video-player{background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0TFaPhLViHrhCyUJ1w4nB9yeWzSdEDove04yU2ZWqmh90Y_UZaUT6qa7ix-Z0ygXnXYB3j6NwBQDZiubE2f3ogCBPMVjPQi2oXqSnBWB0nvImQAs4G1dYEnvNGVATiiTvXwLWboXN2hg/s1600/psd-samsung-p2370-monitor+3.png) no-repeat top center;height:458px;width:580px;padding-top:35px;margin-left:30px}

Translate

POTRET WAKTU

Dari hari ke hari
Dengan kidung belalang di daun padi
Celoteh bising siang mengering
Milik siapa pasir putih itu?
Pengikat janji petang berganti

Angin tak mau lagi searah dengan kata hati
Biar bersiul habis, hingga liur terkikis
Kau tak iba, tak segan dan tak rasa
Liurku sudah pekat rasa cuka

Kau ceritakan padaku ini luar biasa
Sebuah level baru yang membelalakkan mata
Saat perut telah keriuk perih
Menanti sesuap nasi yang gurih

Ingin Ku telanjangi satu persatu
Para Ibu yagn berhias diserambi itu
Kan kucopot kalung, cincin dan gelang
Yang menempel pada leher, jari dan lengan

Di dekat sumur tua tepi benua
Aku mengusap air mata
Ku lihat potret kejam
Saat mereka mengencangkan ikat pinggang

Jangan biarkan dan telanjarkan jasadku
Dari ragam warna dan harum bunga
Instingku mengatakan Ia, ini dia
Pilihan hati yagn ingin segera tercipta

Mataram, 2006

No comments: