Kuredupkan lampu alam yang kian menyengat tulang
Dari sudut langit ketujuh
Asappun telah sirna terperangkap sunyi
Angin hanya melambai, menyeret selendang bidadari
Bayangan dalam kehidupan semakin gelap
Tuhan membuat cahaya itu indah
Tapi mengapa makhluk suka dengan kegelapan?
Semua jalan dilalui
Merangkak, bermain dengan bunga dan duri
Menghiasi alur cerita hidup ini
Ketika saatnya tiba
Dan menanyakan bagian terdalam dari hati manusia
Bintangpun berteriak maling padaku
Yang berusaha mengambil cincin permata, yamg menempel pada jari kaki dewa
Ku telusuri garis pinggir jalan
Berharap banyak dari apa yang kulakukan
Masih tercatat baik dalam buku harian Tuhan
Mataram, 1 Oktober 2004
No comments:
Post a Comment