Hari beranjak siang, hawa panas menyengat membakar pori-pori, butiran keringat bercucuran membasahi tubuh setengah baya itu, punggungnya terlihat mengkilat, tak tertutup selembar bajupun, hanya menggunakan celana kusam yang sebagian telah basah oleh keringat dan begitu kusam oleh tanah, mau di cucipun percuma, karena tetap akan kotor juga. Sebuah topi dari rotan tak kalah kusamya bercokol di kepalanya, sekedar pelindung dari terik matahari atau bongkahan tanah yang bisa mengotori kepalanya. Tangan itu telah berlumuran oleh tanah, seakan kuku pun tak terlihat lagi, tapi jari jemari itu kelihatan begitu kuat dan perkasa saat mencengkram sebatang besi baja berukuran dua meter, kedua sisi ujungnya mulai tumpul, mungkin tak mampu lagi untuk memecahkan bongkahan batu cadas yang mengambang tepat berada di mulut lubang itu.
Sejenak lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada dinding lubang, dengan posisi kaki tertekuk dia membuka topinya lalu dikipaskan ke tubuhnya. Batang linggis itu tepat berada didepannya menyandar ke dinding lubang. Disebelahnya sebuah kobokan dari batok kelapa dan beberapa lempeng betel dari potongan besi baja tergeletak di tanah seakan menemaninya. Di tatapnya batang linggis itu sesaat, terlihat langit di atas sana begitu jauh, sebuah terpal sebagai pelindung dari sengatan matahari direntangkan menutupi lubang, sebatang bambu menjulur dari sisi kiri ke sisi kanan lubang dengan lilitan tali tambang yang di ujungnya bergelantungan sebuah keranjang terbuat dari bambu sebagai pengangkut material tanah dari dalam lubang.
Hawa pengap dan lembab menyelimuti lubang, lelaki itu mendesah perlahan, sinar mataharipun sudah tidak mampu menembus ke dalam dasar lubang, jauh sudah lelaki itu menghujamkan linggisnya, menembus tanah liat, kerikil, pasir dan bebatuan yang bergelimpangan, namun belum ada tanda-tanda akan munculnya sumber mata air itu. Pekerjaan itu sudah dilakoninya bertahun-tahun, sungguh bukan pekerjaan mudah dan ringan, bahkan bisa dikatakan ekstrim, karena amat sangat berat dan beresiko, dapat di bayangkan bila kita harus masuk kedalam lubang berukuran dua meter dengan kedalam mencapai 12 meter bahkan lebih ke dalam perut bumi, mengayunkan sebatang linggis seberat puluhan kilogram, dan memecahkan bongkahan-bongkahan batu cadas sedikit demi sedikit, dengan sebuah betel berukuran 15 cm, menaikkan berton-ton material tanah ke atas permukaan tanah dengan perlahan, sungguh pekerjaan yang sangat berat mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan yang membutuhkan stamina yang powerful untuk mengerjakananya. Hanya bermodalkan tenaga dan badan besarpun tidak menjadi jaminan, dibutuhkan kesabaran yang besar dan strategi khusus untuk membaca urat dan garis-garis tanah di dalam sana. Jika itu tidak dikuasai, sungguh tidak mudah untuk menembus ke dalam perut bumi yang begitu keras untuk menemukan sumber mata air, sehingga ada yang mengatakan naluri seorang penggali sumur setajam ujung linggisnya.
Kali ini tampaknya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepada lelaki itu sebagai penggali sumur, entah berapa banyak sudah sumur yang di buat dan telah bisa dinikmati orang, baik untuk minum, mandi, mencuci, bahkan untuk mengairi tanaman mereka. Dari yang dalamnya bisa di jangkau dengan tangan hingga yang menggunakan puluhan meter tali tambang dalamnya telah ia kerjakan, dari yang mudah hingga yang sulit sekalipun, dan dari yang hanya tiga atau empat hari sampai berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai tahunan karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Dua bulan sudah lelaki itu menggali hingga telah mencapai kedalaman yang mengerikan. Tepatnya di pekarangan rumah Pak Amir, warga kampung sekecamatan dengan kampungnya, rumahnya terletak di daerah perbukitan dan termasuk dalam kategori dataran tinggi hingga sangat sukar menemukan mata air. Wajar saja jika saat ini lelaki itu harus bekerja super ekstra untuk menggali dan menemukan mata air. Dan bukan karena itu saja, tekstur tanah yang keras disertai bebatuan membuat penggalian kurang lancar. Ini bukan lubang pertama yang coba di gali oleh lelaki itu. Telah tiga kali dirinya berpindah tempat, mulai dari belakang, depan dan samping kiri rumah namun selalu gagal. Setelah sampai dua atau tiga meter menggali dia selalu menemukan bongkahan batu besar yang menutupi lubang. Seandainya sebongkah batu kapur mungkin penggalian bisa dilanjutkan, tetapi karena batu cadas hitam sekeras karang, besar pula, sehingga urung dilanjutkan, sehingga dia memilih tempat lain untuk membuat galian, tepatnya berada di sisi kanan rumah.
