video-player{background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0TFaPhLViHrhCyUJ1w4nB9yeWzSdEDove04yU2ZWqmh90Y_UZaUT6qa7ix-Z0ygXnXYB3j6NwBQDZiubE2f3ogCBPMVjPQi2oXqSnBWB0nvImQAs4G1dYEnvNGVATiiTvXwLWboXN2hg/s1600/psd-samsung-p2370-monitor+3.png) no-repeat top center;height:458px;width:580px;padding-top:35px;margin-left:30px}

Translate

REMBULAN MERAH

Saat hati ini kian segar
Kau berikan setetes kesejukan
Setelah sekian lamanya layu
Tampa setitik hujan membasahinya

Terimakasih Tuhan
Ku diberikan kesempatan untuk mendengarkan
Tawa lepas yang sekian lama kurindukan
Sebelum putus harap bermunculan

Mengapa jiwaku masih gundah
Kenapa sukma masih gelisah
Mungkin hati ini sedang berbunga-bunga
Tetapi pada kebun yang sudah ada penghuninya

Kenapa rasa ini kunjung pudar
Walau telah terhalang sebuah ikatan
Rembulan merah berikan jawaban
Sukma jiwa hanya bayangan
Seperti bunga-bunga yang mekar dan sekejap berguguran
Ku kembalikan padamu wahai sang pemberi kehidupan

Mataram, 15 Maret 2009

PUTERI

Telah jauh ku berlari menapaki bumi
Tuk mencari jejak-jejak kaki yang bersembunyi
Setelah kau pergi tampa bisa ku curi
Dan tertinggal hanya memori berbuah mimpi

Adakah kau tercipta kembali
Walaupun hanya berupa fotocopy
Tuk menggantikan sketsa yang takkan pudar dalam naluri

Kau laksana catatan baku yang pernah tercatat dalam lembar kehidupanku
Akan ku kenang
Dalam halaman ke tujuh telah ku centang
Tentang raga yang seakan tumbang
Oleh selimut rasa yang terpendam

Putri
Ini bukan akhir dari bait ini
Biar terus ku cari arti
Dari sebuah kebutaan mata hati

Mataram, 10 Juni 2009

ABSTRAK

Malam terus bergulir letih
Berada pada transisi malam dan pagi
Terlelap dalam alam mimpi
Hanya jiwa ini yang masih gelisah
Mengisaratkan ada yang masih menggumpal seperti nanah

Di belakang titian waktu aku terus membuntuti
Seteah tuk kesekian kalinya kau bergeming dengan keberadaanku ini
Apa rasa ini tak boleh tumbuh walau tak mungkin ku rengkuh
Jiwa ini telah kering tuk sekian lamanya

Meski telah ku pejamkan mataku
Batinku menjerit
Dan masih ku dengar bisikan jiwaku yang telah kehilangan rasaku
Hingga aku ikuti jejak jutaan orang yang sedang berbisik lirih
Dengan doa dalam remang malam

Tuhan dengarlah Doaku
Aku tak ingin berdebat dengan mu
Kau telah menumbuhkan dan membesarkan rasa ini dalam jiwaku

Aku lebih siap menghadapi puluhan orang dengan bersenjatakan pisau tajam
Dari pada menghadapi keadaanyang begitu sulit kuterjemahkan.

Mataram, 8 Juni 2009

WANITA PILIHAN

Pada suatu senja dengan balutan mega
Kau laksana pesona menjelma dalam nirwana
Ku kira sebuah replika tapi nyata
Terpancar karisma dari wajahmu dinda

Kuyakin kaulah dambaan setiap hamba
Tanda kebesaran dari sang penguasa kepada semesta
Begitu bersahaja membuah semua terpana
Memang manusia tak ada yang sempurna

Kesederhanaan dalam bersikap membuat terperanjat
Gemulai lembut langkahnya mencerminkan citra kaum hawa
Setiap kata yang terlontar begitu mesra dan bersahaja
Dan mungkin sebuah kata mutiara yang begitu apik terpelihara

Setiap kedipan matanya adalah bahasa
Serupa biru laut yang berkilau saat terik menerpa
Begitu indah, melemparkan kemurnian dalam kemilau jiwa
Tidak tergesa-gesa dan jauh dari rekayasa
Ayu nan jelita menentramkan alam yang gegap gempita
Kau pancarkan aura keindahan
Karena bibir itu selalu tersenyum
Bukan tertawa ataupun bersendawa

Ada adab disetiap berbicara
Dengan balutan jilbab kian bersahaja
Selalu terjaga dalam irama tahajjud
Saat mengutarakan maksud dalam sujud

Tak enggan memberi maat saat bibir salah ucap
Selalu berfikir positif dan inspiratif
Bintang cemerlang dan ilalangpun berdendang
Takkan lekang untuk dikenang

Selalu sadar bahwa kita seorang khalifah
Menjaga lidah, ramah tidak pemarah
Begitu anggun saat berbalut mukenah
Dan selalu menjaga tingkah karena dengan niat ibadah

Seketika tersentak saat azan berkumandang
Menghindar dari riuh lalu lalang
Sungguh idaman untuk di pinang
Wahai makhluk yang suci, pribadi yang sederhana
Putih bersih, yang begitu fasih melantunkan ayat-ayatnya

Mungkin mirip seorang bidadari
Membakar pori-pori menusuk sanubari
Dan bukan sebuah fantasi dalam karya fiksi

Setiap jejak mengandung akhlak
Hingga akupun tak dapat melukiskannya dalam sajak
Ini bukan sebuah bualan
Tapi ukiran sebuah keindahan dalam diri seorang wanita impian

