Pada suatu hari, dua ekor burung dara putih sedang asyik bermain diatas atap rumah, mereka sangat senang setelah terbang jauh dan berputar – putar mengitari desa. Tetapi tidak demikian dengan seekor burung dara hitam yang kelihatan sangat sedih, karena kedua saudaranya itu tidak mau bermain dengannya. Gara – gara warna bulu mereka berbeda. Kedua burung dara putih tidak mau mengakui kalau burung dara hitam adalah saudara mereka. Mereka menganggap burung dara hitam adalah anak pungut.
Sekitar tiga bulan yang lalu, satu dari tiga telur induk burung dara sempat terjatuh dari tempatnnya saat sedang mengeraminya, tetapi telur tersebut tidak pecah karena jatuh tepat diatas setumpuk tai sapi yang berada di bawah tempatnya mengeram telur tersebut. Dengan susah payah induk burung dara mengambil telur yang terjatuh ke tai sapi tersebut dan mengangkatnyanya ketempat semula.
Walaupun telur itu telah kotor dan bau oleh tai sapi, tetapi induk burung dara tidak sedikitpun merasa jijik, dia sangat menyayanginya sama seperti kedua telurnya yang lain. Dua minggu kemudian, dua dari tiga telur burung dara itu menetas bersamaan, dan tinggal satu telur yang belum menetas. Dari dua telur yang menetas itu keluar anak burung dara yang sangat lucu – lucu dan sehat. Tetapi satu telur yang pernah terjatuh belum juga bisa menetas. Satu minggu kemudian kedua anak burung dara sudah mempunyai bulu – bulu yang halus dan berwarna putih. Bersamaan dengan itu menetaslah telur yang satunya lagi, ia juga tampak lucu dan sehat. Tetapi ada yang kelihatan aneh dari dirinya. Tidak seperti kedua saudaranya yang menetas duluan, mereka begitu manja dan pemalas. Lain halnya dengan anak burung dara yang menetas belakangan ini, dia sangat pendiam tetapi rajin. Setelah beberapa hari, induk burung dara sangat kaget melihat warna bulu anaknya yang berwarna hitam, padahal dia dan kedua anaknya yang lain mempunyai bulu berwarna putih.
Walaupun demikian, tidak membuat induk burung dara pilih kasih. Dia tetap menyayanginya seperti dia menyayangi kedua anaknya yang lain. Tetapi hal itu tidak terjadi pada kedua anak burung dara putih. Mereka sangat membenci si hitam (mereka memanggilnya ), karena warna bulu mereka berbeda, mereka tidak mau mengakui kalau si hitam adalah saudara mereka.
Beberapa bulan kemudian kedua anak burung dara putih sudah beranjak dewasa dan sudah bisa terbang, tetapi tidak demikian dengan anak burung dara hitam yang masih lemah. Jangankan terbang berjalanpun dia masih terseok – seok. Kedua saudaranya sering mengejeknya sampai menangis, walaupun induk burung dara sudah memberitahukan bahwa anak burung dara hitam adalah saudara mereka, tetapi mereka tetap tidak mau mengakuinya.
Hari – hari burung dara hitam begitu penuh dengan penderitaan, selain diolok – olok dia juga sering disuruh mengerjakan tugas – tugas kedua saudaranya, tetapi dia tidak pernah berani menolak dan mengeluh. Dia tetap bersikap baik kepada kedua saudaranya itu dan selalu mengalah. Dia juga merelakan saat jatah makannya diambil oleh kedua saudaranya.
Pada suatu hari cuaca tampak kurang bersahabat, mendung menutupi langit sehingga matahari tidak bisa tampak sedikitpun. Seperti biasa burung dara hitam sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari sang ibut termasuk seluruh pekerjaan kedua saudaranya, seperti membersihkan kandang dan menyiapkan makanan.
Sementara itu kedua burung dara putih sedang asyik bermain, salah satu dari mereka mengajak untuk pergi bermain di angkasa.
“ Hai...saudaraku!, ayo kita main di angkasa, kita main kejar- kejaran biar lebih asyik” teriak burung dara putih yang agak gemuk.
“ Nggak usah!, kita main sini aja” sahut burung dara putih yang lebih kurus.
“ Eh... kamu pengecut sekali!, memangnya kenapa?”tanya burung dara putih gemuk.
“ Sekarang kan lagi mendung, nanti bisa turun hujan, kita kan bisa dimarah sama ibu” jawab burung dara putih kurus.
“ Sebentar aja kok!, nggak lama” ajak burung dara putih gemuk.
“ Ya sudah!, kalau kamu nggak mau biar aku sendiri aja yang pergi main”, bentak burung dara putih gemuk agak kesal dan langsung terbang tinggi ke angkasa.
“ Eh tunggu!, aku ikut...!” teriak burung dara putih kurus sambil terbang mengejar saudaranya.
Ketika mereka lagi terbang tinggi dan asyik sedang asyik berputar – putar saling mengejar, tiba – tiba angin kencang datang, mereka tidak menyadari bahaya datang. Angin menghempaskan tubuh mereka dan membawa mereka ketempat yang jauh dari rumah mereka.
Saat itu burung dara hitam sedang beristirahat di bawah pohon setelah selesai membersihkan kandangnya, dia tersentak kaget mendengar teriakan kedua saudaranya yang terbawa angin kencang entah kemana. Dia berjingkrak - jingkrak berusaha berteriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar saat itu. Karena saking paniknya, anak burung dara hitam melesat ke udara berusaha mengejar kedua saudaranya yang telah jauh terbawa angin kencang.
Setengah har penuh dia berputar – putar di udara namun tidak menemukan kedua saudaranya. Dari tengah hutan samar – samar terdengar teriakan minta tolong.
“ Toloooong.....toloooong....tolong kami” teriak kedua burung dara putih, burung dara hitampun terbang kearah suara itu dan ternyata itu adalah saudaranya yang tersangkut pada semak belukar, mereka terhempas oleh angin, mereka sudah berusaha keluar dari semak tetapi tidak berhasil karena tenaga mereka telah habis,” Kakaaak....!” tiba – tiba burung dara hitam datang. “ Adik burung dara hitam kami disiniiii” sahut kedua burung dara putih.
Akhirnya mereka diselamatkan oleh burung dara hitam. Mereka tampak heran dengan mata melotot melihat burung dara hitam bisa terbang, padahal selama ini dia tidak bisa terbang.
“ Dara hitam!, kamu bisa terbang” teriak burung dara putih
“ Hah...!” Burung dara hitam kaget, ternyata dia juga baru sadar kalau dirinya bisa terbang tinggi, burung dara hitam melompat – lompat kegirangan “ Aku bisa terbang , aku bisa terbang...” teriaknya senang.
“ Dara hitam, maafkan kami berdua ya, selama ini kami selalu membencimu, sekarang kamu sudah menyelamatkan nyawa kami” kata burung dara putih
“ Ya nggak apa – apa, aku sudah memaafkan kalian kok” jawab burung dara hitam
“ terima kasih ya dara hitam, kamu baik sekali” kata burung dara putih sambil memeluk burung dara hitam.
Akhirnya mereka bertiga pulang kerumah dan semenjak saat itu mereka selalu bermain, pergi dan terbang bersama - sama, burung dara hitam sangat senang karena mendapatkan dua keberuntungan sekaligus. Pertama karena kedua saudaranya telah mau mengakuinya sebagai saudara, dan yang kedua dia sudah bisa terbang seperti burung dara putih, dan mereka akhirnya berbahagia.
SEKIAN
MATARAM, 2008
No comments:
Post a Comment