Memulai membuat lubang galianpun tidak semudah perkiraan, bukan asal gali, tapi dibutuhkan ritual dan persyaratan khusus serta pertimbangan yang matang agar proses berjalan lancar, karena bukan pekerjaan mudah, jika salah perhitungan nyawapun bisa menjadi taruhannya. Pagi-pagi buta setelah selesai sholat subuh, lelaki itu mendatangi rumah Pak Amir, dia berjalan sekitar lima kilometer dari rumahnya melewati hamparan sawah dan perkampungan penduduk. Di jaman semodern sekarang ini lelaki itu masih memanfaatkan kekuatan kakinya untuk berjalan menempuh jarak sejauh itu. Bukan tanpa sebab karena dia tidak bisa menggunakan sepeda motor bahkan tidak berani menaikinya, sebuah sepeda ontelpun yang dibelikan istrinya hanya menjadi pajangan dibelakang rumahnya karena tidak pernah dipakai. Dia lebih suka berjalan kaki yang katanya lebih aman walaupun lebih lamban, mungkin dia salah satu orang yang berpegang teguh pada pepatah yang mengatakan “biar pelan asal selamat”.
Mentari dilangit timur tampak bersinar terang, udara pagi yang segar seakan menambah umur, cericit riuh burung terdengar saling bersahutan seakan memberi kabar gembira dengan datangnya pagi itu. Tibanya musim kemarau merupakan telah dimulainya kesibukan bagi lelaki itu, sebab bila musim penghujan tiba, tidak ada satupun permintaan membuat sumur dari orang-orang yang merupakan mata pencahariannya. Tampaknya musim kemarau kali ini akan panjang, sekitar lima orang telah datang kerumahnya meminta untuk dibuatkan sumur, namun Pak Amir mendapatkan kesempatan pertama dari lelaki itu untuk dibuatkan sumur dirumahnya.
Setelah sekitar satu jam perjalanan akhirnya lelaki itu tiba dirumah Pak Amir. Pak Amir dan istrinya menyambutnya dengan ramah, mereka langsung langsung larut dalam pembicaraan diserambi rumah, pembicaraan akhirnya sampai pada ongkos dan persyaratan-persyaratan yang harus disediakan. Melihat kondisi tempat Pak Amir tinggal, lelaki itu meminta bayaran Dua juta rupiah untuk sebuah sumur sampai jadi, setelah melalui negosiasi panjang akhirnya mereka sepakat untuk biaya pembuatan sumur sebesar Satu setengah juta rupiah, tampaknya lelaki itu masih memegang tegus sikap kekeluargaan sehingga proses tawar menawar masih bias dilakukan walaupun untuk sebuah pekerjaan yang entah berapa lama ia harus menyelesaikannya. Jika hanya dua atau tiga meter langsung menemukan mata air mungkin untung, tapi bila harus mencapai kedalaman belasan atau bahkan puluhan meter, tentunya membutuhkan waktu berbulan-bulan, upah itupun harus dibagi dua dengan rekannya nanti, karena tidak mungkin dia akan bekerja sendiri, harus ada teman untuk bergantian dari atas maupun bawah lubang.