Sebuah rangkaian kata-kata sacral
Yang ku rangkai dengan huruf-huruf kapital
Saat ku melihat bola mata sebening kristal
Jantungku berdetak kagum
Mungkin hanya ini yang bisa kurangkum
Dan akan membuatnya tersenyum

Bukalah hatimu wahai perempuan rupawan
Biarkan ku mejadi imammu setelah Al-quran
Kaulah sebuah titisan
Yang terbaik di ajak ke pelaminan

Semilir angina berhembus bagai syair
Teriring dalam setiap takbir dan zikir
Menumbuhkan hasrat dalam setiap kalimat
Mengikuti syariat agar mendapat syafaat

Kaulah wanita pilihan dari sekian hawa yang ku kenal
Mawar mekar indah terpancar
Dan sayup-sayup nada menyambut fajar
Sebelum ikrar padang mahsyar

Ikhlas ku tulis di saat malam
Dan ku akhiri dengan ucapan salam

Mataram, 23 Maret 2009

SEPUCUK SURAT CINTA

Siapakah yang membuatnya resah
Menemukan celah membuat gelisah
Karena bias ku terjemah
Dari raut wajah yang tidak bisa terbantah

Dia terlihat ceria
Senyum lembuh dari gadis berbaju jingga
Beritu terlena akan sebuah goresan pena
Dari seorang yang mengungkapkan rasa bagai pujangga

Hari ini begitu sejalan dalam romantika
Selaksa embun menetes membasahi rongga
Memberi kesejukan hingga palung jiwa

Sesuatu telah menjelma
Sebongkah rasa yang begitu dipuja manusia
Kedengarannya memang sedikit jenaka
Tapi mungkin lebih indah dari alunan biola

Ku eja dan ternyata tak serumit angka-angka
Walaupun di dalamnya ku temukan ada rumus-rumus cinta

Oh Tuhan apakah yang sedang menimpanya
Kurasa sekarang hatinya melayang kealam nirwana
Matanyapun berkaca-kaca
Seketika mulut itupun terbata-bata
Saat dia sadari itu adalah sebuah surat cinta.

Mataram, 27 April 2009

GADIS BERPIPI MERAH

Mengagumimu adalah kebahagiaan
Mengenalmu adalah sebuah kesempatan yang diberikan tuhan
Dan mendambamu adalah sebuah keinginan yang terhalang
Wahai pipi yang kemerah-merahan

Wajahmu terkikis indah
Di setiap embun yang muncul dari setiap kuncup-kuncup daun di pagi yang basah
Begitu indah tak bias kubantah
Menggetarkan darah membuat gelisah

Lemparan senyum itu
Menyiratkan pribadimu
Kupu-kupu hitam putih menari indah
Menghibur hatinya yang lagi resah

Ada apa denganmu wahai gadis berpipi merah
Kemana tawa yang garing renyah
Setelah sesaat terpaku lemah
Dalam dekap malam yang telah tumpah

Tataplah awan saat malam panjang
Jangan biarkan bola bening bergulir di pipimu
Walaupun sekedar pengungkap rasa jemu
Yang kadang tak bias kau ramu

Gadis berpipi merah telah dewasa
Dan bagaikan sebuah romantika
Mengikuti jejak melukiskan panorama
Dan akan berakhir menjadi sebuah fenomena.

Mataram, 27 Maret 2009

BULAN SABIT

Bulan sabit terjepit rumit dikaki langit
Wujudnya setengah biskuit setelah tergigit
Seakan mengintip dari balik awan berbentuk bukit

Kenapa engkau malu
Tampakkanlah dirimu
Walau awan membalut basah
Menyelimuti hatinya yang lagi gundah

Cericit bola-bola liar berhamburan
Mengurungkan niatnya ke permukaan
Bulan sabit berkedip
Tersapu mentari yang siap terbit

Malam ini dia enggan terkapar
Sebelum sabit tampak bundar
Tapi harapannya kian pudar
Seiring awan menghapusnya samara-samar

Aduhai bulan sabit berbentuk celurit
Menyelinap di balik awan bagai dedemit
Jadi saksi pada bumi yang makin amit-amit

Mataram, 29 Maret 2009

KHUSNUL KHOTIMAH

Bila seketika kau terpejam sebelum sempat terjaga kembali

Sesaat jiwa sekejap meninggalkan raga

Tanpa ada aba-aba tanda siap siaga

Saat ajal yang tidak akan bias di tunda


Telah siapkan kita untuk mempersiapkan

Pertemuan terbaik dengan diri_NYA

Ataukan kita sedang berlumuran dosa dan noda

Padahal kita tau, kematian adalah awal menuju kehidupan yang sesungguhnya


Astaga..!!! Aku telah berleha-leha

Kata itu terucap saat Roh telah melewati rongga

Aku terlalu terlena denga romantika dunia

Jiwa ini terlalu angkuh bagaikan tak akan runtuh

Membuah waktuku dari balita hingga tua bangka

Sungguh akan jauh dari harum surga


Sadarlah wahai semuanya

Bersiaplah sebelum gema sangkakala

Dekatkan diri kepada para alim ulama

Biar kelak tidak dirundung nestapa


Alangkah untungnya orang yang memegang kaidah

Selalu berbenah menghindari fitnah

Menghiasi hari-hari dengan ceramah dan dakwah

Mendapatkan hidayah untuk terus beribadah

Hingga desah terakhir berbuah khusnul khotimah.



Mataram, 29 Maret 2009