan terbang bersama - sama, burung dara hitam sangat senang karena mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama karena kedua saudaranya telah mau mengakuinya sebagai saudara, dan yang kedua dia sudah bisa terbang seperti burung dara putih, dan mereka akhirnya berbahagia.
SEKIAN
MATARAM, 2008
Sekitar tiga bulan yang lalu, satu dari tiga telur induk burung dara sempat terjatuh dari tempatnnya saat sedang mengeraminya, tetapi telur tersebut tidak pecah karena jatuh tepat diatas setumpuk tai sapi yang berada di bawah tempatnya mengeram telur tersebut. Dengan susah payah induk burung dara mengambil telur yang terjatuh ke tai sapi tersebut dan mengangkatnyanya ketempat semula.
Walaupun telur itu telah kotor dan bau oleh tai sapi, tetapi induk burung dara tidak sedikitpun merasa jijik, dia sangat menyayanginya sama seperti kedua telurnya yang lain. Dua minggu kemudian, dua dari tiga telur burung dara itu menetas bersamaan, dan tinggal satu telur yang belum menetas. Dari dua telur yang menetas itu keluar anak burung dara yang sangat lucu – lucu dan sehat. Tetapi satu telur yang pernah terjatuh belum juga bisa menetas. Satu minggu kemudian kedua anak burung dara sudah mempunyai bulu – bulu yang halus dan berwarna putih. Bersamaan dengan itu menetaslah telur yang satunya lagi, ia juga tampak lucu dan sehat. Tetapi ada yang kelihatan aneh dari dirinya. Tidak seperti kedua saudaranya yang menetas duluan, mereka begitu manja dan pemalas. Lain halnya dengan anak burung dara yang menetas belakangan ini, dia sangat pendiam tetapi rajin. Setelah beberapa hari, induk burung dara sangat kaget melihat warna bulu anaknya yang berwarna hitam, padahal dia dan kedua anaknya yang lain mempunyai bulu berwarna putih.
Walaupun demikian, tidak membuat induk burung dara pilih kasih. Dia tetap menyayanginya seperti dia menyayangi kedua anaknya yang lain. Tetapi hal itu tidak terjadi pada kedua anak burung dara putih. Mereka sangat membenci si hitam (mereka memanggilnya ), karena warna bulu mereka berbeda, mereka tidak mau mengakui kalau si hitam adalah saudara mereka.
Beberapa bulan kemudian kedua anak burung dara putih sudah beranjak dewasa dan sudah bisa terbang, tetapi tidak demikian dengan anak burung dara hitam yang masih lemah. Jangankan terbang berjalanpun dia masih terseok – seok. Kedua saudaranya sering mengejeknya sampai menangis, walaupun induk burung dara sudah memberitahukan bahwa anak burung dara hitam adalah saudara mereka, tetapi mereka tetap tidak mau mengakuinya.
Hari – hari burung dara hitam begitu penuh dengan penderitaan, selain diolok – olok dia juga sering disuruh mengerjakan tugas – tugas kedua saudaranya, tetapi dia tidak pernah berani menolak dan mengeluh. Dia tetap bersikap baik kepada kedua saudaranya itu dan selalu mengalah. Dia juga merelakan saat jatah makannya diambil oleh kedua saudaranya.
Pada suatu hari cuaca tampak kurang bersahabat, mendung menutupi langit sehingga matahari tidak bisa tampak sedikitpun. Seperti biasa burung dara hitam sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari sang ibut termasuk seluruh pekerjaan kedua saudaranya, seperti membersihkan kandang dan menyiapkan makanan.
Sementara itu kedua burung dara putih sedang asyik bermain, salah satu dari mereka mengajak untuk pergi bermain di angkasa.
“ Hai...saudaraku!, ayo kita main di angkasa, kita main kejar- kejaran biar lebih asyik” teriak burung dara putih yang agak gemuk.
“ Nggak usah!, kita main sini aja” sahut burung dara putih yang lebih kurus.
“ Eh... kamu pengecut sekali!, memangnya kenapa?”tanya burung dara putih gemuk.
“ Sekarang kan lagi mendung, nanti bisa turun hujan, kita kan bisa dimarah sama ibu” jawab burung dara putih kurus.
“ Sebentar aja kok!, nggak lama” ajak burung dara putih gemuk.
“ Ya sudah!, kalau kamu nggak mau biar aku sendiri aja yang pergi main”, bentak burung dara putih gemuk agak kesal dan langsung terbang tinggi ke angkasa.
“ Eh tunggu!, aku ikut...!” teriak burung dara putih kurus sambil terbang mengejar saudaranya.
Ketika mereka lagi terbang tinggi dan asyik sedang asyik berputar – putar saling mengejar, tiba – tiba angin kencang datang, mereka tidak menyadari bahaya datang. Angin menghempaskan tubuh mereka dan membawa mereka ketempat yang jauh dari rumah mereka.
Saat itu burung dara hitam sedang beristirahat di bawah pohon setelah selesai membersihkan kandangnya, dia tersentak kaget mendengar teriakan kedua saudaranya yang terbawa angin kencang entah kemana. Dia berjingkrak - jingkrak berusaha berteriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar saat itu. Karena saking paniknya, anak burung dara hitam melesat ke udara berusaha mengejar kedua saudaranya yang telah jauh terbawa angin kencang.
Setengah har penuh dia berputar – putar di udara namun tidak menemukan kedua saudaranya. Dari tengah hutan samar – samar terdengar teriakan minta tolong.
“ Toloooong.....toloooong....tolong kami” teriak kedua burung dara putih, burung dara hitampun terbang kearah suara itu dan ternyata itu adalah saudaranya yang tersangkut pada semak belukar, mereka terhempas oleh angin, mereka sudah berusaha keluar dari semak tetapi tidak berhasil karena tenaga mereka telah habis,” Kakaaak....!” tiba – tiba burung dara hitam datang. “ Adik burung dara hitam kami disiniiii” sahut kedua burung dara putih.
Akhirnya mereka diselamatkan oleh burung dara hitam. Mereka tampak heran dengan mata melotot melihat burung dara hitam bisa terbang, padahal selama ini dia tidak bisa terbang.
“ Dara hitam!, kamu bisa terbang” teriak burung dara putih
“ Hah...!” Burung dara hitam kaget, ternyata dia juga baru sadar kalau dirinya bisa terbang tinggi, burung dara hitam melompat – lompat kegirangan “ Aku bisa terbang , aku bisa terbang...” teriaknya senang.
“ Dara hitam, maafkan kami berdua ya, selama ini kami selalu membencimu, sekarang kamu sudah menyelamatkan nyawa kami” kata burung dara putih
“ Ya nggak apa – apa, aku sudah memaafkan kalian kok” jawab burung dara hitam
“ terima kasih ya dara hitam, kamu baik sekali” kata burung dara putih sambil memeluk burung dara hitam.
Akhirnya mereka bertiga pulang kerumah dan semenjak saat itu mereka selalu bermain, pergi dan terbang bersama - sama, burung dara hitam sangat senang karena mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama karena kedua saudaranya telah mau mengakuinya sebagai saudara, dan yang kedua dia sudah bisa terbang seperti burung dara putih, dan mereka akhirnya berbahagia.
SEKIAN
MATARAM, 2008
Subscribe to:
Comments (Atom)