Berselang beberapa saat, istri Pak Amir keluar dari dapur sambil membawa nasi untuk sarapan serta dua cangkir kopi hitam, setelah selasai sarapan, Pak Amir menyuruh istrinya untuk menyiapkan semua permintaan lelaki itu, agar proses penandaan lokasi tempat penggalian segera dimulai. Sekitar lima kilogram beras telah disiapkan pada sebuah sador (Nampan yang terbuat dari besi), diatasnya diletakkan beberapa lembar daun sirih dan segelas air putih, tidak ketinggalam pecahan mata uang lima ribuan terlihat ditanam diatas gundukan beras, katanya sebagai salawat, serta dua buah kelapa tua tergeletak tidak jauh dari beras, seekor ayam betinapun telah disiapkan dan dipotong di lokasi yang akan di gali. Ritual penandaanpun dimulai, sebilah bambu selebar tiga jari dengan panjang tiga meter digunakan untuk mengukur diameter lubang. Setelah sebelumnya dilakukan pembersihan di sekitar lokasi, lelaki itupun mengambil linggis andalannya, bibirnya sesaat terlihat komat kamit entah apa yang dibacanya, lalu ia menghujamkan linggisnya ke tanah beberapa kali, setelah dirasa cukup dia membiarkannya tertancap, setengah gelas air di siram di ujung linggis yang merupakan telah selesainya proses penandaan dan penggalian sumurpun siap untuk dimulai.
Dua bulan sudah lelaki itu dan temannya menggali, mengeruk tanah dari dalam perut bumi dan menaikkannya ke permukaan, sudah berbagai jenis lapisan tanah ia lalui, dari yang lembut, gersang hingga bongkahan bebatuan. Linggis itupun sudah tiga kali di bawa ke tukang pandai besi untuk diruncingkan ujungnya, karena selalu tumpul oleh bebatuan yang ia lalui.
Jauh di dalam lubang, di dalam perut bumi yang berukuran sekitar dua meter, lelaki itu masih duduk terpaku, sambil sesekali mengusap wajahnya dengan tangan, udara yang sudah mulai lembab tidak mampu meredam guyuran keringatnya. Di teguknya air putih yang ditempatkan pada sebuah ceret aluminium yang sudah tercampur dengan es batu untuk membasuh tenggorokan yang terasa kering. Kondisi lubang yang sudah mulai remang menambah sukarnya penggalian, namun lelaki itu tidak putus asa, itu merupakan resiko dari pekerjaanya selama ini, walaupun berat namun harus tetap dijalani dengan ikhlas. Dia yang buta akan huruf-huruf, tidak bisa membaca dan menulis karena tidak pernah mengecap bangku sekolah. Namun dalam benaknya tumbuh sebuah keinginan yang begitu besar, cita-cita untuk menafkahi keluarganya dengan rizki yang halal dan menyekolahkan ke dua anaknya setinggi mungkin, biar tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya, sungguh dia tidak mau melihat anak-anaknya mengikuti jejaknya saat ini, terbukti saat ini kedua anaknya masih bersekolah, anaknya yang Sulung sebentar lagi akan menjalani ujian skripsinya di salah satu perguruan tinggi negeri, sedangkan yang Bungsu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Itulah yang selalu memotivasinya untuk tetap semangat menjalankan profesinya, walaupun bayaran yang di terima kadang tidak sebanding dengan usahanya tetapi lelaki itu tetap yakin Tuhan telah mengatur jalan hidupnya, mengatur rizkinya dan dan menjaga keluarganya.
Seketika ia berkaca-kaca, sesuatu terucap dari bibirnya yang kering, “Ya Allah….mudahkanlah langkahku dijalan yang engkau ridhoi, buatlah semuanya menjadi mudah dengan kehendakmu, karena hanya kepadamulah Aku berserah diri, Amin…..” , “Pak sudah sore!, kita lanjutkan besok saja!” terdengar suara dari atas memanggilnya, rupanya itu temannya menyuruhnya istirahat karena hari sudah beranjak sore. Lelaki itupun terperanjat, dia baru menyadari dirinya terpegur dalam lamunan. “Astagfirullahalaadzim…..”, dia berdiri dari duduknya, “Iya….saya akan naik!”, sahutnya lantang. Suaranya menggema terdengar sampai atas, lelaki itu melirik ke arah jam tangn lengan kirinya, walaupun sebagian tertutup tanah namun masih tampak jelas jarum jamnya menunjukkan pukul 16.30 sore, “Ya Allah….saya belum sholat!”, gumamnya lalu merapikan semua peralatan dan ditumpuk menjadi satu pada sisi dinding lubang, lalu merangkak naik perlahan, berpegangan pada lubang-lubang di sisi kiri dan kanan dinding yang sengaja di buat seukuran kobokan sebagai jalan untuk naik maupun turun ke dalam lubang, karena tidak mungkin menuju lubang sedalam itu bisa menggunakan tangga. Perlahan dia merangkak bagai Spiderman yang sedang memanjat gedung bertingkat, setelah beberapa saat kepalanya terlihat muncul dari mulut lubang, temannya lalu menariknya naik ke atas, “ Alhamdulillah….”, Katanya sambil mengusap-usap keringatnya, bibir itu masih sempat tersenyum kepada Pak Amir yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, walaupun badan terasa remuk dan diselimuti rasa capek dan pegal yang teramat sangat.
