Pada suatu senja dengan balutan mega
Kau laksana pesona menjelma dalam nirwana
Ku kira sebuah replika tapi nyata
Terpancar karisma dari wajahmu dinda
Kuyakin kaulah dambaan setiap hamba
Tanda kebesaran dari sang penguasa kepada semesta
Begitu bersahaja membuah semua terpana
Memang manusia tak ada yang sempurna
Kesederhanaan dalam bersikap membuat terperanjat
Gemulai lembut langkahnya mencerminkan citra kaum hawa
Setiap kata yang terlontar begitu mesra dan bersahaja
Dan mungkin sebuah kata mutiara yang begitu apik terpelihara
Setiap kedipan matanya adalah bahasa
Serupa biru laut yang berkilau saat terik menerpa
Begitu indah, melemparkan kemurnian dalam kemilau jiwa
Tidak tergesa-gesa dan jauh dari rekayasa
Ayu nan jelita menentramkan alam yang gegap gempita
Kau pancarkan aura keindahan
Karena bibir itu selalu tersenyum
Bukan tertawa ataupun bersendawa
Ada adab disetiap berbicara
Dengan balutan jilbab kian bersahaja
Selalu terjaga dalam irama tahajjud
Saat mengutarakan maksud dalam sujud
Tak enggan memberi maat saat bibir salah ucap
Selalu berfikir positif dan inspiratif
Bintang cemerlang dan ilalangpun berdendang
Takkan lekang untuk dikenang
Selalu sadar bahwa kita seorang khalifah
Menjaga lidah, ramah tidak pemarah
Begitu anggun saat berbalut mukenah
Dan selalu menjaga tingkah karena dengan niat ibadah
Seketika tersentak saat azan berkumandang
Menghindar dari riuh lalu lalang
Sungguh idaman untuk di pinang
Wahai makhluk yang suci, pribadi yang sederhana
Putih bersih, yang begitu fasih melantunkan ayat-ayatnya
Mungkin mirip seorang bidadari
Membakar pori-pori menusuk sanubari
Dan bukan sebuah fantasi dalam karya fiksi
Setiap jejak mengandung akhlak
Hingga akupun tak dapat melukiskannya dalam sajak
Ini bukan sebuah bualan
Tapi ukiran sebuah keindahan dalam diri seorang wanita impian
Sebuah rangkaian kata-kata sacral
Yang ku rangkai dengan huruf-huruf kapital
Saat ku melihat bola mata sebening kristal
Jantungku berdetak kagum
Mungkin hanya ini yang bisa kurangkum
Dan akan membuatnya tersenyum
Bukalah hatimu wahai perempuan rupawan
Biarkan ku mejadi imammu setelah Al-quran
Kaulah sebuah titisan
Yang terbaik di ajak ke pelaminan
Semilir angina berhembus bagai syair
Teriring dalam setiap takbir dan zikir
Menumbuhkan hasrat dalam setiap kalimat
Mengikuti syariat agar mendapat syafaat
Kaulah wanita pilihan dari sekian hawa yang ku kenal
Mawar mekar indah terpancar
Dan sayup-sayup nada menyambut fajar
Sebelum ikrar padang mahsyar
Ikhlas ku tulis di saat malam
Dan ku akhiri dengan ucapan salam
Mataram, 23 Maret 2009