Translate
REMBULAN MERAH
Kau berikan setetes kesejukan
Setelah sekian lamanya layu
Tampa setitik hujan membasahinya
Terimakasih Tuhan
Ku diberikan kesempatan untuk mendengarkan
Tawa lepas yang sekian lama kurindukan
Sebelum putus harap bermunculan
Mengapa jiwaku masih gundah
Kenapa sukma masih gelisah
Mungkin hati ini sedang berbunga-bunga
Tetapi pada kebun yang sudah ada penghuninya
Kenapa rasa ini kunjung pudar
Walau telah terhalang sebuah ikatan
Rembulan merah berikan jawaban
Sukma jiwa hanya bayangan
Seperti bunga-bunga yang mekar dan sekejap berguguran
Ku kembalikan padamu wahai sang pemberi kehidupan
Mataram, 15 Maret 2009
PUTERI
Tuk mencari jejak-jejak kaki yang bersembunyi
Setelah kau pergi tampa bisa ku curi
Dan tertinggal hanya memori berbuah mimpi
Adakah kau tercipta kembali
Walaupun hanya berupa fotocopy
Tuk menggantikan sketsa yang takkan pudar dalam naluri
Kau laksana catatan baku yang pernah tercatat dalam lembar kehidupanku
Akan ku kenang
Dalam halaman ke tujuh telah ku centang
Tentang raga yang seakan tumbang
Oleh selimut rasa yang terpendam
Putri
Ini bukan akhir dari bait ini
Biar terus ku cari arti
Dari sebuah kebutaan mata hati
Mataram, 10 Juni 2009
ABSTRAK
Berada pada transisi malam dan pagi
Terlelap dalam alam mimpi
Hanya jiwa ini yang masih gelisah
Mengisaratkan ada yang masih menggumpal seperti nanah
Di belakang titian waktu aku terus membuntuti
Seteah tuk kesekian kalinya kau bergeming dengan keberadaanku ini
Apa rasa ini tak boleh tumbuh walau tak mungkin ku rengkuh
Jiwa ini telah kering tuk sekian lamanya
Meski telah ku pejamkan mataku
Batinku menjerit
Dan masih ku dengar bisikan jiwaku yang telah kehilangan rasaku
Hingga aku ikuti jejak jutaan orang yang sedang berbisik lirih
Dengan doa dalam remang malam
Tuhan dengarlah Doaku
Aku tak ingin berdebat dengan mu
Kau telah menumbuhkan dan membesarkan rasa ini dalam jiwaku
Aku lebih siap menghadapi puluhan orang dengan bersenjatakan pisau tajam
Dari pada menghadapi keadaanyang begitu sulit kuterjemahkan.
Mataram, 8 Juni 2009
WANITA PILIHAN
Kau laksana pesona menjelma dalam nirwana
Ku kira sebuah replika tapi nyata
Terpancar karisma dari wajahmu dinda
Kuyakin kaulah dambaan setiap hamba
Tanda kebesaran dari sang penguasa kepada semesta
Begitu bersahaja membuah semua terpana
Memang manusia tak ada yang sempurna
Kesederhanaan dalam bersikap membuat terperanjat
Gemulai lembut langkahnya mencerminkan citra kaum hawa
Setiap kata yang terlontar begitu mesra dan bersahaja
Dan mungkin sebuah kata mutiara yang begitu apik terpelihara
Setiap kedipan matanya adalah bahasa
Serupa biru laut yang berkilau saat terik menerpa
Begitu indah, melemparkan kemurnian dalam kemilau jiwa
Tidak tergesa-gesa dan jauh dari rekayasa
Ayu nan jelita menentramkan alam yang gegap gempita
Kau pancarkan aura keindahan
Karena bibir itu selalu tersenyum
Bukan tertawa ataupun bersendawa
Ada adab disetiap berbicara
Dengan balutan jilbab kian bersahaja
Selalu terjaga dalam irama tahajjud
Saat mengutarakan maksud dalam sujud
Tak enggan memberi maat saat bibir salah ucap
Selalu berfikir positif dan inspiratif
Bintang cemerlang dan ilalangpun berdendang
Takkan lekang untuk dikenang
Selalu sadar bahwa kita seorang khalifah
Menjaga lidah, ramah tidak pemarah
Begitu anggun saat berbalut mukenah
Dan selalu menjaga tingkah karena dengan niat ibadah
Seketika tersentak saat azan berkumandang
Menghindar dari riuh lalu lalang
Sungguh idaman untuk di pinang
Wahai makhluk yang suci, pribadi yang sederhana
Putih bersih, yang begitu fasih melantunkan ayat-ayatnya
Mungkin mirip seorang bidadari
Membakar pori-pori menusuk sanubari
Dan bukan sebuah fantasi dalam karya fiksi
Setiap jejak mengandung akhlak
Hingga akupun tak dapat melukiskannya dalam sajak
Ini bukan sebuah bualan
Tapi ukiran sebuah keindahan dalam diri seorang wanita impian
Sebuah rangkaian kata-kata sacral
Yang ku rangkai dengan huruf-huruf kapital
Saat ku melihat bola mata sebening kristal