“Bagaimana Pak!, apa sudah ada tanda-tanda?” Tanya Pak Amir menghampiri lelaki itu, “Masih belum Pak, Insya Allah sebentar lagi”, jawabnya meyakinkan. Setelah membersihkan badannya dan selesai mendirikan sholat, lelaki itu dan temanya mendapatkan jamuan dari Istri Pak Amir, hidanganpun telah tersedia di serambi rumah, keakraban begitu terlihat walau hanya dengan lauk ikan asin, sambal terasi dan sayur bayam, dan di akhiri dengan secangkir kopi hitam yang telah disediakan pula. “Apa sebaiknya jangan dilanjutin pak?”, Pak Amir memulai pembicaraan, “Maksud Bapak!”, lelaki itu memperbaiki duduknya sambil menyedot lilitan batang rokok dari tembakau hitam. “Sudah sedalam ini belum juga ada tanda-tanda airnya akan keluar, apa tidak sebaiknya kita pindahkan ke tempat yang lain lagi pak?”, lanjut Pak Amir. Sejenak lelaki itu terdiam dan menarik nafas “Pak, ini sudah yang ke tiga kalinya kita pindahkan, dan ini sudah yang terdalam, kita lanjutkan saja beberapa meter lagi, sudah terlanjur?”, ujar lelaki itu sambil menatap ke arah Pak Amir. “kalau begitu terserah Bapak aja, tapi kalau memang airnya tidak muncul juga sebaiknya kita pindahkan saja pak tempatnya?”, ujar Pak Amir menjelaskan dengan nada pesimis, lelaki itu dan temannya sejenak berpandangan, terbayang dalam otaknya jika harus menggali ulang lagi dari awal. “Kita liat besok saja Pak?”, Jawab lelaki itu lirih. Beberapa saat kemudian dia dan temannya pamit pulang, Pak Amir dan Istrinya mengantarkan mereka sampai di halaman, setelah mereka lenyap di balik tikungan jalan mereka masuk ke dalam rumah.
Sekitar satu jam perjalanan melawati perkampungan dan hamparan persawahan, lelaki itupun tiba dihalaman rumahnya, jarum jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 18.05 sore, terlihat Istri dan Anaknya sedang duduk di teras rumah, mereka berdiri setelah melihat kedatangan lelaki itu, Istrinya tersenyum menyambut kedatangan suaminya, “Gimana Pak, apa sudah ada airnya?”, Tanya istrinya. ”Belum Bu, cuma baru kelihatan lembab sedikit, malah Bapak bertemu batu besar lagi, tepat mengambang di tengah-tengah lubang”, jelas lelaki itu sambil menarik nafas panjang, tanganya meraih gelas air yang disuguhkan istrinya lalu meneguknya. “Insya Allah beberapa meter lagi pasti airnya ketemu”, ujarnya sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah yang sudah mulai berlumut. “Sabar ya Pak, mudah-mudahan airnya segera muncul”, Istrinya mencoba menghiburnya. “Iya Bu, tapi yang jadi pikiran Bapak adalah Pak Amir meminta Bapak memindahkannya lagi bila airnya tidak juga kunjung muncul?”, lanjut lelaki itu sambil menatap kearah istrinya yang duduk disampingnya. “Terus!, Bapak sanggupin?”, Istrinya setengah kaget dan menatap tajam ke arah suaminya, “Belum, Bapak mau melihatnya lagi sampai besok pagi, kalau belum juga muncul airnya, mau tidak mau Bapak harus memindahkannya, tapi mudah-mudahan ada mukjizat dari Allah SWT”, mata lelaki itu terlihat berkaca-kaca, “Amin…..!!!”, sahut istri dan anaknaya mengamini. Waktu magribpun tiba, lelaki itu mengajak istri dan anaknya sholat berjamaah, setelah selesai sholat isya mereka duduk-duduk sejejak di teras rumah ditemani secangkir kopi hangat dan sepiring singkong goreng.
Malam semakin larut, di luar udara dingin mulai terasa menusuk tulang, kabut mulai turun menyelimuti perkampungan yang berada di bawah bukit itu seakan telah tertidur pulas, namun lelaki itu masih terjaga, pikirannya melayang entah kemana, diliatnya istrinya sudah tertidur pulas disampingnya, dengan perlahan ia beranjak dari tempat tidur lalu melangkah keluar, rupanya dia pergi mengambil air wudhu, diliatnya jarum jam di dinding rumahnya menunjukkan pukul 03.00 pagi, dalam kehenignan malam dia bersimpuh di atas sajadah mendirikan sholat tahajjud, setelah salam, diangkatnya kedua tanganya sampai hamper menyentuh dagu, dengan wajah setengah menengadah ke atas. “Ya Allah, Tuhan yang maha kuasa, ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dan dosa keluargaku, kepadamu aku bersimpuh memohon pertolongan dari mara bahaya dan kesukaran hidup, kuatkan imanku agar selalu tetap berada di jalanmu, tabahkan hatiku dalam malalui setiap cobaan hidup yang engkau berikan, berikan kemudahan kepadaku dan keluargaku dalam segala urusan, karena hanya engkaulah tempatku meminta pertolongan, dan hanya kepadamulah aku berserah diri, amin….”, Lelaki itu mengakhiri doanya dengan mengusap kedua telapak tangan ke mukanya. Tanpa sadar pipinya telah basah oleh butiran-butiran bening yang mengalir dari kelopak mata setengah baya itu. Beberapa saat kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya, kembali pikiran itu datang menghantuinya, dia kembali teringat kata-kata Pak Amir kemarin untuk memindahkan tempat galian sumur bila ditempat saat ini tidak juga muncul airnya. Dia menarik nafas panjang sambil berusaha memejamkan matanya, mungkin karena lelah dan mengantuk akhirnya diapun tertidur memasuki alam mimpinya.
Dalam alam bawah sadarnya dia melihat seorang lelaki tua berjenggot dan berjubah putih, lelaki tua itupun menghampirinya dan menepuk pundaknya, dan berkata, “Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melebihi kemampuannya, bila kau yakin padanya, memohonlah pertolongannya, bersujudlah menghadap qiblat yang dia ciptakan dengan kebesaran dan kekuasaaanya, sesungguhnya dia maha mengetahui segala yang ada di langit dan dibumi”, baru saja ia akan mengatakan sesuatu tiba-tiba lelaki tua itu menghilang dari hadapannya, ia tersentak kaget sambil berteriak ”Pak!...pak!”, teriakanya membuat istrinya terkejut dan terbangun dari tidurnya.
“Pak!...pak!...bangun…Pak!”, istrinya berusaha membangunkan suaminya sambil mengguncang-guncang badanya. Lelaki itu seketika terperanjat dan langsung bangkit dari tempat tidur, rupanya dia bermimpi, Istrinya segera menyalakan lampur kamar lalu keluar mengambil segelas air minum untuk suaminya. Ditatapnya wajah suaminya yang tampak berkeringat dengan penuh tanda tanya, “Istighfar Pak!” Bapak pasti mimpi buruk?”, Tanya istrinya dengan nada penasaran sambil menyodorkan segelas air putih, “Iya bu, Bapak mimpi ketemu dengan seorang lelaki tua berjenggot dan berjubah putih, tidak jelas wajahnya, lalu bapak belum sempat mengatakan apa-apa dia sudah lenyap begitu saja dari hadapan Bapak, bapak berteriak sekencang-kencangnya mencarinya kesana-kemari namun dia hilang entah kemana bagai ditelan bumi”, ujar Lelaki itu menceritakan mimpinya kepada istrinya sambil mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya. “Pantas saja Bapak teriak- teriak dari tadi kayak orang kenapa napa, ibu takut jadinya”, ujar istrinya sambil mengerutkan dahinya. Beberapa saat kemudian terdengar lantunan Adzan dikumandangkan tanda waktu sholat subuh telah tiba, mereka lalu sholat berjamaah bersama anaknya.