Jantungku berdetak kagum
Mungkin hanya ini yang bisa kurangkum
Dan akan membuatnya tersenyum
Bukalah hatimu wahai perempuan rupawan
Biarkan ku mejadi imammu setelah Al-quran
Kaulah sebuah titisan
Yang terbaik di ajak ke pelaminan
Semilir angina berhembus bagai syair
Teriring dalam setiap takbir dan zikir
Menumbuhkan hasrat dalam setiap kalimat
Mengikuti syariat agar mendapat syafaat
Kaulah wanita pilihan dari sekian hawa yang ku kenal
Mawar mekar indah terpancar
Dan sayup-sayup nada menyambut fajar
Sebelum ikrar padang mahsyar
Ikhlas ku tulis di saat malam
Dan ku akhiri dengan ucapan salam
Mataram, 23 Maret 2009
SEPUCUK SURAT CINTA
Menemukan celah membuat gelisah
Karena bias ku terjemah
Dari raut wajah yang tidak bisa terbantah
Dia terlihat ceria
Senyum lembuh dari gadis berbaju jingga
Beritu terlena akan sebuah goresan pena
Dari seorang yang mengungkapkan rasa bagai pujangga
Hari ini begitu sejalan dalam romantika
Selaksa embun menetes membasahi rongga
Memberi kesejukan hingga palung jiwa
Sesuatu telah menjelma
Sebongkah rasa yang begitu dipuja manusia
Kedengarannya memang sedikit jenaka
Tapi mungkin lebih indah dari alunan biola
Ku eja dan ternyata tak serumit angka-angka
Walaupun di dalamnya ku temukan ada rumus-rumus cinta
Oh Tuhan apakah yang sedang menimpanya
Kurasa sekarang hatinya melayang kealam nirwana
Matanyapun berkaca-kaca
Seketika mulut itupun terbata-bata
Saat dia sadari itu adalah sebuah surat cinta.
Mataram, 27 April 2009
GADIS BERPIPI MERAH
Mengenalmu adalah sebuah kesempatan yang diberikan tuhan
Dan mendambamu adalah sebuah keinginan yang terhalang
Wahai pipi yang kemerah-merahan
Wajahmu terkikis indah
Di setiap embun yang muncul dari setiap kuncup-kuncup daun di pagi yang basah
Begitu indah tak bias kubantah
Menggetarkan darah membuat gelisah
Lemparan senyum itu
Menyiratkan pribadimu
Kupu-kupu hitam putih menari indah
Menghibur hatinya yang lagi resah
Ada apa denganmu wahai gadis berpipi merah
Kemana tawa yang garing renyah
Setelah sesaat terpaku lemah
Dalam dekap malam yang telah tumpah
Tataplah awan saat malam panjang
Jangan biarkan bola bening bergulir di pipimu
Walaupun sekedar pengungkap rasa jemu
Yang kadang tak bias kau ramu
Gadis berpipi merah telah dewasa
Dan bagaikan sebuah romantika
Mengikuti jejak melukiskan panorama
Dan akan berakhir menjadi sebuah fenomena.
Mataram, 27 Maret 2009
BULAN SABIT
Wujudnya setengah biskuit setelah tergigit
Seakan mengintip dari balik awan berbentuk bukit
Kenapa engkau malu
Tampakkanlah dirimu
Walau awan membalut basah
Menyelimuti hatinya yang lagi gundah
Cericit bola-bola liar berhamburan
Mengurungkan niatnya ke permukaan
Bulan sabit berkedip
Tersapu mentari yang siap terbit
Malam ini dia enggan terkapar
Sebelum sabit tampak bundar
Tapi harapannya kian pudar
Seiring awan menghapusnya samara-samar
Aduhai bulan sabit berbentuk celurit
Menyelinap di balik awan bagai dedemit
Jadi saksi pada bumi yang makin amit-amit
Mataram, 29 Maret 2009
KHUSNUL KHOTIMAH
Bila seketika kau terpejam sebelum sempat terjaga kembali
Sesaat jiwa sekejap meninggalkan raga
Tanpa ada aba-aba tanda siap siaga
Saat ajal yang tidak akan bias di tunda
Telah siapkan kita untuk mempersiapkan
Pertemuan terbaik dengan diri_NYA
Ataukan kita sedang berlumuran dosa dan noda
Padahal kita tau, kematian adalah awal menuju kehidupan yang sesungguhnya
Astaga..!!! Aku telah berleha-leha
Kata itu terucap saat Roh telah melewati rongga
Aku terlalu terlena denga romantika dunia
Jiwa ini terlalu angkuh bagaikan tak akan runtuh
Membuah waktuku dari balita hingga tua bangka
Sungguh akan jauh dari harum surga
Sadarlah wahai semuanya
Bersiaplah sebelum gema sangkakala
Dekatkan diri kepada para alim ulama
Biar kelak tidak dirundung nestapa
Alangkah untungnya orang yang memegang kaidah
Selalu berbenah menghindari fitnah
Menghiasi hari-hari dengan ceramah dan dakwah
Mendapatkan hidayah untuk terus beribadah
Hingga desah terakhir berbuah khusnul khotimah.
Mataram, 29 Maret 2009