Panas musim kemarau mulai menyengat, teman lelaki itu sudah berada di dalam lubang dari pagi untuk menggali dan terus menggali, kini giliran lelaki itu yang berada diatas bertugas memutar batang bambu yang dugunakan untuk menaikkan tanah hasil galian dari dalam lubang, urat lehernya terlihat keluar saat memutar batang bambu, entah berapa kubik tanah sudah di naikkan ke atas, di sekitar mulut lubang sudah menggunung tumpukan tanah, pasir bercampur bebatuan. Sampai memasuki waktu Sholat Dzuhur tiba, mereka akhirnya istrihat untuk sholat dan makan siang, jarum jam menunjukkan pukul 14.00 siang, kini tiba giliran lelaki itu yang harus turun ke dalam lubang yang sudah belasan meter dalamnya untuk menggali, dia mulai turun perlahan, sesampainya di dasar lubang yang makin gelap dan lembab lelaki itu membuka bajunya, aroma bebatuan dan tanah begitu menyengat menusuk hidung, karena terbatasnya penglihatan di dalam, dia meminta Pak Amir menyediakan lampu sebagai penerang. Lelaki itu mengambil linggisnya yang bersandar pada dinding lubang, lalu mengusapnya dengan lap, tampak bekas galian temanya sekitar setengah meter di sisi timur lubang, lelaki itu membersihkan ujung linggisnya yang kelihatan mulai tumpul, badanya menghadap kearah timur, matanya tertuju pada bongkahan batu cadas yang tepat berada diatas dia berdiri, terlihat ada guratan-guratan garis kuning keemasan di permukaan batu yang begitu keras dan mulai lembab, perlahan kedua tanganya mencengkram batang linggis era-erat, lalu di angkatnya ke udara sekuat mungkin, tapi baru saja ujung linggis mau dihujamkan ke permukaan batu, saat ujungnya tepat berada didepan wajahya, tiba-tiba dia terdiam sejenak bagai patung dengan batang linggis masih berada di atas kepalanya.
Sesaat dia teringat kembali dengan kata-kata seoranag lelaki tua yang hadir dalam mimpinya semalam, “Bersujudlah menghadap qiblat yang dia ciptakan dengan kebesaran dan kekuasaanya, sesungguhnya dia maha mengetahui seluruh isi yang ada di langit dan didalam bumi”. Kata itu terlintas dalam pikiranya, “Apa itu sebuah petunjuk?”, gumamnya sesaat, “Orang sholat dan bersujud menghadap qiblat, dan qiblat itu berada disebelah barat”, ujarnya penuh tanda tanya lelaki itupun berbalik dan dengan sekuat tenaga, “Bismillahirrahmanirrahim!”, seketika batang linggis menghujam permukaan batu, dan “Bugh..!!”, suara menggemuruh terdengar sampai kemulut lubang, linggis itupun tertancap pada batu cadas yang keras, ditariknya kembali namun seakan linggis itu terpaku di dalam batu, tak bergerak sedikitpun, dengan sekuat tenaga dia berusaha mencabut batang linggis itu sambil berteriak “Allahu akbar…!!”, tiba-tiba linggis itu bergerak seperti terdorong ke atas, dan “Subhanallah..!!”, teriaknya keras, seketika air muncrat ke atas begitu derasnya dari dalam lubang batu, lelaki itu berteriak memanggil temanya dan Pak Amir yang sedari tadi berada diatas, mereka terkejut mendengar lelaki itu berteriak di dalam lubang, apa gerangan yang terjadi, mereka diselimuti tanda tanya.
“Kenapa Pak!, ada apa?”, teriak Pak Amir dari atas, “Airnya keluar Pak!”, teriakan lelaki itu terdengar mengema dari dalam lubang, “Alhamdulillah…”, serentak mereka mengucap syukur kepada yang maha kuasa atas munculnya mata air yang begitu besar, bening, dan segar, mengalir deras dari dalam perut bumi. Beberapa saat kemudian lelaki itu merapikan dasar lubang, setelah selesai dia mulai menaikkan peralatannya satu persatu ke atas, tidak lupa sebuah lubang kecil seukuran kepala manusia dibuat di sisi barat dasar lubang, tepat berada di tempat keluarnya mata air itu. Setelah semuanya selesai, dari peroses pembersihan sampai pembuatan dinding sumur dari batu bata, acara syukuranpun siap dilakukan sebagai penutup agar air sumur itu bisa segera digunakan. Pak Amir terlihat begitu sumringah, rasa senang yang sangat terlihat jelas diwajahnya, betapa tidak, akhirnya setelah berbulan-bulan dalam penantian, mata air itu akhirnya muncul juga, bahkan kurang dari satu jam airpun sudah terlihat memenuhi lubang setinggi kira-kira satu meter.
Menjelang sore, lelaki itu dan temanya berpamitan kepada Pak Amir dan istrinya, karena dia sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, Pak Amir dan istrinya mengucapkan terimaksih karena telah dibuatkan sumur di dekat rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang lelaki itu terlihat bersemangat, senyum selalu terlempar dari bibirnya kepada setiap orang yang dijumpainya sepanjang jalan, walaupun badanya terasa letih, tangan kirinya memegang erat seekor ayam betina pemberian Pak Amir, sementara dipundaknya memikul sebuah karung berisi beras dan sebuah kelapa tua. Beberapa saat kemudian Ia akhirnya tiba di halaman rumahnya, “Assalamualaikum”, teriakannya terdengar lantang, “Waalaikumsalam”, istrinya yang sedang berada di belakang rumah berlari tergopoh-gopoh menyambut suaminya, “ Sudah pulang Pak, bagaimana?”, tanya istrinya penasaran, “Alhamdulillah sudah selesai bu, airnya sudah keluar, besar lagi”, jelas lelaki itu kepada istrinya, “Alhamdulillah..”, sahut istrinya sambil mengusap kedua telapak tangan ke wajahnya.
“Ini bu dari Pak Amir dan istrinya”, lelaki itu menyerahkan karung beras dan ayam yang dibawa kepada istrinya, “Si bungsu mana bu?”, tanya lelaki itu menanyakan anak bungsunya yang tak terlihat, “Tadi kakanya nelpon ke Pak Haji Tohir, katanya sore ini mau pulang dan meminta adiknya menjemputnya di terminal, makanya si bungsu pergi menjemput ke terminal”, ujar istrinya. Haji Tohir merupakan tetangga sebelah rumah mereka, Si Sulung sering nelpon kedia bila ada sesuatu atau sekedar menanyakan kabar orang tuanya, maklum mereka tidak punya telpon dirumahnya. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara sepeda motor memasuki pekarangan rumah, “Assalamualaikum”, teriak si Sulung dan adiknya datang, “Waalaikumsalam”, lelaki itu dan istrinya berjalan ke halaman rumah, Si Sulung terlihat memikul sebuah tas ransel dipunggungnya dan langsung menghampiri orang tuanya, dia meraih dan mencium tangan mereka. “Kenapa tiba-tiba pulang nak?”, tanya lelaki itu kepada anaknya setengah penasaran, “Alhamdulillah Bapak, Ibu, saya sudah dinyatakan lulus skripsi, Insya Allah bulan depan diwisuda, dan saya juga sudah diterima bekerja di salah satu Perusahaan Swasta di Kota sana”, Lelaki itu dan Istrinya tidak kuasa menahan airmatanya, begitu pula dengan si Sulung, ”Alhamdulillah Ya Allah”, serempak Ia dan istrinya memeluk tubuh si Sulung, si Bungsu pun ikut memeluk kakanya. Suasa haru bercampur bahagia menyelimuti mereka.
Akhirnya doa-doa lelaki itu terjawab, dengan ketekunan, kesabaran, ketulusan dan kasih sayanngnya, walaupun hanya sebagai tukang penggali sumur, Allah membukakan jalan dan memberikan kebahagiaan kepadanya dan keluarganya. Kini lelaki itu bisa berbangga, anaknya yang Sulung sudah bekerja sehingga bisa membantu ekonomi keluarganya dan membiayai sekolah adiknya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, dia akan memberikan apapun kepada hamba-hambanya yang mau berusaha dan taat menjalankan perintahnya, memberikan hidayah kepada siapa saja yang di inginkannya. Kini kerja keras lelaki tua itu terbayar dengan keberhasilannya mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya dan tentunya tidak buta huruf seperti dirinya, selama ada kemauan dan Ridho Tuhan, Pasti ada jalan. SEKIAN.
MATARAM, 8 Januari 2010
No comments:
Post a Comment